KALTIMPOST.ID, Badak LNG melalui program corporate social responbility (CSR) memberikan bantuan kepada masyarakat kampung pesisir Tihi-Tihi. Sebuah bagan atau alat penangkap ikan yang terbuat dari limbah perusahaan kategori non B3. Tak hanya itu, sejumlah fasilitas pun melekat pada bagian pelampung maupun sarana untuk pencahayaan. Sarana ini tentu memudahkan nelayan di lokasi tersebut.
Rona warga kampung pesisir Tihi-Tihi, Bontang Lestari pun terlihat ceria. Tatkala rombongan dari Badak LNG yang menggunakan kapal bersandar di dermaga. Warga yang umumnya berprofesi sebagai nelayan ini mendapatkan bantuan sarana.
Sebuah impian yang diidamkan sejak dahulu. Untuk memiliki bagan atau alat penangkap ikan. Ketua RT 17 Kelurahan Bontang Muslimin mengatakan sebelumnya upaya untuk mendapatkan ikan harus penuh tantangan.
Sebab nelayan harus berlayar satu hingga tiga mil dari lokasi permukiman di atas laut tersebut. Berangkat dari jam enam sore pulang pasca 12 jam kemudian. Tetapi saat ini mereka sudah mempunyai satu bagan yang dikelola secara bersama.
“Ini mimpi kami menjadi kenyataan. Sebab harga bagan konvensional bisa tembus Rp 75 juta,” kata Muslimin.
Bahkan pasca mendapatkan bantuan ini, hasil tangkapan ikan mengalami peningkatan. Menurutnya naik dua kali lipat dibandingkan dengan pemakaian jaring secara manual maupun pemancingan. Tangkapan per harinya mencapai lima boks.
“Kalau pun ada sisa ikan yang harganya kurang bagus di pasaran kami tampung di keramba apung. Ketika sudah bagus kami jual ikannya,” ucapnya.
Menurutnya cara pengelolaan sudah ada kesepakatan dengan warga. Mereka tergabung dalam kelompok Marina. Dalam kelompok tersebut beranggotakan 20 orang. Durasi pengelolaan bergantian selama 2 hingga tiga hari. Satu sesinya diisi dua orang.
“Hasilnya nanti dibagi pada saat hari tersebut. Kemudian hasil tangkapan dibawa ke Tanjung Laut. Ada ikan teri dan tembang,” tutur dia.
Ia menilai kehadiran Badak LNG di Tihi-Tihi sudah terjalin sejak 2005. Beragam bantuan pun diperoleh warga hingga tak terhingga. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan.
“Sebelumnya kampung ini kumuh sejak 1957. Tetapi setalah adanya kolaborasi antara pemkot dan Badak LNG maka saat ini sudah cerah,” terangnya.
Selain bagan, Badak LNG juga membantu pembuatan keramba apung, keramba tancap, bank sampah. Selain mendapatkan penghasilan dari tangkapan ikan, warga Tihi-Tihi juga melakukan budidaya rumput laut. Hasil itu ada yang dijual langsung maupun diolah menjadi sebuah produk.
Senior Manager Corporate Communication & General Support PT Badak NGL, Yuli Gunawan menjelaskan bantuan bagan ini berbeda yang lainnya. Sebab ada beberapa fasilitas yang membantu masyarakat sekitar. Sebab perusahaan mencurahkan inovasi dengan teknologi modern dan ramah lingkungan.
Bagian apung tepatnya sisi bawah bagan, Badak LNG menggunakan pipa FRP. FRP yang digunakan memiliki diameter 30 inch dengan panjang sekira 100 sentimeter. Pipa kemudian ditutup menggunakan limbah polyurethane foam dari perusahaan pada sisi inlet dan outlet. Sehingga terdapat tangkapan udara yang meningkatkan daya apung pipa FRP.
Pipa FRP ini kemudian digunakan karena memiliki durabilitas bahan dasar yang jauh lebih kuat dan dapat bertahan lebih lama dibanding dengan pelampung dari drum biru. Serta, dinilai tidak dapat terdegradasi dengan cepat di wilayah perairan laut. “Sehingga tidak berpotensi menimbulkan cemaran microplastic,” sebutnya.
Badak LNG juga memasang sensor kemiringan dan kebocoran pada bagian apung. Jika terjadi kemirangan atau kebocoran, informasi tersebut akan diteruskan kepada nelayan. Melalui notifikasi di handphone.
Proses penangkapan ikan menggunakan atraktor. Digunakan pada malam hari. Dengan proses penangkapan ikan menggunakan lampu dan jaring ikan. Atraktor alami di antaranya menggunakan limbah-limbah ranting, dahan, sampai dengan batang pohon.
Sementara atraktor lainnya yang non alami menggunakan pencahayaan lampu baik yang digunakan di atas permukaan air atau di bawah permukaan air. Panel surya digunakan sebagai sumber energi baru terbarukan cadangan. Sementara genset atau mesin diesel digunakan sebagai sumber energi utama dalam penggunaan atraktor lampu. Lampu yang digunakan terbagi menjadi lampu sorot dan lampu bohlam LED untuk atraktor di atas dan di bawah laut.
Pada bagan ini juga terdapat apartemen ikan. Apartemen ikan dibangun sebagai hunian buatan bagi ikan-ikan yang ada di sekitaran bagan apung. Hal ini dilakukan sebagai upaya perbaikan ekosistem laut. Sehingga memberikan hunian artifisial bagi ikan. Diharapkan dapat meningkatkan populasi ikan di sekitar bagan sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Apartemen ikan sendiri dibuat menyerupai rangka kubus dengan panjang 50 x 50 sentimeter,” ungkapnya.
Dibuat menggunakan bahan dasar concrete yang kemudian dicoba dicampurkan dengan limbah non B3 perusahaan yakni, kasium silikat. Bentuk concrete yang diimplementasikan memiliki lebar 8 sentimeter pada masing-masing tulang rusuk kubus apartemen ikan. Apartemen ini diletakkan di dua titik, berjumlah 20 unit masing-masingnya dan berada pada kedalaman 15 meter saat permukaan pasang sementara 12 meter saat permukaan surut.
Bagan apung ini masuk dalam program Menara Marina (Menuju Nelayan Ramah Lingkungan, Mandiri dan Sejahtera). Program itu merupakan pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi sosial perusahaan. “Tujuannya untuk mengangkat derajat nelayan-nelayan dan pembudidaya rumput laut yang ada di sekitar wilayah operasional perusahaan,” paparnya.
Sasaran program Menara Marina mayoritas merupakan nelayan tradisional dan pembudidaya rumput laut. Melalui program Menara Marina, Badak LNG membangun sebuah inovasi yang berbentuk KAPSURULA (Kapsul Pelampung Rumput Laut Ramah Lingkungan).
Program dilakukan dengan membentuk kelompok Marina dan Samudera, kedua kelompok ini beranggotakan individu-idnividu yang berasal dari Kampung Terapung Tihi-Tihi. Inovasi yang dicetuskan merupakan pemutakhiran bentuk pemanfaatan limbah non-B3 yang berasal dari perusahaan.
Limbah polyurethane kembali menjadi tajuk utama, diubah menjadi bentuk pelampung yang biasa digunakan dalam proses budidaya rumput laut. Dapat terlihat saat siang dan malam hari, khususnya di Kampung Terapung Tihi-Tihi. “Selain itu, bahan polyurethane juga digabungkan dengan limbah non-B3 perusahaan lainnya sebagai pelampung keramba budidaya ikan dan bagan apung,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie