BALIKPAPAN–Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengamini adanya kenaikan harga sejumlah bahan pokok (bapok). Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengaku akan menelusuri penyebabnya. Selain beras, harga bahan pokok seperti cabai hingga telur memang terpantau melonjak tajam.
”Nanti kita lihat apa sebabnya (harga telur naik), memang harga pakan jagung naik. Kalau itu terus berlanjut, seperti yang lalu, harga jagung disubsidi Rp 1.000 per kilogram, sehingga bisa mendapat pakannya, sehingga bisa kembali lagi harganya,” ujar Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan diwawancarai saat mendampingi kunjungan kerja Presiden Joko Widodo di IKN, Jumat (1/3) lalu.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Isy Karim sempat mengatakan bahwa kenaikan harga cabai terjadi lantaran adanya gangguan produksi di beberapa wilayah akibat perubahan iklim. ”Kenaikan harga disinyalir karena adanya gangguan produksi di beberapa wilayah sentra produksi,” ujar Isy. Dia berharap gangguan produksi tidak berlangsung lama, sehingga pasokan cabai akan kembali terpenuhi dan terkendali memasuki periode Ramadan hingga Lebaran 2024.
“Apabila tidak terjadi gangguan panen, maka diprediksi pasokan akan dapat terpenuhi dan harga dapat terkendali pada periode puasa sampai Lebaran,” bebernya. Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengamini bahwa kondisi di lapangan, kenaikan harga bahan pokok tidak hanya terkonsentrasi pada komoditas beras, tapi juga cabai merah hingga minyak goreng.
Reynaldi juga mencatat kenaikan harga ayam ras juga sudah mulai terjadi di sejumlah daerah karena tingginya permintaan pasar. ”Hal ini sejalan dengan situasi Indonesia yang akan memasuki bulan suci Ramadan,” ujar Reynaldi. Reynaldi menambahkan, ketidakstabilan pasokan ditambah dengan harga yang tinggi membuat pedagang mengalami penurunan omzet. ”Perhitungan kami keuntungan pedagang sudah turun 45 sampai 50 persen dampak kenaikan harga,” imbuhnya.
Sebetulnya, dari data Early Warning System (EWS) yang dikelola Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), ketersediaan aneka cabai di Februari ini dinilai aman. Produksi cabai rawit utama yang berasal dari Kabupaten Malang diprediksi 15.233 ton, di Temanggung 7.200 ton, dan di Garut 6.950 ton.
Kemudian, untuk komoditas cabai besar, produksi utamanya berasal dari Kabupaten Sleman sebanyak 17.028 ton, Garut 9.466 ton, dan Bandung 3.795 ton. Karena itu, Direktorat Jenderal Hortikultura optimistis pasokan cabai untuk tahun 2024 bakal tercukupi dan pasokan aman menjelang Hari Besar Keagamaan Negara (HBKN) kali ini.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Andi Muhammad Idil Fitri mengungkapkan, pihaknya bersama petani champion memastikan telah mengamankan pasokan cabai, khususnya menjelang Ramadan. Menurutnya, dengan kondisi pertanaman cabai mulai banyak di wilayah sentra, masyarakat tidak perlu khawatir tentang ketersediaan cabai.
”Karena banyak petani yang sudah mulai menanam cabai, tentunya kebutuhan cabai di masa Ramadan dan Idulfitri kita prediksikan aman. Kami juga memiliki champion cabai yang selalu siap siaga dengan stok di lapangan dan tentunya siap terlibat aktif untuk penanganan stok cabai,” tuturnya. Meski begitu, pihaknya tetap menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi kenaikan harga yang biasa terjadi jelang Ramadan dan Idulfitri.
Salah satunya melalui kebijakan pengamanan buffer stock atau penggunaan skema dengan tujuan menstabilkan harga di pasar yang fluktuatif. ”Pengamanan buffer stock dilakukan melalui pengamanan panen di sentra produksi melalui skema kemitraan dengan petani champion,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro Atmojo mengungkapkan, strategi pemerintah dalam menggerakkan para champion dalam menjaga pasokan cabai saat ini cukup efektif.
Dia menilai, dengan koordinasi dan kerja sama yang kuat antara pemerintah dan mitra binaan, semua bisa dikelola dan dirancang dengan baik. ”Utamanya dalam pengamanan pasokan jelang HBKN. Jelang Ramadan kali ini pun kami siap terlibat aktif dalam penyediaan produk cabai untuk masyarakat,” ungkapnya. Kenaikan harga pangan ini akan berdampak pada daya beli masyarakat. Sebab, harga yang terlalu tinggi, otomatis daya beli akan turun.
Kemudian, dalam jangka panjang, jumlah orang miskin di Indonesia bisa terancam meningkat karena kondisi ini membuat masyarakat mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan barang yang sama. Pemerintah berusaha mengatasi kondisi ini dengan berbagai cara. Salah satunya, menyalurkan bantuan sosial (bansos) cadangan pangan pemerintah. (agf/mia/jpg/riz/k16)
Editor : Muhammad Rizki