ITK Dampingi Warga Mentari Village Olah Sampah Organik Jadi Eco-Enzyme

Ajie Chandra • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 19:52 WIB

 

BAGI ILMU: Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mendampingi warga Mentari Village mengolah sisa buah dan sayuran menjadi eco-enzyme melalui penerapan sistem refill station.
BAGI ILMU: Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mendampingi warga Mentari Village mengolah sisa buah dan sayuran menjadi eco-enzyme melalui penerapan sistem refill station.  

BALIKPAPAN – Sampah organik rumah tangga berpotensi menjadi produk bernilai guna sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi hijau di tingkat lokal. Melihat potensi tersebut, tim dosen dan mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mendampingi warga Mentari Village mengolah sisa buah dan sayuran menjadi eco-enzyme melalui penerapan sistem refill station.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat ITK dipimpin Isti Kamila, dengan anggota Elizabeth D.C. Sidabutar, Muhammad Azka, Anis Kamal, Dita Dara Aulia, Ibnu A Ifanialdy, Ellysa Fabriani, Amanda A.T. Dewi, Cindy A.K. Oey, Hezlan I Rahman, Fransiska Kolo, Ahmad Tijani Nur, Dini F. Br. Kacaribu, Selvia A. Putri, dan Fahmi Badillah.

Dalam pelaksanaannya, tim tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengolahan sampah organik, tetapi juga mendampingi warga secara langsung agar mampu menerapkan proses produksi eco-enzyme secara mandiri dan berkelanjutan.Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat ITK, Isti Kamila, mengatakan program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah organik sekaligus mendorong pemanfaatannya menjadi produk yang bermanfaat.

Melalui pendampingan tersebut, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga dibekali keterampilan untuk mengolah sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan.

Program ini mengedepankan pendekatan langsung kepada masyarakat, mulai dari penyediaan fasilitas fermentasi, pelatihan pembuatan eco-enzyme, hingga pemantauan kualitas produk selama proses pematangan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyerahan reaktor fermentasi eco-enzyme kepada perwakilan warga Mentari Village. Fasilitas ini dirancang untuk menunjang pengolahan sampah organik dapur, seperti sisa buah dan sayuran, melalui proses fermentasi yang lebih terstruktur.

Selanjutnya, tim ITK menggelar sosialisasi dan pelatihan pembuatan eco-enzyme. Warga mendapatkan pemahaman mengenai pemilihan bahan baku, takaran bahan, serta tahapan fermentasi yang perlu diperhatikan agar proses pengolahan berjalan optimal.

Tim juga memperkenalkan konsep refill station untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Melalui sistem pengisian ulang, masyarakat diharapkan dapat menggunakan kembali wadah produk sehingga kebutuhan kemasan baru dapat ditekan.

PANTAU TIGA BULAN

Untuk memastikan proses pengolahan berjalan dengan baik, tim dosen dan mahasiswa ITK melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala selama masa fermentasi sekitar tiga bulan.

Pemantauan meliputi pemeriksaan kondisi reaktor, pengamatan aroma, pengukuran tingkat keasaman atau pH, serta penanganan kendala yang dihadapi warga selama proses pematangan.

Pendampingan ini menjadi bagian penting agar masyarakat tidak hanya mampu mengikuti pelatihan, tetapi juga memahami proses produksi dan dapat melanjutkannya secara mandiri.

DORONG EKONOMI HIJAU

Melalui program ini, warga Mentari Village diharapkan mampu mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Di sisi lain, produk eco-enzyme berpotensi membantu menghemat pengeluaran rumah tangga apabila dimanfaatkan sesuai peruntukannya.

Penerapan sistem refill station juga diharapkan membangun kebiasaan penggunaan ulang wadah dan mengurangi timbulan sampah plastik.

Dalam jangka panjang, pengolahan sampah organik secara berkelanjutan dapat menjadi salah satu pintu masuk pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat. Meski demikian, pengembangan nilai ekonomi produk tetap memerlukan konsistensi produksi, pengendalian mutu, serta pengelolaan distribusi yang baik.

Program ini mendapat dukungan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITK serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, melalui Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan menghubungkan pengetahuan akademik dan kebutuhan nyata warga.

Melalui kolaborasi ini, ITK berharap pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga mampu membangun kebiasaan ramah lingkungan yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat. (*)

Editor : Ismet Rifani
Warga Mentari Village sampah jadi Eco-Enzyme ITK Balikpapan