Dosen PG-PAUD UM Lolos Pendanaan BIMA, Kembangkan Model ICT untuk Guru PAUD Islam

Maria Irham • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 18:41 WIB
BERPRESTASI: Merlina MPd, dosen Program Studi PG-PAUD Universitas Mulia raih pendanaan dari Kemdiktisaintek RI untuk penelitian selama satu tahun.
BERPRESTASI: Merlina MPd, dosen Program Studi PG-PAUD Universitas Mulia raih pendanaan dari Kemdiktisaintek RI untuk penelitian selama satu tahun.

BALIKPAPAN- Dosen Program Studi PG-PAUD Universitas Mulia, Merlina MPd berhasil memperoleh pendanaan penelitian dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI melalui program BIMA untuk mengembangkan Model Konseptual Pemanfaatan ICT dalam Penguatan Kompetensi Guru PAUD Islam Berbasis Pendekatan Konstruktivisme Sosial.

Pada skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) Program Penelitian Batch II Tahun 2026 tersebut, Merlina memperoleh bantuan pendanaan untuk penelitian selama satu tahun.

Keberhasilan tersebut tidak berhenti pada capaian pendanaan. Penelitian yang digagas Merlina berangkat dari persoalan yang ia temukan selama berinteraksi dengan guru-guru PAUD Islam.

Yakni adanya jarak antara lingkungan digital yang akrab dengan kehidupan anak dan praktik pembelajaran yang masih banyak berlangsung secara klasikal.

“Banyak dari mereka masih mengajar dengan cara klasikal, sementara anak-anak sekarang tumbuh dikelilingi teknologi sejak lahir. Ada jarak yang lebar antara dunia anak dan cara guru mengajar,” ujar Merlina.

Pengalaman tersebut memiliki kaitan langsung dengan latar belakang Merlina sebelum menjadi dosen. Ia pernah menjalani peran sebagai guru sekaligus kepala sekolah PAUD Islam selama delapan tahun. Ketika kemudian mengajar di Program Studi PG-PAUD Universitas Mulia, pengalaman tersebut menjadi pijakan dalam melihat persoalan pemanfaatan teknologi bukan semata dari sisi kemampuan teknis guru, tetapi dari sisi pedagogis.

Menurut Merlina, sebagian guru PAUD saat ini sudah mampu menggunakan perangkat seperti smartphone dan laptop. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam pembelajaran yang berpusat pada anak.

“Persoalannya ada di kemampuan mengintegrasikan ICT ke dalam pembelajaran, supaya teknologi jadi alat untuk membangun interaksi sosial dan berpikir anak, bukan sekadar pengganti papan tulis atau hiburan pengisi waktu,” jelasnya. (*)

Editor : Ismet Rifani
Merlina MPd Lolos Pendanaan BIMA Universitas Mulia Balikpapan