KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG - Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Novita Bulan dan Artya Fathra Marthin baru-baru ini, mengikuti rangkaian upacara adat terima tamu di Tiong Ohang dan Noha Boan, Senin (16/9).
Novita Bulan menjelaskan, serangkaian ritual adat yang diberikan kepadanya dan pasangannya maju dalam Pilkada, bahwa sejak mereka tiba di Tiong Ohang hingga Noha Boan, mereka disambut dengan upacara adat yang memiliki makna mendalam.
"Ya, jadi dari tadi kita berangkat dari Longbagun sampai di Tiong Ohang. Di Tiong Ohang itu disambut dengan upacara adat. Itu upacara adat semacam ritual untuk memberikan kekuatan, memberikan perlindungan dari para leluhur dan juga Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap rencana-rencana kita ke depan, khususnya di dalam menghadapi pilkada ini nanti," ujar wanita yang akrab disapa Bulan itu.
Ritual adat tersebut dianggap penting karena memberikan restu dari para leluhur dan kekuatan spiritual untuk menghadapi tantangan politik ke depan, khususnya dalam konteks Pilkada.
Setelah upacara di Tiong Ohang selesai, perjalanan mereka dilanjutkan ke Noha Buan, di mana ritual berbeda kembali dilakukan.
"Ini beda lagi ritualnya, kalau yang di Noha Buan ini tadi itu ritual pemberian nama, karena Pak Fathra ini baru datang ke sini, kemudian diambil sebagai anak angkat daripada keluarga yang ada di kampung Noha Buan ini. Itu tadi ritualnya sampai dengan selesai," lanjut Novita.
Ketika ditanya mengenai penerimaan masyarakat Mahulu terhadap Fathra yang dianggap sebagai orang luar, Novita memberikan pandangannya yang optimistis.
Ia menyebut bahwa dalam kontestasi politik, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.
"Ya itu kan hanya ini ya maksudnya pendapat-pendapat yang menurut saya itu biasa lah di dalam kontestasi politik seperti itu. Tapi kita harus kalau saya sih saya percaya ya karena kita lihat juga di banyak daerah tertentu di luar sana juga artinya banyak tokoh-tokoh dari luar yang ketika punya kemampuan kemudian dipercaya oleh masyarakat oleh rakyatnya di tempatnya," kata Bulan.
Ia menegaskan bahwa dengan kemampuan dan niat baik Fathra, ia yakin bahwa insan tersebut akan diterima oleh masyarakat Mahulu, meskipun berasal dari luar daerah. "Ya khususnya misalnya Pak Fathra di Kabupaten Mahulu ini ya saya yakin saya percaya bahwa dia akan diterima juga sebagai masyarakat Mahulu," tutup Bulan.
Melalui rangkaian ritual adat dan dukungan dari tokoh-tokoh lokal seperti Novita Bulan, kehadiran Fathra di Mahulu tampaknya semakin diterima, membuka jalan bagi perjalanan politiknya di wilayah tersebut.(*)
Editor : Thomas Priyandoko