KALTIMPOST.ID, Diberitakan sebelumnya, dua korban kecubung meninggal dunia merupakan warga Banjarmasin.
Korban lainnya yang semaput terindikasi kecanduan kecubung berasal dari berbagai daerah seperti Banjarmasin, Batola, Kabupaten Banjar, Banjarbaru, Daha, dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Kedua korban sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum karena overdosis, namun nyawanya tak tertolong.
Jumlah pasien yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum akibat kecanduan kecubung terus bertambah. Awalnya, dugaan keracunan tanaman kecubung, ada 28 remaja dirawat, Rabu (10/7).
Data terbaru, jumlah pasien bertambah menjadi 42 orang. Kondisi mereka berbeda-beda saat diantar beberapa ambulans, mulai tak sadarkan diri, mabuk dan bicara sendiri.
Kepala Humas dan Informasi RSJ Sambang Lihum, Budi Harmanto, membenarkan hal tersebut saat dihubungi pada Rabu (10/7/2024) sore.
“Iya, benar. Saat ini ada 42 orang yang sedang dirawat karena kecanduan kecubung, termasuk tujuh di antaranya rawat jalan,” ujar Harmanto.
Menurut keterangan saksi, mereka berkumpul dengan beberapa remaja lainnya. Mereka mencoba mengoplos buah kecubung dengan obat-obatan dan alkohol.
Harga narkoba yang relatif lebih mahal membuat mereka untuk iseng untuk mengoplos kecubung, apalagi kecubung mudah diperoleh karena merupakan tanaman yang tumbuh liar.
Mereka ingin merasakan yang namanya mabuk kecubung dan mendapatkan efek halusinasi.
Tanaman kecubung menyimpan bahaya yang tak terduga jika disalahgunakan. Zat-zat alkaloidnya yang kuat dapat berakibat fatal jika tidak digunakan dengan tepat dan hati-hati, dampak yang dapat terjadi, yaitu:
Gejala keracunan buah kecubung yang dapat terlihat pada fisik, berupa mulut kering, penglihatan kabur, pupil melebar (midriasis), denyut jantung cepat (takikardia), demam, kemerahan pada kulit, retensi urine, dan kesulitan menelan.
Penggunaan jangka panjang buah kecubung dapat menyebabkan gangguan mental serius, seperti halusinasi yang mengerikan, kebingungan, bicara ngelantur, agitasi (gelisah), kejang, kelumpuhan, koma, kehilangan ingatan jangka pendek dan bahkan kematian.
Kecubung sebenarnya mengandung berbagai nutrisi penting, seperti karbohidrat, lemak, protein, serat, serta tanin dan flavonoid yang bersifat antioksidan. Karena kandungannya itu sehingga dapat dijadikan sebagai obat alternatif.
Buah kecubung dipercaya dapat dijadikan sebagai pereda nyeri alami, mengobati asma, bronkitis, atau batuk membandel, melawan infeksi dan meredakan rasa tidak nyaman akibat demam.
Kepala Kepolisian Resort Kota Banjarmasin, Kombes Cuncun Kurniadi mengaku telah mengetahui kabar tewasnya dua warga setelah mengonsumsi kecubung tersebut.
Cuncun berharap dan mengimbau kepada masyarakat serta orang tua, untuk mengingatkan anak-anaknya agar menghindari dan tidak mencoba untuk mengonsumsi tanaman berbahaya ini.
"Hindari mengonsumsi tanaman kecubung yang tidak seharusnya dikonsumsi sembarangan. Jika tanaman itu dikonsumsi dapat berdampak menyebabkan gangguan mental sementara atau permanen," ujar Cuncun, Rabu (10/7). (*)
Editor : Dwi Puspitarini