Tokoh yang lahir di Ketapang, Kalimantan Barat, ini meninggal di usia 84 tahun. Beliau disemayamkan di kediamannya di Matraman, Jakarta. Proses pemakaman almarhum akan dilaksanakan dengan upacara militer di Kawasan Bogor, Jawa Barat.
Perjalanan karier ayah 12 anak ini diawali dari setelah lulus Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Pontianak pada 1961. Wartawan adalah profesi pertama yang dipilih Wapres Ke 9 ini untuk memulai karir. Setahun meniti karir sebagai pewarta di Harian Bebas, Pontianak, Hamzah Haz sukses menjadi Pemimpin Umum Harian Berita Awau.
Tokoh kelahiran 15 Februari 1940 ini lantas melanjutkan pendidikannya di Akademi Koperasi Negara Yogyakarta. Semasa perkuliahan, Hamzah Haz aktif berorganisasi hingga menjabat ketua di Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalbar, Jogjakarta, dari tahun 1962 sampai 1965.
Pada tahun 1965, Hamzah Haz kembali ke Pontianak untuk bekerja lagi sebagai wartawan penuh waktu. Puncak karirnya dicapai saat usia 20-an tahun dipercaya sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Pontianak.
Bersamaan dengan pekerjaannya, Hamzah Haz meneruskan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura. Ia juga masih aktif berorganisasi hingga berhasil memimpin Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Kalbar dari 1965 hingga 1971.
Hamzah Haz juga menjabat Ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) Konsulat Pontianak dan diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat mewakili Partai Nahdlatul Ulama.
Berkat ini Hamzah Haz sukses terjun ke politik praktis usai terpilih menjadi anggota DPRD Kalimantan Barat mewakili Partai Nahdlatul Ulama.
Karier politik Hamzah Haz semakin cemerlang saat Partai Nahdlatul Ulama bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1971. Ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Kalbar dan menjadi Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PPP Kalbar hingga 1982. Hamzah lantas menjabat Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan di DPR selama dua periode, yaitu 1992-1997 dan 1997-1998. Ia juga menjabat ketua umum PPP pada tahun 1998.
Setelah reformasi 1998 yang merupakan akhir dari pemerintahan Orde Baru, Hamzah diangkat menjadi Menteri Negara Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.
Namun, pada 10 Mei 1999, Hamzah Haz mengundurkan diri karena mematuhi peraturan KPU yang melarang menteri berkampanye.
Selanjutnya, sebagai ketua umum partai Islam terbesar saat itu, Hamzah Haz memiliki kedekatan dengan tokoh NU, Abdurrahman Wahid. Dari kedekatan itu, ia dipercaya menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan di kabinet Presiden Abdurrahman Wahid.
Namun, hanya berselang 22 hari pasca pelantikan, Hamzah Haz kembali mengundurkan diri dari jabatan menteri dan memilih untuk berkonsentrasi di PPP.
Hamzah Haz baru memiliki jabatan di pemerintahan lagi setelah dicalonkan sebagai kandidat wakil presiden mendampingi Megawati yang baru naik jabatan menjadi presiden.
Saat proses pemilihan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Hamzah Haz sempat pesimis untuk menang. Pasalnya, ia harus bersaing dengan Akbar Tanjung, Susilo Bambang Yudhoyono, Agum Gumelar, dan Siswono Yudo Husodo, yang notabene adalah politikus top kala itu.
Memang sudah menjadi jalan takdir Hamzah Haz. Ia mendapat dukungan suara dari fraksi ABRI dan PDIP keluar sebagai yang tertinggi, 340 suara, mengungguli lawan terberatnya, Akbar Tandjung, yang memperoleh 237 suara.
Hamzah Haz pun resmi menjadi Wakil Presiden Indonesia Ke-9 mendampingi Presiden Megawati Soekarnoputri setelah dilantik pada 26 Juli 2001. Sepanjang menjalankan tugas, Hamzah Haz dikenal sebagai tokoh yang negarawan.
Editor : Almasrifah