Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Angkasa Jaya Djoerani mengatakan, upaya pemerintah untuk membenahi jalan pada dasarnya bagus untuk meningkatkan pelayanan publik. Namun, keterlambatan perbaikan tersebut dipandang perlu adanya evaluasi.
“Tapi yang mau dievaluasi ini yang mana. Walikota? atau organisasi perangkat daerah (OPD) terkait? atau lebih ke kontraktornya? Saya meragukan masalah ini ada pada OPD terkait, juga termasuk kontraktornya,” ucapnya kepada Kaltim Post, Selasa (23/7).
Dalam suatu pengerjaan proyek perbaikan jalan, maka ada mekanisme perencanaan. Mestinya, kata dia, di dalam perencanaan tersebut, pihak terkait dalam hal ini DPUPR atau kontraktor sudah bisa memperhitungkan material atau alat yang digunakan. Sehingga, hal-hal yang memungkinkan bisa menghambat proses perbaikan tersebut tidak dapat terjadi.
“Itu kalau ada perencanaannya. Tapi saya yakin perencanaan tersebut sudah ada, namun belum bagus. Pernah kami tanyakan beberapa kali, dan jawabannya alasan klasik. Yakni, keterlambatan bahan,” sambungnya.
Ditambahkan Angkasa, sekali lagi bahwa program pemerintah memiliki tujuan yang bagus. Namun jika tidak disokong OPD yang kurang bagus, maka hasilnya tak sesuai ekspektasi atau target. Sehingga, Angkasa melanjutkan, keterlambatan itu bisa menggangu arus lalu lintas. Pun warga terdampak atas keterlambatan tersebut.
“Jadi kalau begini pelayanan publik terkesan kurang baik. Dan warga yang terkena getahnya, padahal proses pengerjaan itu kan sudah di rencanakan sedemikian rupa, ada kalkulasi yang jelas dalam pengerjaan tersebut,” tuturnya.
Selain dari masalah perbaikan jalan di Jembatan Achmad Amins, Angkasa juga mengingatkan kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda untuk memperhatikan lalu lintas di kawasan Jembatan tersebut.
“Dulu beberapa waktu lalu informasinya ditutup, ternyata sistemnya buka tutup. Dan pada hari Minggu (21/7), saya kebetulan lewat jembatan tersebut. Untuk bisa melewati jembatan itu memakan waktu setengah jam.
Karena apa? Karena kemacetan terjadi. Ini bisa berisiko kalau tidak diperhatikan, dan berbahaya untuk pengguna jembatan tersebut,” timpal Angkasa. “Sebab, setahu saya jembatan itu tidak boleh terjadi kemacetan, dan risikonya besar karena daya beratnya tidak seperti sebelumnya,” tukasnya.
Editor : Uways Alqadrie