KALTIMPOST.ID, Iran memperingatkan negara-negara yang menyediakan wilayah udaranya bagi Israel untuk melancarkan serangan balasan.
Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan bahwa negara-negara tersebut akan dianggap sebagai musuh oleh Iran.
“Kami telah memberi tahu perwakilan negara lain bahwa Iran akan menganggap musuh siapa pun yang memberikan izin wilayah udaranya untuk serangan Israel,” kata Araghchi, seperti dikutip dari kantor berita Iran, SNN, pada Kamis (3/10/2024). Ia berharap tak ada negara yang memberikan izin bagi Israel.
Baca Juga: Ahmad Muzani Terpilih Jadi Ketua MPR RI 2024-2029, Komposisi Wakil Ketua Hampir Lengkap
Serangan ini terjadi setelah Iran meluncurkan ratusan rudal balistik hipersonik ke Israel pada Selasa (1/10/2024) malam, sebagai bentuk pembalasan atas pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebutkan bahwa target serangan mereka adalah dua pangkalan udara Israel dan markas besar badan intelijen Mossad.
Gambar satelit yang dirilis oleh Planet Labs PBC menunjukkan kerusakan signifikan pada pangkalan udara Nevatim, yang menjadi rumah bagi skuadron jet tempur F-35 Israel.
Militer Israel membenarkan serangan ini, namun membantah adanya kerusakan besar dan korban jiwa.
Baca Juga: KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Awang Faroek Ishak Terkait Dugaan Korupsi IUP di Kaltim
Ancaman Serangan Balasan Israel
Sementara itu, beberapa pejabat Israel menyatakan bahwa mereka akan melakukan serangan balasan.
Bahkan, salah satu sumber pejabat Israel mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran. Ketegangan antara kedua negara semakin memanas, meskipun Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa negaranya tidak mencari perang, tetapi akan merespons setiap ancaman dengan tegas.
“Lebih dari 90 persen rudal kami berhasil mencapai target dan tidak dapat dicegat,” tambah Araghchi, menekankan efektivitas serangan rudal mereka.
Ia juga menyatakan bahwa pihaknya berharap tidak ada negara yang memberikan ruang udara bagi Israel, yang dapat memicu eskalasi lebih lanjut.
Baca Juga: Fenomena Doom Spending: Tren Belanja Impulsif yang Bikin Milenial dan Generasi Z Terjebak Utang
Serangan Israel di Lebanon
Selain serangan balasan terhadap Israel, ketegangan di wilayah Timur Tengah juga meningkat dengan operasi militer Israel di Lebanon Selatan.
Israel melancarkan operasi darat terbatas pada Senin (30/9/2024), dengan sasaran kelompok militan Hizbullah.
Israel mengeklaim tidak ada niatan untuk menduduki wilayah tersebut secara permanen, namun serangan udara telah menargetkan sejumlah komandan penting Hizbullah.
Hizbullah merespons dengan meluncurkan serangan rudal ke Israel utara. Dalam beberapa hari terakhir, jangkauan serangan Hizbullah telah meningkat yang menyebabkan ketegangan di wilayah tersebut semakin memanas.
Serangan antara Iran, Hizbullah, dan Israel diprediksi akan terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Keduanya terus saling melancarkan serangan sebagai bentuk balas dendam atas tindakan militer yang telah dilakukan.
Meskipun demikian, banyak pihak berharap ketegangan ini tidak berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar.
Sementara itu, Iran tetap berpegang pada sikap tegasnya terhadap negara-negara yang memberikan akses wilayah udara kepada Israel. “Kami berharap tidak ada yang memberikan izin semacam itu,” ujar Araghchi. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kalt
Editor : Dwi Puspitarini