BALIKPAPAN – Sertifikasi merupakan langkah penting bagi para profesional. Termasuk dokter untuk mengukuhkan keahlian dan kompetensi dalam bidang tertentu. Dalam dunia kedokteran, ada dua sertifikasi internasional yang sangat dihormati.
Yakni Fellow of Interventional Pain Practice (FIPP) dan Certified Interventional Pain Sonologist (CIPS) yang dikeluarkan oleh World Institute of Pain (WIP). Teranyar dokter asal Kota Balikpapan berhasil meraih dua predikat tersebut sekaligus.
Ia sekaligus menjadi dokter saraf pertama di Indonesia, maupun benua lainnya yang berhasil lulus langsung untuk dua ujian sertifikasi. Dia adalah Dokter Spesialis Saraf Fajar Rudy Qimindra.
Penghargaan ini diberikan melalui Award Ceremony Dinner berlangsung di Hungarian Heritage House Budapest, 27 Agustus. Kepada Kaltim Post, Qimi sapaan akrabnya bercerita, sejauh ini baru ada empat dokter yang memiliki sertifikasi FIPP dan CIPS.
Di antaranya satu dokter spesialis rehabilitasi medik, dua dokter spesialis orthopedi, dan terbaru Qimi dokter spesialis neurologi atau saraf. Sertifikasi FIPP dan CIPS dari WIP merupakan tonggak penting dalam karier seorang dokter.
Terutama yang berfokus pada manajemen nyeri. Pria yang bekerja di RS Pertamina Balikpapan (RSPB) ini menuturkan, perjuangan mendapat sertifikasi ini tidak hanya berarti peningkatan kemampuan profesional.
Namun juga merupakan kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan nasional. “Dengan sertifikasi ini, dokter dapat menangani berbagai kasus nyeri yang kompleks dengan metode yang telah diakui secara internasional,” ucapnya.
Kemudian sebagai aset berharga baik bagi komunitas medis di Indonesia maupun dunia. Sertifikasi tidak hanya meningkatkan kredibilitas seorang dokter. Tetapi memberi izin formal untuk melakukan prosedur tertentu yang memerlukan keterampilan khusus.
“Harus menyesuaikan muatan lokal seperti mengikuti fellowship di masing-masing spesialis,” katanya. Qimi menjelaskan, sertifikasi FIPP merupakan salah satu pengakuan tertinggi dalam bidang manajemen nyeri intervensional.
Dokter yang berhasil mendapat sertifikasi ini dianggap memiliki kemampuan dan pengetahuan mendalam tentang berbagai teknik intervensional mengelola nyeri kronis dengan panduan fluoroskopi.
Sementara CIPS adalah sertifikasi yang berfokus pada penggunaan ultrasonografi untuk memandu intervensi nyeri.
“Sebuah teknik yang semakin diakui dalam praktik manajemen nyeri modern,” tutur pria yang juga praktek di Optik Ainun Balikpapan.
Ada beberapa prosedur yang dapat ditangani dengan sertifikasi tersebut. Misal sertifikasi FIPP, dokter diperbolehkan melakukan berbagai prosedur intervensional untuk manajemen nyeri.
“Seperti blok saraf, injeksi epidural, ablasi radiofrekuensi, dan teknik stimulasi sumsum tulang belakang,” ucapnya.
Sedangkan CIPS, dokter melakukan intervensi nyeri dipandu ultrasonografi. Ini sangat penting dalam memastikan akurasi dan keamanan prosedur.
Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menyebutkan, sertifikasi FIPP dan CIPS membuktikan dokter telah menjalani pelatihan intensif. Serta berhasil lulus ujian yang ketat.
Ini menjamin mereka memiliki keahlian yang diperlukan untuk memberi perawatan yang aman dan efektif kepada pasien dengan masalah nyeri kronis. Kelebihan lainnya, sertifikasi dari WIP diakui secara global.
Artinya dokter tidak hanya diakui di dalam negeri tetapi juga di tingkat internasional. “Ini membuka peluang bagi dokter untuk bekerja atau berkolaborasi di luar negeri, membawa praktik kedokteran Indonesia ke panggung dunia,” bebernya.
Serta bentuk tanggung jawab profesional. Keberadaan sertifikasi FIPP dan CIPS juga menunjukkan komitmen seorang dokter terhadap pengembangan profesional yang berkelanjutan.
Terlebih pada era teknologi dan metode medis terus berkembang. Sertifikasi ini menunjukkan dokter terus berusaha memperbarui pengetahuan dan keterampilan mereka sesuai dengan perkembangan terbaru.
Menurutnya sertifikasi ini penting bagi dokter di Tanah Air. Mengingat prevalensi nyeri kronis cukup tinggi di Indonesia. Baik akibat penyakit degeneratif, trauma, maupun kondisi lainnya.
Sehingga adanya sertifikasi FIPP dan CIPS, dokter dapat lebih kompeten dalam menangani kasus-kasus. Selain itu, sertifikasi ini membantu dalam meningkatkan standar perawatan nyeri di Indonesia.
Itu semua akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup pasien. Sementara untuk dunia medis internasional, sertifikasi FIPP dan CIPS memberikan dokter akses ke jaringan profesional yang luas.
“Termasuk peluang untuk berpartisipasi dalam penelitian global, konferensi, dan pelatihan lanjutan,” ucapnya. Ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dokter, namun membawa manfaat besar bagi komunitas medis di Indonesia.
Qimi menghadapi sejumlah tantangan dan kendala dalam melalui ujian. Sebagai tantangan besar bagi seorang dokter yang ingin mengukuhkan keahlian mereka dalam manajemen nyeri. Ujian tidak hanya menuntut pengetahuan mendalam.
Melainkan keterampilan praktis yang sangat spesifik. “Bagi banyak dokter menghadapi ujian ini, apalagi lulus dua ujian sekaligus bisa menjadi hal yang menakutkan. Namun, dengan persiapan yang tepat, tantangan ini bisa diatasi,” pungkasnya. (*)
Editor : Thomas Priyandoko