Pikirannya sederhana, tiada yang lebih nikmat dibanding kopi yang ditanam, dipetik, dan diseduh sendiri. Kini dia jadi inspirasi, kembangkan Desa Prangat Baru menjadi Kampung Kopi Luwak.
Dia adalah salah satu transmigran asal Lamongan yang mulai bermukim pada 1989 di Desa Prangat Baru, Marangkayu, Kutai Kartanegara (Kukar). Latar belakangnya adalah petani, maka keahlian itu yang dia kembangkan dengan menanam karet sebagai salah satu komoditas unggulan Kaltim kala itu.
“Tanaman karet ini kan lebar-lebar jaraknya, sayang jika tidak dimaksimalkan lahannya. Jadi coba sistem tumpang sari, coba tanam kopi. Tapi sebelum itu ya banyak coba tanam sayur-sayuran lain,” beber Rindoni.
Kopi dipilih karena memiliki daya jual bagus dan berkelanjutan masa panennya. Bibit awal dibawa oleh kawan-kawannya.
Seperti salah seorang kawannya dari Banyuwangi membawa bibit kopi boria, lalu dari Jogja dengan nama kopi temanggung hingga bibit dari Bondowoso. Ketiganya ternyata kopi jenis liberika.
Kala itu pengelolaan masih tradisional. Dia tanam sendiri di dekat rumah dan di sela-sela pohon karet. Dia juga ajak beberapa kawan petani menanam bibit serupa. Seiring waktu, ternyata hanya Rindoni yang masih setia merawat kebun kopinya.
“Kebun mereka mulai enggak terawat, jadi mulai ditinggalkan. Karena pengelolaan kopi ini kan banyak tahapannya. Waktu itu jujur memang belum ada nilai ekonomi, jadi ya buat konsumsi sendiri. Soalnya orang minum kopi itu kan menikmati, temasuk saya sendiri. Ibaratnya 1-2 pohon berbuah ya diolah sendiri daripada beli kopi bungkusan,” terang pria kelahiran 1968 itu.
Salah satu varian kopi yang dia olah juga adalah dari luwak. Hewan liar itu tentu saja memilih biji kopi yang sudah matang untuk dikonsumsi. Biji kopi pilihan.
Dengan pengetahuan dasar, Rindoni mengolah biji kopi yang sudah melewati enzim pencernaan luwak itu. Ternyata hasilkan cita rasa yang lebih autentik.
Hingga pada 2012, beberapa kawan yang ada keperluan ke Bontang dan melewati Prangat Baru akan mampir ke rumahnya. Kopi liberika buatan sendiri itu yang jadi suguhan. Ternyata, mendapat respons positif.
“Ya masih tradisional. Sebenarnya dari kecil saya itu sudah akrab dengan kopi, mengolah kopi, lidah saya ini sudah bisa bedakan jenis-jenis kopi. Dulu enggak tahu istilah red honey, wine sampai natural process. Setelah belajar, ternyata ya itu istilahnya tapi sudah sering saya lakukan,” lanjut dia.
Berawal dari mulut ke mulut, kopi yang lahir dari tangan Rindoni semakin dikenal. Hingga pada 2020, kunjungan Bupati Kutai Kartanegara yang saat itu meninjau pembukaan kebun karet di Prangat Baru malah membuka lebar langkah Rindoni.
“Ya berawal dari suguhan kopi itu, Pak Bupati kaget. Baru itu dia minum kopi kok rasanya beda. Dia kaget kalau itu kopi yang saya kembangkan sendiri. Akhirnya terbuka jalan, dikembangkan dan pemberdayaan masyarakat sekitar,” sebutnya.
Kini ada 34 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Kampung Kopi Luwak. Dengan produk Kapak Prabu alias kampung kopi luwak Prangat Baru.
Targetnya mengelola 60 hektare. Saat ini sudah 29 hektare dengan 24 anggota yang aktif dengan setidaknya 30 ribu pohon.
Komitmen dan semangat berkelanjutan yang menjadi pondasi awal. Rindoni juga menjaminkan konsistensi kelompok tani.
Apalagi menjadi sumber pendapatan baru di sektor perkebunan selain karet. Selain itu sebagai satu-satunya budidaya kopi liberika di Kaltim.
“Saat 2020 itu juga sudah ada wacana IKN, saya bawa itu untuk meyakinkan keseriusan kami. Jadi oleh-oleh khas. Apalagi penikmat kopi tersebar luas juga,” paparnya.
Potensi besar, meski dididukung dengan fasilitas besar pula. Itulah yang menjadi kendala saat ini. Kebun yang dia kelola sendiri ada tiga hektare dengan 1.500 pohon. Satu pohon setidaknya hasilkan satu kilogram biji kopi dalam satu kali musim panen, setiap enam bulan sekali.
“Kapasitas hanya 1,5 ton sekali musim, dan permintaannya jauh di atas itu. Jadi memang belum sesuai dengan kebutuhan. Belum lagi selama proses kopinya menyusut, jadi hanya beberapa kilogram saja biji kopi utuhnya. Salah satu yang favorit itu luwak, ini lebih terbatas lagi karena luwaknya liar bukan budidaya,” lanjutnya.
Diakui Rindoni, satu kilogram biji kopi luwak saat ini dibanderol hingga Rp 4,25 juta. Peminatnya ada, namun ketersediaan terbatas. Masih butuh bantuan bibit lebih banyak.
“Sementara mau upayakan bibit dari tempat saya sendiri malah terkendala perizinan. Padahal dari segi peralatan alhamdulillah memadai, jadi memang kendala di bibit ini,” tegasnya.
Kini Prangat Baru jadi percontohan budidaya kopi, desa sekitarnya yakni Prangat Selatan dan Makarti mulai difokuskan pemerintah. Rindoni yang hilir-mudik ikut terlibat dalam prosesnya.
Sebagai bagian dari kemandirian desa, Rindoni dan warga lainnya juga mengembangkan rest area termasuk ekowisata. Hampir 25 hektare kebun diintegrasikan. Satu hektare khusus rest area.
“Sejauh ini kan ada pembinaan dan pendampingan dari beberapa perusahaan. Ada masanya bantuan itu akan selesai. Jadi rest area ini untuk pendapatan lebih lagi. Sedang digarap masterplan-nya. Tapi rest area sudah berjalan, bertahap. Alhamdulillah kunjungan meningkat terus. Dan semoga terus konsisten,” tutupnya lalu terkekeh. (*)
Editor : Almasrifah