Kelompok Wanita Tani (KWT) Cempaka yang ada di Desa Cipari Makmur, Muara Kaman, Kutai Kartanegara mulanya hanya menjual bahan mentah. Ada beragam komoditas yang dikembangkan, utamanya adalah tanaman herbal.
“Sejak 2019 itu ada pelatihan, bagaimana agar meningkatkan nilai ekonomi produk. Aneka pelatihan seperti membuat serbuk minuman hingga pengolahan aneka keripik. Ternyata yang potensial jahe merah ini,” beber Anesih.
Bersama lima anggota KWT lainnya, dia mengolah dengan mencampur berbagai bahan. Produk unggulannya pun ada lima yakni jahe merah, beras kencur, kunyit asam, temulawak dan kunyit putih. Semuanya diolah menjadi minuman siap seduh.
“Jadi memang sebelum pandemi, baru mulai usaha dan 2020 langsung pandemi. Karena produknya jahe merah, alhamdulillah malah laris. Jadi banyak yang cari. Waktu itu kemasannya masih sederhana, pakai plastik ditempel stiker,” ujarnya.
Bahan baku juga diakui tak sulit didapatkan. Sebagian besar ditanam sendiri. Jika stok kurang dan sedang tinggi permintaan, barulah beli ke petani lain di luar Muara Kaman. Seiring waktu, inovasi juga terus dilakukan. Utamanya dari segi pengemasan agar makin laku di pasaran.
“Nama usahanya Alim Dikantun, bahasa Sunda yang artinya enggak mau ditinggal. Jadi supaya pada beli produknya. Terus nama produknya Jaelani, singkatan dari jahe enak lagi nikmat,” paparnya lalu terkekeh.
Setelah pandemi berlalu, Anesih mulai aktif mengikuti pameran. Membawa produknya dengan semangat lokal. Sebab dari bahan baku diproduksi sendiri. Kini produknya sudah ada di salah satu toko retail, dia juga kerjasama dengan empat toko di sekitar tempat produksi.
“Jadi ya memang benar-benar dari teman-teman KWT untuk bahan baku. Ada yang nanam ¼ hektare, macam-macam luasannya. Pemberdayaan teman-teman tani juga. Jadi binaan Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim juga. Kalaupun permintaan pasar tinggi, sudah siap kerjasama dengan petani lain. Ada di Jonggon, di Tenggarong. Jadi enggak takut kekurangan bahan baku,” papar perempuan kelahiran 1973 itu.
Apalagi setelah mengikuti berbagai kegiatan peningkatan kapasitas. Dari sisi branding, perlahan mulai dikenal. Termasuk ketika mengikuti business matching. Sudah semakin siap untuk perluasan pasar.
“Sehingga enggak hanya di toko-toko saja, tapi kerjasama. Kayak dari hotel, dari badan usaha milik negara (BUMN). Sudah ada kerjasama juga dengan Disbun Kaltim. Kalau ada pesanan, masoknya lewat mereka. Jadi mereka yang salurkan,” lanjut Anesih.
Sejauh ini, jahe merah adalah varian yang paling best seller. Untuk berbagai potensi pengembangan lainnya, Anesih mengaku siap. Dia berharap, produk lokal bisa semakin dikenal luas. Apalagi dengan kelokalan yang dia miliki.
Editor : Uways Alqadrie