Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Berkat Naluri Kuat dari Istri: Kisah Jenderal AH Nasution, Satu-Satunya Jenderal yang Selamat dari Tragedi G30S PKI

Dwi Puspitarini • Senin, 30 September 2024 | 10:40 WIB
Jenderal AH Nasution berhasil selamat dari peristiwa G30S PKI berkat naluri kuat dari istrinya, Johanna Sunarti.
Jenderal AH Nasution berhasil selamat dari peristiwa G30S PKI berkat naluri kuat dari istrinya, Johanna Sunarti.

 

KALTIMPOST.ID, Tragedi G30S/PKI pada malam 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965 mencatat sejarah kelam bagi Indonesia.

Peristiwa tersebut menyebabkan gugurnya tujuh jenderal Angkatan Darat yang diculik, disiksa, dan dibunuh oleh kelompok yang terlibat dalam pemberontakan.

Namun, di antara para korban, ada satu jenderal yang berhasil selamat, yaitu Jenderal Abdul Haris Nasution atau AH Nasution.

Jenderal AH Nasution selamat berkat naluri kuat dari istrinya, Johanna Sunarti. Pada malam naas tersebut, Johanna merasa situasi politik semakin memanas dan mengkhawatirkan keselamatan suaminya.

"Saya merasa suami saya akan dibunuh," ungkap Johanna, yang malam itu terus berjaga di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.

 Baca Juga: Peristiwa G30S PKI: Percobaan Kudeta yang Mengakhiri Partai Komunis di Indonesia

Saat para pelaku G30S/PKI mendatangi rumahnya, Johanna berusaha menahan mereka di pintu kamar, memberikan waktu kepada AH Nasution untuk melarikan diri.

Jenderal Nasution berhasil melompat pagar rumah dan kabur, meskipun kakinya cedera akibat aksinya tersebut.

Namun, keselamatan Jenderal Nasution harus dibayar mahal. Putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution, terkena tembakan saat para pelaku G30S/PKI berusaha menangkap sang jenderal.

Ade Irma meninggal dunia beberapa hari kemudian di rumah sakit, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga Nasution.

 Baca Juga: Keberuntungan Soeharto Lolos dari Target Penculikan PKI dalam Peristiwa G30S/PKI?

Selain itu, ajudan Jenderal Nasution, Kapten Pierre Tendean, yang berada di rumah malam itu juga turut menjadi korban.

Dalam upaya melindungi Nasution, Pierre Tendean mengaku sebagai sang jenderal dan dibawa oleh pelaku.

Tragisnya, tubuh Pierre kemudian ditemukan di Lubang Buaya bersama para jenderal lainnya.

Jenderal AH Nasution dikenal sebagai salah satu sosok yang sangat tegas dan menentang ideologi komunis di Indonesia.

Oleh karena itu, tidak heran jika ia menjadi salah satu target utama dalam peristiwa G30S/PKI.

Saat kejadian, Nasution menjabat sebagai Kepala Staf ABRI dan dianggap sebagai ancaman bagi gerakan komunis.

 Baca Juga: MPR Cabut Nama Soeharto dari TAP MPR 11/1998 dan Pulihkan Nama Baik Gus Dur: Upaya Rekonsiliasi Nasional

Nasution tidak hanya dikenal karena selamat dari peristiwa G30S/PKI, tetapi juga karena perannya yang besar dalam sejarah militer Indonesia.

Ia adalah sosok penggagas perang gerilya, metode yang terbukti sangat efektif dalam melawan penjajah, terutama selama agresi militer Belanda di tahun 1948-1949.

Lahir pada 3 Desember 1918 di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, AH Nasution berasal dari keluarga petani sederhana.

Ia menempuh pendidikan di berbagai sekolah bergengsi, termasuk HIS, sekolah menengah, dan AMS bagian B di Jakarta. Nasution juga sempat melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru di Yogyakarta.

Pada tahun 1940, AH Nasution mendaftar di sekolah perwira cadangan yang dibentuk oleh Belanda.

Setelah lulus, ia ditempatkan sebagai pembantu letnan di Surabaya, memulai karier militernya yang kelak menjadikannya salah satu tokoh besar dalam sejarah militer Indonesia.

Di masa Revolusi Kemerdekaan, AH Nasution diangkat menjadi Panglima Komando Jawa, memimpin perjuangan melawan agresi militer Belanda.

Setelah itu, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Wakil Panglima Besar TNI di bawah Jenderal Besar Sudirman.

Karier militernya terus naik, hingga akhirnya ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1949.

Keberanian dan kecerdasannya dalam strategi militer membuat Nasution menjadi sosok yang sangat dihormati.

Meskipun tragedi G30S/PKI hampir merenggut nyawanya, Jenderal Nasution tetap menjadi figur penting dalam sejarah Indonesia, terutama dalam menentang gerakan komunis di negara ini.

Tragedi ini tidak hanya mengubah hidup Jenderal AH Nasution, tetapi juga menjadi momen penting dalam sejarah Indonesia.

Ia selamat dari upaya pembunuhan tersebut, tetapi harus menghadapi kehilangan yang sangat besar—kehilangan putrinya yang masih sangat muda, Ade Irma Suryani Nasution. (*)

 

Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post

Editor : Dwi Puspitarini
#ade irma nasution #sejarah kelam #Jenderal yang Selamat dari Tragedi G30S PKI #Johanna Sunarti #presiden soekarno #Berkat Naluri Kuat dari Istri #Jenderal AH Nasution