Sejak peristiwa kebakaran di RT 09 dan 10 Kelurahan Klandasan Ulu, Balikpapan Kota, Senin (18/3) lalu, para korban kini banyak menjalani ibadah puasa di tenda pengungsian sementara.
M RIDHUAN, Balikpapan
mad.dhuan@gmail.com
MUSRI menjadi satu di antara 263 jiwa korban kebakaran yang terjadi di RT 09 dan 10 Kelurahan Klandasan Ulu, Balikpapan Kota, Senin (18/3) lalu. Perempuan warga RT 09 tersebut menjadi saksi keganasan si jago merah yang melalap permukiman padat penduduk di pinggir pantai tersebut.
“Saya mau sikat gigi, ambil air wudu, mau salat Subuh. Pas melihat keluar, ada api besar. Saya sama anak saya langsung panik lari. Bapak (suami) soalnya sudah berangkat ke pasar,” ungkap Musri mengingat kembali peristiwa yang terjadi sekira pukul 05.00 Wita tersebut, Rabu (20/3).
Musri, seperti kebanyakan korban lainnya pun tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Musri dan anaknya mengaku hanya bisa menyelamatkan pakaian yang melekat di tubuhnya. Sejak itu, dirinya dan keluarga pun tinggal di posko pengungsian sementara. Tempatnya tidak jauh dari lokasi kebakaran di samping kantor Kecamatan Balikpapan Kota.
“Hari pertama (di posko) kami harus menghadapi hujan deras dan angin kencang. Tenda kami kebanjiran. Kami pun harus memegang tenda agar tidak terbang terbawa angin,” ujarnya.
Terjadi di tengah Ramadan, Musri dan korban kebakaran lain akhirnya menjalani ibadah puasa di tenda pengungsian. Menurutnya, hidup dan berpuasa di tengah kondisi saat ini serba terbatas. Namun, meski telah kehilangan tempat tinggal, dirinya dan keluarga tidak kekurangan dari sisi makanan dan pakaian.
“Makanan sangat melimpah di sini. Bantuan pakaian juga banyak. Tapi tetap kami memerlukan bantuan. Meski pakaian banyak, namun kami kekurangan pakaian dalam. Untuk anak-anak juga seperti popok dan susu. Termasuk kalau bisa uang tunai untuk kami belanja,” jelasnya. Di sisi lain, untuk kaum ibu, juga memerlukan alat untuk memasak. Karena terbatasnya pilihan makanan dan menu berbuka puasa bisa membuat korban bosan.
Sore kemarin, jelang berbuka tampak bantuan makanan sudah tersaji di posko petugas. Para korban pun antre mengambil makanan untuk berbuka. Ada dua kotak. Satu berisi makanan ringan lengkap dengan teh kotak. Sementara makanan utama terdiri dari nasi dengan lauk ayam kecap dan sayur. Tetapi beberapa korban tampak memilih membeli makanan tambahan dari luar. Seperti kue basah dan minuman kemasan.
“Kalau salat ada tempat sementara. Sebagian salat di masjid di Kodim. Mandi dan kebutuhan lain juga lengkap. Kami di sini saling menghibur satu sama lain. Jadi ya begini sampai kami dapat bantuan untuk tempat tinggal,” ungkapnya.
Adapun dari pantauan Kaltim Post, Musala Al-Hikmah yang biasa digunakan masyarakat ikut terdampak. Kondisinya hangus di sebagian kecil sisi bangunan. Tampak pula Al-Qur’an dan buku agama lain ditumpuk di depan musala.
Kaltim Post lantas menemui salah seorang petugas posko dari kantor Kelurahan Klandasan Ulu. Nurul, salah seorang staf, menyebut bahwa hingga Rabu (20/3) sore telah terkumpul donasi Rp 154.915.000. Termasuk bantuan sembako. Berasal dari masyarakat, organisasi, dan instansi. Bantuan ini akan diberikan kepada korban menunggu validasi dan verifikasi data korban yang terdampak.
“Rencananya besok (hari ini) kami pastikan data korbannya. Untuk posko ini sendiri berlangsung selama tujuh hari. Dan kami minta maaf untuk sementara bantuan pakaian tidak lagi diperlukan. Tetapi yang lebih diperlukan itu uang tunai, pakaian dalam, susu, popok, dan alat masak. Karena setelah dari posko ini, korban akan mencari tempat tinggal,” ucap Nurul.
Diberitakan sebelumnya, kebakaran besar melanda permukiman padat penduduk di Balikpapan, Senin (18/3). Tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, RT 09 dan RT 10 Kelurahan Klandasan Ulu, Kecamatan Balikpapan Kota. Api melalap puluhan bangunan sekira pukul 05.00 Wita. Ketika sebagian besar warga khususnya muslim baru saja melaksanakan sahur dan bersiap salat Subuh.
Dari perkiraan sementara, kerugian materi yang ditimbulkan mencapai ratusan juta rupiah. Polresta Balikpapan saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait penyebab pasti kebakaran ini. Adapun dampak kebakaran begitu besar. Data dari Kecamatan Balikpapan Kota, sedikitnya 96 rumah terdampak, 46 di antaranya rusak berat. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Pemkot Balikpapan pun mendirikan 15 tenda yang dapat menampung seluruh warga terdampak. Serta tersedia pula kamar mandi. Begitu juga fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah disiapkan, baik dari Puskesmas Klandasan Ulu maupun dari Kedokteran Kepolisian (Dokkes) Polresta Balikpapan. Sementara itu, warga sekitar turut membantu menyediakan kebutuhan warga terdampak.
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud yang datang ke lokasi kebakaran menjelaskan, untuk meringankan beban korban, pemkot menjamin pembayaran uang sewa rumah warga korban kebakaran selama satu tahun. Selain itu, pemkot menanggung kebutuhan rumah tangga yang mendesak dan anak warga korban kebakaran yang masih sekolah. Mulai seragam hingga peralatan belajar lainnya. "Dananya diambil dari biaya tidak terduga," ujar Rahmad. (dwi/k16)
Editor : Muhammad Rizki