Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sensasi Naik Motor dari Balikpapan ke IKN Jelang HUT RI: Cukup Rp 110 Ribu Sudah Bisa Putar-putar Sepaku

Syahrul Ramadan • Kamis, 22 Agustus 2024 | 09:30 WIB

BERSAMA: Warga dan para pekerja sedang menyaksikan upacara HUT Kemerdekaan RI ke 79 dari luar Istana Garuda. (FOTO: SYAHRUL)
BERSAMA: Warga dan para pekerja sedang menyaksikan upacara HUT Kemerdekaan RI ke 79 dari luar Istana Garuda. (FOTO: SYAHRUL)
KALTIMPOST.ID, Menempuh jarak 92 km, perjalanan menuju IKN memang memacu adrenalin. Hampir 2 jam 45 menit untuk menuju kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) IKN.

 

Berangkat dari Balikpapan saya sudah mengisi tangki motor dengan 7 liter BBM pertalite. Sampai di kilo 38 Balikpapan-Samarinda supaya aman akhirnya singgah di SPBU mengisi tangki lagi. 

 

Kali ini BBM pertamax, cukup Rp 40.000. Tangki motor penuh lagi, tugas kembali saya tarik menuju jalan terjal memasuki kawasan proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

 

Selama perjalanan masuk menuju kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) IKN, kalau lancar mestinya tetap sampai satu jam setengah sudah sampai. 

 

Bayang-bayang perampasan hutan adat sangat terasa atas pembangunan IKN. Hal itu, dikarenakan kiri kanan serta jalan yang sedang kulewati merupakan bagian dari pembebasan lahan.

Sebab kawasan IKN dulunya hutan adat yang dirawat sebagai sumber kehidupan masyarakat adat. Berubah menjadi bangunan beton menjulang tinggi. Begitulah, pikiranku selama saya di jalan menuju KIPP.

Rasa penasaran untuk melihat langsung pembangunan IKN, akhirnya hilang ketika tiba di KIPP. Terlihat gedung istana presiden dan istana patung garuda yang selama ini menjadi sorotan publik.

Kurang satu hari menuju hajatan HUT kemerdekaan RI ke-79. Saya tiba di KIPP IKN, mataku langsung tertuju ke patung raksasa garuda. Saya mencoba mendekati patung itu dari arah belakang.

Di situ terlihat banyak yang berjaga mulai dari satpam, polisi, dan TNI. Saat hendak menuju ke sana namun sayangnya, satpam yang menjaga langsung menghadang untuk tidak boleh memasuki kawasan Istana Garuda.

“Tidak boleh masuk jika tidak punya id card khusus. Kawasan ini juga sudah steril. Jadi kalo mau masuk harus ada id card,” begitu sekiranya, ucapan penjaga yang disampaikan kepada saya saat mendekati patung garuda.

Di luar dari pada itu, jalan kawasan KIPP tampak mulus dan rata. Saya merasakan perbedaan yang amat sangat jauh terhadap kondisi bagian luar sebelum masuk IKN.

HUT RI di IKN 

Sabtu, 17 Agustus 2024, Pagi cerah, kendaraan padat dan debu jalan semakin terasa. Penjabat penting negara serta tamu undangan hadir untuk menunaikan hajatan upacara HUT kemerdekaan RI di IKN.

Sejarah baru tercipta untuk pertama kalinya, teks proklamasi kemerdekaan dibacakan di halaman Istana Garuda IKN, tanah Borneo. Sebagian warga dari beragam daerah hadir menyaksikan dari luar istana.

Meski tidak terlihat karena terhalang beton. Warga dan pekerja IKN tetap berdiri di luar sebelah kanan dari depan sayap patung garuda. Untuk mendengarkan suara-suara yang terdengar dari balik beton istana garuda.

Selepas dari upacara pengibaran bendera, saya bertemu anggota DPR RI Dapil Kaltim Rudy Mas’ud. Ia menilai HUT RI di IKN sebagai legasi Jokowi.

Terbesit dalam benakku, apakah ini hanya sebatas pengakuan dari Presiden. Karena sebentar lagi bakal lengser dari kursi kekuasaannya. Tapi ya sudahlah.

Hiruk Pikuk di Balik Proyek IKN

Siang itu, saya memutuskan keluar kawasan KIPP. Perjalanan saya lanjutkan untuk mengetahui krisis air bersih yang melanda kawasan IKN.

Lalu lalang kendaraan mobil pikap mengangkut tandon berisikan air bersih kerap melintas beriringan. Mulai pagi, siang dan malam air bersih selalu menjadi incaran warga.

Krisis air bersih menjadi masalah di tengah pembangunan IKN. Warga yang ingin mendapatkan air bersih, ia harus mengeluarkan uang mulai 70-90 ribu. Harga dipatok tergantung tingkat kebersihan air.

Bertemu salah satu pengawas depo air bersih di kawasan IKN. Ia pun mengakui kalo air bersih sulit didapatkan. Karena depo air pun merasa khawatir dan ketar ketir jika musim kemarau tiba.

Lantaran, hanya mengandalkan air Sungai Mangkulio. Untuk menyediakan air bersih kepada warga sekitar IKN. Penyedia air pun tidak hanya memberikan kepada warga.

Mereka juga menyuplai untuk pembangunan IKN. Terlebih menjelang upacara kemerdekaan RI di IKN. Permintaan air bersih juga meningkat. Itu karena ada banyak penjabat negara dan tamu undangan yang hadir.

Tidak jauh dari lokasi itu, saya duduk santai sembari mengobrol dengan salah satu pemilik toko kelontong. Katanya, akibat IKN banyak pekerja dari luar berdatangan dan membuat penghasilan toko kelontongnya meningkat.

Nahasnya, penghasilan meningkat juga diikuti dengan debu yang mengotori toko kelontongnya. Sehingga ia harus sering membersihkan debu yang berserakan itu.

Di tengah situasi pekerja IKN dari luar berdatangan. Harga guest house atau kos-kosan kian mahal jika ingin menginap sementara waktu. Tarif per malam saja bervariasi mulai Rp 250-400 ribu.

Ini sangat menguntungkan bagi mereka yang memiliki penginapan seperti itu. Saya pun warga Penajam sempat kaget dengan harga penginapan yang mahal.

Selain hingar bingar biaya hidup yang mahal. Salah satu pemuda asal Sepaku turut merasakan dampak pembangunan IKN.

Terlebih ketika pelaksanaan upacara HUT RI digelar di IKN. Perayaan kemerdekaan jauh berbeda dengan sebelumnya yang sepi. Tapi sekarang berubah menjadi ramai, saat perayaan kemerdekaan di Sepaku.

Yang jelas perjalanan tugas ke IKN sungguh menyenangkan. Selamat datang di IKN. Kini aku telah menjelma menjadi barometer perkembangan kota di Kaltim. Kota yang direncanakan tetap menjadikan hutan sebagai ciri khas IKN, semoga bisa terwujud. 

Namun semoga persoalan tanah adat warga asli PPU bisa diselesaikan dengan baik. Jangan jadikan pembangunan IKN menimbulkan duka untuk warga lokal. (Habis)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Uways Alqadrie
#IKN #hut ri