BALIKPAPAN — Penanganan dan pencegahan risiko penyakit kanker di Balikpapan kini makin memasifkan peran sektor pendidikan serta generasi muda. Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mendorong para mahasiswa untuk memelopori pola hidup bersih dan sehat sekaligus menjadi perpanjangan tangan dalam menyebarkan kesadaran pencegahan kanker di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Alwiati menegaskan bahwa mahasiswa memegang posisi vital sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan publik. Pemahaman mendalam seputar risiko kanker sebaiknya ditanamkan sejak dini tanpa perlu menunggu munculnya gejala fisik.
"Mahasiswa itu agen perubahan. Kita sangat berharap anak-anak muda ini bisa memberi contoh nyata dalam mempraktikkan gaya hidup sehat, sekaligus aktif mengampanyekan gerakan tanpa rokok," tutur Alwiati, Kamis (8/10).
Alwiati menekankan bahwa perubahan gaya hidup merupakan benteng utama dalam meredam potensi kanker. Salah satu pemicu utama yang mesti ditekan adalah kebiasaan merokok. Oleh sebab itu, institusi pendidikan seperti perguruan tinggi dinilai perlu menjadi garda terdepan dalam membumikan kebiasaan sehat tersebut.
Langkah ini selaras dengan penguatan penegakan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di wilayah Balikpapan. Pemkot berkomitmen mempererat sinergi bersama akademisi, mahasiswa, elemen masyarakat, hingga insan pers agar regulasi KTR tidak sekadar berakhir di atas kertas, tetapi benar-benar dipatuhi. Penindakan tegas juga siap diberlakukan bagi pihak yang terbukti melanggar aturan KTR.
Di samping pendekatan edukatif dan perubahan perilaku, upaya preventif medis juga terus berjalan secara intensif. Salah satu program prioritas yang tengah digencarkan adalah pemberian vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) bagi murid sekolah dasar demi mencegah risiko kanker serviks.
"Khusus pencegahan kanker serviks, kami gencar melangsungkan vaksinasi HPV untuk siswa SD. Secara keseluruhan, program vaksinasi terus dipacu sebagai bagian integral dari sistem perlindungan kesehatan warga," jelas Alwiati.
Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan medis secara berkala. Sebab, sel kanker sering kali tumbuh dan berkembang pada tahap awal tanpa menunjukkan gejala klinis yang kasatmata. Warga diimbau untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas kesehatan primer, termasuk program pemeriksaan kesehatan gratis di puskesmas terdekat.
Masyarakat diharapkan tidak perlu cemas atau takut menghadapi proses deteksi dini. Khusus pencegahan kanker serviks, prosedur penapisan kini dapat dilakukan melalui metode tes HPV DNA maupun teknik pemeriksaan relevan lainnya. Perempuan juga diimbau untuk lebih peka mendeteksi perubahan fisik pada tubuh dan tidak menunda berkonsultasi ke tenaga medis jika menemukan indikasi yang janggal.
Menurutnya, penanggulangan kanker menuntut kolaborasi lintas sektor yang padu. Pemerintah berfokus menyediakan fasilitas intervensi medis, sementara masyarakat berkontribusi lewat pilihan gaya hidup sehat serta kesadaran rutin memeriksakan diri.
"Mahasiswa jangan cuma jadi pendengar pasif. Kalian adalah corong pemerintah untuk menyuarakan kampanye pencegahan kanker ini. Jadilah teladan dalam menerapkan pola hidup sehat di lingkungan kampus maupun tempat tinggal," pungkas Alwiati. (*)
Editor : Ismet Rifani