Sambil terus mencari pekerjaan lain, Astril coba menjual abon ikan tuna. Olahannya itu adalah makanan keluarga. Kerabatnya yang tinggal di daerah pesisir Bontang sering mengirimkan ikan tuna. Daripada digoreng biasa, Astril coba menjadikannya abon.
“Ternyata suami bilang enak, kenapa enggak coba jual. Dari situ coba dipasarkan, ya mulanya todong teman supaya beli. Tester-tester, ya alhamdulillah cocok. Saya juga coba cari value yang berbeda. Kalau abon biasanya digoreng, saya disangrai. Kalau yang lain pakai penyedap kemasan, saya enggak pakai. Jadi coba cari yang beda,” beber perempuan kelahiran 1987 itu.
Metode memasak yang demikian rupanya dipelajari Astril sejak di bangku sekolah. Alumnus SMK 2 Bontang dengan jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan itu sudah akrab mengolah abon dengan cara disangrai.
“Jadi ilmu dari zaman sekolah bisa kepakai atau diterapkan. Lalu kuliahnya juga jurusan masih sejalan. Jadi sudah target untuk usahanya, tapi sempat vakum setahun karena hamil dan melahirkan. Jadi mulai fokus itu 2017, kejar target setidaknya lima tahun sudah punya rumah produksi,” lanjut alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unmul tersebut.
Produknya disambut baik di pasaran, permintaan juga tinggi. Realisasi target rumah produksi pun tercapai lebih cepat, yakni pada 2019. Seiring waktu, usahanya dengan nama PT Abon Jaya Mandiri (AJM) semakin berkembang.
“Konsultasi ke Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian, disarankan membuat kelompok pengolahan dan pemasaran (poklahsar). Merekrut ibu-ibu sekitar rumah, olahannya ada banyak. Ada terasi, sambal, kue kering, keripik pisang. Nah, setiap ada kegiatan, keripik ini selalu saya bawa kemanapun. Karena yang potensial. Produk mitra kami itu ternyata ada potensi ekspor sampai satu kontainer ketika ikut Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) kemarin tanggal 17-20 September,” bebernya.
Diakui jika Astril sebagai agregator. Bantu negosiasi dengan buyer potensial. Disebutkan jika sebelumnya sudah ada komunikasi pada agenda Business Matching di Bali, 11-12 September. Dijelaskan jika produk keripik tersebut masih baru satu tahun bergabung dengan poklahsar mitra PT AJM.
Membantu untuk negosiasi atau promosi hingga presentasi. Hingga akhirnya closing satu kontainer atau satu ton untuk keripik. Termasuk 5 ribu pcs abon ikan tuna olahannya. “Ini masih negosiasi, tapi sudah pasti siap ambil satu kontainer,” jelasnya.
Bicara ekspor, ini bukan kali pertama yang Astril lakukan. Sejak 2021, produknya sudah mejeng di beberapa toko luar negeri. Masih sistem personal dan jumlahnya tak banyak. “Jadi karena ada teman. Mereka bawa 30-100 pcs tergantung pesanan. Yang rutin itu Hongkong sama Singapura. Kalau cepat habis bisa sebulan sekali,” lanjut dia.
Begitu juga pasar Australia hingga Swedia. Melihat peluang dari teman yang tinggal atau bekerja di sana. Dari pandangan pribadi Astril, justru produknya lebih laku di luar negeri. Hanya 30 persen yang terserap di pasar lokal.
Dari segi kapasitas produksi pun diakuinya siap. Sudah ada kerjasama juga dengan nelayan ikan tuna di Bontang. Khususnya yang ukuran ikannya besar. “Kalau ada permintaan banyak, paling sedikit itu ambil 100 kilogram. Kalau harian, ambil di supplier 30-50 kilogram,” paparnya.
Setiap hari produksi. Ikan yang datang juga langsung diolah. Sehingga tidak perlu bermalam lebih lama di mesin pendingin. Ikan dikukus lalu dicabik-cabik. Hingga menjadi abon siap saji, penyusutan ikan 60-70 persen. “Dari 100 kilogram tuna segar, itu paling cuma dapat 60 kilogram yang sudah dicabik. Dari proses cabik itu jadi abon sekitar 25-28 kilogram,” sambungnya.
Saat ini, Astril juga masih menjajal pasar lokal. Sebelum pandemi, pasarnya sudah sampai Samarinda hingga Balikpapan. Produk tersusun rapi di beberapa swalayan dan retail. Namun pending saat pandemi.
“Makanya akhir 2023 kemarin mulai penjajakan lagi. Sudah ada beberapa yang kontak. Dulu saat pandemi pending itu karena terkendala bahan baku, ikannya kadang ada kadang enggak. Padahal permintaan tinggi. Jadi ini coba perluas pasar lokal lagi,” tutupnya.
Editor : Uways Alqadrie