KALTIMPOST.ID, Kelompok militan Hizbullah melancarkan serangan menggunakan drone ke wilayah Israel Utara pada Selasa (6/8) waktu setempat.
Serangan ini menargetkan sebuah desa dekat Nahariya dan menyebabkan 19 orang terluka, dengan satu di antaranya mengalami luka parah.
Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas serangan ini, menyatakan bahwa pangkalan militer Israel menjadi target utama.
Mereka menyebut serangan ini sebagai respons atas pembunuhan komandan pasukan Radwan oleh Israel pada hari sebelumnya.
Sejumlah pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) diluncurkan oleh Hizbullah, menurut laporan mereka kepada Reuters.
Serangan ini menyebabkan kerusakan signifikan dan korban luka di berbagai lokasi.
Pusat Medis Galilea di Nahariya melaporkan bahwa tujuh orang dirawat setelah terkena serangan drone di Jalan Raya 4 dekat Mazra'a di Galilea Barat.
Seorang pria berusia 40 tahun dalam kondisi kritis setelah kendaraannya terkena pecahan peluru dan menabrak barikade keselamatan.
Seorang wanita berusia 30 tahun juga mengalami luka ringan hingga sedang akibat pecahan peluru di kakinya.
Selain itu, lima orang lainnya menderita luka ringan akibat ledakan, dan dua orang dirawat karena kecemasan akut dan syok.
Pemerintah Amerika Serikat telah memberikan peringatan kepada Israel terkait potensi tanggapan terhadap serangan balasan Iran.
Dalam program radio "This Morning" milik KAN Reshet Bet, pejabat AS memperingatkan Israel untuk mempertimbangkan risiko eskalasi sebelum melancarkan serangan balik.
Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyatakan bahwa AS sedang berupaya mencegah eskalasi lebih lanjut.
"Kami terlibat dalam diplomasi yang intens, hampir sepanjang waktu, dengan pesan yang sangat sederhana, semua pihak harus menahan diri dari eskalasi," kata Blinken.
Serangan drone ini terjadi setelah Angkatan Udara Israel menyerang gedung militer yang digunakan oleh Unit Front Selatan Hizbullah di Nabatieh, Lebanon Selatan, menewaskan empat orang menurut laporan Arab.
Media Saudi TV Al-Hadath juga melaporkan kematian seorang komandan militer senior Hizbullah dalam serangan tersebut.
Sekretaris Jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa serangan ke Israel utara hanya sebagai "pemanasan".
Ia mengancam bahwa serangan lebih besar akan segera menyusul dari Iran, Yaman, dan Lebanon.
Nasrallah juga menegaskan bahwa Hizbullah memiliki senjata modern yang mampu menghancurkan fasilitas militer Israel dalam waktu singkat.
"Serangan terhadap Israel sedang dipersiapkan dari berbagai arah dengan intensitas yang jauh lebih besar," kata Nasrallah dalam pidatonya.
Serangan drone ini telah meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut, dengan Israel mengakui bahwa pangkalan militernya di wilayah utara telah diserang.
Pihak berwenang Israel kini berada dalam kondisi siaga tinggi untuk menghadapi kemungkinan serangan lebih lanjut dari Hizbullah. (*)
Editor : Dwi Puspitarini