Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ketegangan Timur Tengah Gerus Cadangan Devisa RI

Muhammad Rizki • Selasa, 8 Oktober 2024 | 08:10 WIB

Iran meluncurkan ratusan rudal balistik hipersonik ke Israel pada Selasa (1/10/2024).
Iran meluncurkan ratusan rudal balistik hipersonik ke Israel pada Selasa (1/10/2024).


KALTIMPOST.ID,
 Cadangan devisa (cadev) Indonesia menurun pada akhir September 2024. Hal itu sejalan dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) memastikan masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menuturkan, posisi cadev sebesar USD 149,9 miliar bulan lalu. Angka itu turun USD 300 juta dibandingkan per akhir Agustus 2024 sebanyak USD 150,2 miliar. Jumlah cadangan devita saat ini setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

“Perkembangan cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ucap Ramdan, kemarin (7/10).

Menurut dia, prospek ekspor yang positif, neraca transaksi modal dan finansial yang diperkirakan tetap mencatatkan surplus. Sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik sehingga, mendukung tetap terjaganya ketahanan eksternal.

Sementara itu, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyatakan bahwa jumlah cadev di akhir Agustus lalu merupakan rekor tertinggi. Dia menghitung bahwa Indonesia mencatat arus modal masuk bersih sebesar USD 2,76 miliar di pasar saham dan obligasi di sepanjang September 2024. Kepemilikan investor asing pada surat berharga negara (SBN) meningkat USD 1,34 miliar dan membukukan net buy USD 1,42 miliar di pasar saham.

Namun, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) melaporkan arus keluar bersih sebesar USD 3,47 miliar pada periode yang sama. “Selain itu, pemerintah menerbitkan obligasi global dalam dua mata uang yang terdaftar di SEC (Securities and Exchange Commission) masing-masing sebesar USD 1,8 miliar dan EUR 750 juta,” kata Josua kepada Jawa Pos tadi malam.

Sentimen risk-on didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) di sisa tahun ini mulai berkurang. Seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang membukukan data yang kuat. “Sentimen risk-off kemungkinan akan meningkat di masa mendatang karena meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Terutama, antara Israel dan Iran yang dapat meningkatkan permintaan aset-aset yang aman dan memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” imbuhnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, dia memperkirakan BI akan menggunakan cadangan devisanya untuk mengintervensi pasar valuta asing (valas) dan mestabilkan nilai tukar rupiah. Dengan demikian berpotensi mengurangi cadev. Namun, jika ketegangan geopolitik mereda, masih ada potensi untuk arus modal masuk. Sebab, fundamental dan prospek ekonomi Indonesia yang relatif lebih kuat dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Kami memproyeksikan cadangan devisa akan berkisar antara USD 145-155 miliar pada akhir tahun ini. Oleh karena itu, kami mengantisipasi nilai tukar rupiah akan berada pada kisaran Rp 15.300-15.600 per USD pada akhir 2024,” tandasnya. (han/dio)

Editor : Muhammad Rizki
#Israel #perang timur tengah #cadangan devisa indonesia