BALIKPAPAN – Antrean panjang di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) serta terbatasnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Indonesia Timur, termasuk Kalimantan dan Sulawesi, mulai memberi tekanan terhadap mobilitas masyarakat.
Situasi tersebut bukan sekadar membuat waktu perjalanan bertambah. Bagi masyarakat yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk bekerja, menjalankan usaha maupun aktivitas keluarga, antrean BBM turut menyita waktu produktif dan meningkatkan kebutuhan untuk mengatur ulang mobilitas sehari-hari.
Kondisi ini sekaligus mendorong perhatian terhadap efisiensi konsumsi energi. Ketika ketersediaan BBM konvensional menghadapi ketidakpastian, kendaraan dengan teknologi elektrifikasi mulai dipandang sebagai salah satu opsi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pengisian BBM secara rutin.
Operation General Manager Haka Auto East Area, Lucky Ismail Hariyanto, mengatakan pihaknya memahami beban yang dirasakan masyarakat akibat kondisi tersebut, khususnya di Kalimantan dan Sulawesi.
“Waktu dan energi yang terbuang saat harus mengantre BBM tentu menjadi beban tersendiri bagi aktivitas harian. Situasi ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya transisi menuju opsi transportasi yang lebih efisien,” ujarnya.
Menurut Lucky, kondisi pasokan BBM menjadi salah satu momentum untuk melihat kembali pola mobilitas masyarakat. Efisiensi kendaraan, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan penghematan biaya, tetapi juga bagaimana kendaraan mampu menunjang aktivitas masyarakat ketika menghadapi dinamika pasokan energi.
Dalam konteks tersebut, Haka Auto menawarkan BYD M6 DM dengan teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) berkonsep Electric-First.
Teknologi tersebut memadukan motor listrik sebagai penggerak utama dengan mesin bensin yang dirancang untuk efisiensi. Berdasarkan klaim yang disampaikan Haka Auto, BYD M6 DM mampu mencapai konsumsi hingga 1 liter untuk 65 kilometer dalam kondisi pengujian tertentu.
Efisiensi tersebut diklaim dapat mengurangi frekuensi pengisian BBM dibandingkan kendaraan konvensional, sehingga pengguna memiliki alternatif mobilitas ketika menghadapi situasi antrean maupun keterbatasan pasokan.
“Kami berupaya hadir tidak sekadar menawarkan unit kendaraan, melainkan memberikan solusi mobilitas jangka panjang. Kami berharap inovasi efisiensi yang ditawarkan BYD M6 DM dapat membantu meringankan beban mobilitas harian masyarakat serta memberikan ketenangan dalam berkendara tanpa perlu terikat oleh rasa khawatir akan ketersediaan pasokan BBM,” kata Lucky.
Sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi di Kalimantan Timur, Balikpapan memiliki kebutuhan mobilitas yang tinggi. Aktivitas industri, perdagangan, jasa dan perkantoran membuat kendaraan menjadi bagian penting dari aktivitas masyarakat setiap hari.
Di tengah kondisi antrean BBM, waktu yang seharusnya digunakan untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas usaha dapat tersita di SPBU.
Bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi, persoalan tersebut menjadi semakin relevan karena kebutuhan kendaraan bukan hanya soal jarak tempuh, tetapi juga kepastian waktu perjalanan dan efisiensi biaya operasional.
Branch Manager BYD Haka Balikpapan, Ibadur Rohman, menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk mempertimbangkan teknologi kendaraan yang lebih efisien.
“Masyarakat Balikpapan memiliki ritme kerja dan mobilitas yang sangat dinamis. Kami sangat memahami betapa melelahkannya ketika setelah seharian bekerja atau di tengah urusan keluarga, warga masih harus memikirkan waktu serta skema pembatasan jam untuk mengisi BBM,” katanya.
Menurut Ibadur, kehadiran teknologi PHEV seperti BYD M6 DM memberikan pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan kendaraan dengan fleksibilitas penggunaan motor listrik sekaligus mesin konvensional.
“Teknologi seperti BYD M6 DM—dengan konsumsi yang sangat efisien hingga 65 km per liter—diharapkan bisa menjadi salah satu pertimbangan bijak bagi masyarakat Balikpapan yang merindukan kepraktisan dan kenyamanan berkendara di tengah dinamika kota saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, transisi energi pada sektor transportasi semestinya tidak hanya dilihat sebagai perubahan teknologi kendaraan, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan pilihan mobilitas yang lebih efisien bagi masyarakat.
Sejalan dengan tren elektrifikasi kendaraan, Haka Auto menyatakan terus memperkuat pilihan kendaraan terelektrifikasi bagi masyarakat di kawasan Indonesia Timur.
Jaringan Haka Auto di antaranya mencakup Balikpapan, Banjarmasin dan Samarinda untuk wilayah Kalimantan. Selain BYD M6 DM, Haka Auto juga menawarkan kendaraan listrik seperti BYD Atto 1 dan BYD M6 EV.
Perusahaan juga menekankan kesiapan layanan purna jual sebagai bagian dari ekosistem kendaraan terelektrifikasi. Bagi konsumen, keberadaan jaringan layanan menjadi faktor penting dalam menentukan keputusan beralih dari kendaraan konvensional.
Lucky mengatakan tantangan pasokan energi saat ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat pilihan transportasi yang lebih efisien.
“Tantangan energi yang kita hadapi saat ini merupakan momen penting bagi kita untuk bergerak menuju solusi transportasi yang lebih cerdas. Haka Auto berkomitmen untuk terus berada di garda terdepan dalam mendampingi masyarakat Indonesia Timur termasuk Balikpapan melakukan transisi ini,” katanya.
Ia menilai efisiensi kendaraan pada akhirnya bukan hanya berkaitan dengan konsumsi BBM, tetapi juga waktu dan biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
“Kami percaya bahwa dengan efisiensi yang ditawarkan oleh BYD M6 DM, kita tidak hanya menghemat waktu dan biaya harian, tetapi juga bersama-sama melangkah menuju ekosistem mobilitas yang lebih nyaman, mandiri, dan berkelanjutan untuk masa depan,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani