Dalam agenda tersebut Otorita IKN menerbangkan sebuah prototipe kendaraan, serta dalam hangar turut dipamerkan prototype Hyundai Supernal S-A2. Taksi udara bertenaga listrik ini digadang bakal menjadi salah satu moda transportasi di IKN.
Lantas apa saja spesifikasi kendaraan ini? dari papan informasi yang dipasang, Supernal S-A2 memiliki panjang 9,9 meter dengan lebar 14,9 meter. Pesawat ini mampu membawa lima awak kabin, dengan komposisi satu orang pilot dan empat orang penumpang.
Kendaraan bertenaga listrik ini dilengkapi dengan delapan baling-baling, empat bagian depan dan empat bagian belakang. Tiap baling-baling dapat dimiringkan untuk memberi gaya dorong vertikal maupun horizontal sehingga memberikan pengalaman terbang dan mendarat yang lebih mulus.
Kendaraan ini masuk dalam kategori electric vertical takeoff and landing (eVTOL) , diperkenalkan Hyundai Motor Group pertama kali dalam perhelatan Consumer Electronics Show (CES) Januari 2024 di Las Vegas, US. Supernal S-A2 diklaim mampu terbang hingga ketinggian 457 meter dengan kecepatan 193 km/jam dan jangkauan layanan sekitar 96,5 km.
Selain membawa penumpang taksi terbang ini mampu membawa barang bawaan. Namun tidak tercantum berat maksimal yang diangkut. Tenaga listrik yang terdistribusi dengan baik di delapan baling-baling, membuat perusahaan pembuatnya menyebut kendaraan listrik ini memiliki keamanan yang lebih baik serta energi yang lebih efisien. Begitu juga suara yang dihasilkan berada di frekuensi 45-65 dBA.
Deputi Transformasi Hijau dan Teknologi OIKN, Professor Mohammed Ali Berawi, mengungkapkan bahwa uji coba ini merupakan bukti nyata komitmen Indonesia untuk mengembangkan teknologi transportasi masa depan. Ini adalah prototype dari sky taxi Hyundai versi terbaru yang dapat menampung 5 orang, satu orang pilot dan empat penumpang. “Teknologi ini masih perlu terus diuji,” ucapnya.
Dia menyebut setelah kegiatan PoC pengembangan akan dilakukan, termasuk menggandeng PT Dirgantara Indonesia (DI), lembaga riset. Targetnya adalah mengembangkan urban air mobility (UAM) bersama. “Masih perlu kajian teknis mendalam terutama dari sisi keamanan, kajian regulasi pemanfaatan ruang udara juga, termasuk bekerja sama dengan berbagai pihak,” ucapnya.
Dirinya pun menarget pesawat ini bisa terbang komersial di IKN paling tidak lima tahun ke depan atau sekitar 2030. Bahwa patut berbangga juga, Indonesia menjadi salah satu lokasi kegiatan uji coba bersama diharapkan ke depan menjadi salah satu penghasil kendaraan udara.
“Saat ini OIKN juga sedang mengembangkan Nusantara Knowledge Hub, di mana kerja sama dengan universitas nasional dan internasional dan provider teknologi, terus digalakkan. Dengan harapan mampu menghasilkan startup pengembangan atau penciptaan teknologi di Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie