Oleh: Talitha Athaya Salsabila
KALTIMPOST.ID, Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Berbagai aplikasi berbasis AI dapat membantu guru menyusun materi, membuat soal, merancang aktivitas belajar, hingga memberi ide untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa. Kehadiran teknologi ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran fleksibel, berpusat pada peserta didik, dan menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan setiap individu.
Namun, muncul pertanyaan penting: apakah AI benar-benar membantu guru, atau justru dapat membuat guru terlalu bergantung pada teknologi? Pertanyaan ini penting karena AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti peran guru. Guru tetap memiliki tanggung jawab untuk memahami karakter siswa, menentukan tujuan pembelajaran, memilih metode yang sesuai, serta membangun hubungan sosial dan emosional di dalam kelas.
AI dan Tantangan Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka memberi lebih banyak kesempatan kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan keadaan sekolah, karakter siswa, dan lingkungan sekitarnya. Guru tidak hanya diminta untuk menyampaikan materi, tetapi juga harus dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, relevan, dan berarti.
Dalam praktiknya, masih ada berbagai tantangan, seperti kurangnya pemahaman terhadap kurikulum, kesulitan dalam menyusun perangkat pembelajaran, kurangnya fasilitas, serta perbedaan kemampuan dalam menggunakan teknologi. Keberhasilan Kurikulum Merdeka tidak hanya bergantung pada perubahan dokumen kurikulum, tetapi juga pada kesiapan dan kemampuan guru.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa guru membutuhkan pelatihan, bimbingan, dan dukungan yang berkelanjutan agar dapat menerapkan Kurikulum Merdeka secara efektif. Guru juga perlu menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi nyata di sekolah, bukan hanya mengikuti contoh yang ada secara umum (Isma Wardani & Maryatul Kiptiyah, 2024; Fitriah et al., 2025; Priskila & Khotimah, 2025).
Dalam situasi tersebut, AI bisa menjadi alat yang membantu mengurangi beban kerja guru. Guru bisa memanfaatkannya untuk mencari ide kegiatan belajar, menyusun rancangan awal pembelajaran, membuat variasi soal, merangkum materi, atau mengembangkan bahan ajar yang lebih menarik. AI juga dapat memberikan alternatif pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa.
Contohnya, ketika guru ingin mengajarkan materi tentang lingkungan, AI dapat memberikan beberapa ide proyek sederhana. Guru kemudian memilih dan menyesuaikan ide tersebut dengan usia siswa, fasilitas sekolah, dan kondisi lingkungan sekitar. Dengan demikian, AI membantu mempercepat proses perencanaan, sedangkan keputusan akhir tetap ada di tangan guru.
Ketika AI Mulai Menimbulkan Ketergantungan
Meskipun dapat membantu pekerjaan guru, penggunaan AI juga memiliki risiko apabila dilakukan secara berlebihan. Salah satu masalah yang mungkin muncul adalah ketika guru langsung menggunakan hasil AI tanpa memeriksa kebenaran, kesesuaian, dan kualitasnya. AI dapat menghasilkan informasi yang terlihat meyakinkan, tetapi belum tentu benar atau sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
Ketergantungan dapat terjadi ketika guru selalu meminta AI menyusun seluruh perangkat pembelajaran, mulai dari rencana pembelajaran, bahan ajar, soal, rubrik penilaian, hingga kegiatan refleksi. Jika hasil tersebut hanya disalin tanpa penyesuaian, guru berisiko kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritisnya sendiri.
Padahal, Kurikulum Merdeka memberikan ruang kepada guru untuk mengembangkan pembelajaran berdasarkan karakter siswa, kondisi sekolah, serta lingkungan sekitar. Materi atau aktivitas yang dibuat oleh AI belum tentu sesuai dengan keadaan setiap kelas. Oleh karena itu, guru tetap perlu menilai dan menyesuaikan hasil AI sebelum menggunakannya.
Selain itu, AI tidak selalu mampu memahami kondisi emosional siswa, hubungan sosial di dalam kelas, budaya lokal, maupun permasalahan pribadi yang dialami peserta didik. Hal-hal tersebut membutuhkan kepekaan, pengalaman, dan pertimbangan manusia. Dengan demikian, AI sebaiknya digunakan sebagai sumber ide dan alat bantu, bukan sebagai pihak yang mengambil seluruh keputusan pembelajaran.
Guru Tetap Menjadi Pengarah Pembelajaran
Guru tetap memiliki peran utama dalam menentukan tujuan pembelajaran, memilih metode yang sesuai, memeriksa informasi, serta menilai perkembangan peserta didik. Penggunaan AI harus didasarkan pada kebutuhan pembelajaran, bukan hanya karena teknologi tersebut sedang populer.
Tidak semua kegiatan belajar harus menggunakan AI. Beberapa materi justru lebih efektif disampaikan melalui diskusi, praktik langsung, eksperimen, permainan, observasi lingkungan, atau interaksi antarsiswa. Guru perlu memilih teknologi secara bijak agar penggunaan AI benar-benar memberikan manfaat bagi proses belajar.
Penggunaan AI juga harus memperhatikan etika dan keamanan data. Guru tidak boleh memasukkan informasi pribadi, nilai, identitas, atau kondisi keluarga siswa ke dalam aplikasi AI secara sembarangan. Sekolah juga perlu memberikan panduan agar guru dan peserta didik dapat menggunakan AI secara aman, jujur, dan bertanggung jawab.
Peserta didik juga perlu dibekali literasi AI. Mereka harus memahami bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak. Siswa perlu belajar memeriksa informasi, membandingkan sumber, memahami keterbatasan teknologi, serta menggunakan AI tanpa menghilangkan proses berpikir dan kreativitasnya.
Karena itu, pelatihan bagi guru tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan aplikasi atau membuat perintah kepada AI. Guru juga perlu memahami cara memeriksa fakta, mengenali kemungkinan bias, melindungi data pribadi, dan menyesuaikan hasil AI dengan kebutuhan peserta didik.
Pada akhirnya, AI dapat membantu guru bekerja lebih cepat dan menyediakan berbagai alternatif pembelajaran. Namun, guru tetap harus menjadi pengarah utama dalam proses pendidikan. AI bukan pengganti guru, melainkan alat bantu yang dapat memperkuat kompetensi dan kreativitas guru.
Kurikulum Merdeka membutuhkan guru yang merdeka dalam berpikir dan bertindak. Kebebasan tersebut tidak boleh digantikan oleh ketergantungan terhadap teknologi. AI seharusnya membantu guru menjadi lebih efektif, bukan membuat guru kehilangan kemampuan untuk mengajar secara mandiri. (*)
Editor : Almasrifah