KALTIMPOST.ID, Hujan lebat yang mengguyur selama beberapa hari terakhir telah memicu tanah longsor di negara bagian Kerala, India Selatan, pada hari Selasa (30/7/2024).
Peristiwa tragis ini telah merenggut sedikitnya 63 nyawa dan menyebabkan puluhan lainnya terjebak di bawah timbunan tanah dan puing-puing.
Kejadian ini terjadi di beberapa wilayah, termasuk Mundakkai, Attamala, Chooralmala, dan Kunhome, yang terkenal sebagai daerah rawan longsor selama musim hujan.
Menurut laporan dari BBC Hindi, Menteri Negara Bagian AK Saseendran menyatakan bahwa penilaian kerusakan baru bisa dilakukan setelah beberapa jam operasi penyelamatan.
Tim penyelamat telah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi dan pencarian korban. Operasi penyelamatan mengalami kendala akibat cuaca buruk dan akses yang sulit ke daerah yang terkena dampak.
Namun, upaya pencarian terus dilakukan dengan harapan dapat menemukan korban yang masih hidup.
Gubernur Kerala, Pinarayi Vijayan, menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban dan berjanji akan memberikan bantuan yang diperlukan kepada mereka yang terdampak.
"Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk membantu para korban dan memastikan mereka mendapatkan bantuan yang diperlukan secepatnya," ujar Vijayan dalam konferensi pers.
Badan Meteorologi India telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem untuk beberapa hari ke depan dan mengimbau warga untuk tetap waspada serta menghindari daerah-daerah yang rawan longsor.
Mereka juga menyarankan agar penduduk di daerah-daerah yang berisiko tinggi segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Baca Juga: Peluncuran GoPay Later di ShopTokopedia Diharapkan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Digital
Tanah longsor sering terjadi di Kerala selama musim hujan, yang biasanya berlangsung dari Juni hingga September.
Tahun ini, curah hujan yang tinggi telah menyebabkan sejumlah insiden tanah longsor di berbagai daerah di negara bagian tersebut, menambah beban bagi otoritas setempat yang sudah berjuang dengan dampak dari bencana sebelumnya.
Kerala, yang dikenal dengan keindahan alamnya dan juga disebut sebagai "God's Own Country," kini tengah berjuang menghadapi bencana alam yang menimbulkan kerusakan besar dan mengancam keselamatan warganya.
Para ahli lingkungan menyatakan bahwa deforestasi dan perubahan iklim mungkin berperan dalam meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam di wilayah tersebut.
Upaya bantuan kemanusiaan telah mulai mengalir ke Kerala dari berbagai penjuru negeri, dengan banyak organisasi non-pemerintah dan kelompok sukarelawan yang bergerak untuk membantu korban.
Bantuan berupa makanan, pakaian, dan perlengkapan medis sangat dibutuhkan di daerah-daerah yang terdampak.
Tragedi ini juga menarik perhatian nasional, dengan Wakil Presiden Jagdeep Singh Dhankar menyebutnya sebagai situasi yang sangat menyakitkan di parlemen India.
Perdana Menteri Narendra Modi, melalui akun X miliknya menyatakan telah berbicara dengan Kepala Menteri Kerala Pinarayi Vijayan dan menjamin bantuan dari pemerintah federal dalam upaya bantuan.
Modi juga mengumumkan kompensasi sebesar 200.000 rupee untuk keluarga korban dan 50.000 rupee untuk yang terluka.
Pemerintah pusat India juga telah menjanjikan dukungan penuh kepada negara bagian Kerala dalam menghadapi bencana ini.
Menteri Dalam Negeri Amit Shah menyatakan bahwa pemerintah siap mengirimkan bantuan tambahan dan memastikan bahwa semua sumber daya yang diperlukan akan tersedia untuk operasi penyelamatan dan pemulihan.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah Kerala kini tengah mempertimbangkan berbagai strategi untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana, termasuk program penghijauan dan peningkatan infrastruktur yang lebih tahan terhadap bencana alam. (*)
Editor : Dwi Puspitarini