Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jadi Percontohan, Museum Samarinda Tarik Minat lewat Teknologi dan Koleksi  

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 12 Oktober 2024 | 19:22 WIB

 

MINAT: Satu-satunya di Samarinda, Museum Kota ternyata jadi magnet bagi wisatawan luar. Antusias untuk belajar mengenai sejarah Kota Tepian.
MINAT: Satu-satunya di Samarinda, Museum Kota ternyata jadi magnet bagi wisatawan luar. Antusias untuk belajar mengenai sejarah Kota Tepian.

Menjadi museum pertama di Samarinda, Museum Kota, dibangun sejak 2017. Bangunannya dulu merupakan kawasan gedung SMP 1 dan SMA 1, yang pada tahun ajaran 2013/2014 kegiatan pembelajaran dipindah ke lokasi yang sekarang, Jalan Drs H Anang Hasyim.

Lahan eks dua sekolah tersebut, plus Lapangan Pemuda, kemudian diwacanakan menjadi taman kota saat itu. Pembongkarannya menimbulkan polemik. Apalagi, dua bangunan itu termasuk sekolah bersejarah. Para alumni mengusulkan agar dibangun monumen atau museum untuk mengenang sekolah mereka.

Usulan itu berhasil diwujudkan menjadi Museum Kota Samarinda. Bangunan itu pun resmi dibuka pada 4 Maret 2020 dan di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Samarinda. “Tapi sayang, baru seminggu buka sudah muncul pandemi. Sehingga kami harus mengikuti arahan untuk tutup. Baru aktif kembali November 2022,” beber Kepala Museum Kota Samarinda Ainun Jariah.

Dua tahun tutup, membuat masyarakat bertanya-tanya. Apakah museum benar-benar bisa dikunjungi? Sebab dalam prosesnya, apalagi momen pembukaan perdana malah langsung tutup imbas pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

“Banyak yang mengira museum ini enggak pernah buka. Padahal buka setiap hari kecuali Senin. Kelihatannya memang tidak ramai dari luar, padahal sehari kunjungan itu 200-400 loh. Seminggu ya ribuan,” lanjutnya.

Diakui jika hal itu masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pihak museum. Maka, perlu upaya lebih untuk memperkenalkan. Apalagi, kunjungan masih didominasi oleh luar daerah. Tingginya kunjungan juga imbas arahan sekolah-sekolah di Samarinda untuk kunjungan edukasi berkala.

Hal itu terlihat dari belasan angkot yang terparkir di halaman Museum Kota. Dari dalamnya, keluar para siswa dengan bawahan merah hingga biru. Menyerbu museum sebagai sarana edukasi dari pantauan Kaltim Post, Kamis (10/10).

“Itu juga salah satu pendekatan kami agar museum ini dilirik dikunjungi. Mulai dari dunia pendidikan. Meski milik pemerintah, juga coba dikelola secara profesional. Pendekatan marketing, jadi kami punya paket-paket tour. Sudah termasuk kudapan atau makan siang. Itu yang laku alhamdulillah, jadi memang harus benar-benar serius,” paparnya.

Sebab itu, sejak mulai dibuka kembali, Ainun gencar promosi lewat media sosial. Utamanya Instagram dan Facebook. Dari sana, peningkatan kunjungan umum atau reguler diakui cukup signifikan.

Informasi operasional, layanan hingga jenis-jenis koleksi lengkap diinfokan lewat media sosial. Ainun menyebut bahwa pengelola museum mesti responsif dan menyesuaikan zaman.

Hingga saat ini, tercatat ada 316 koleksi. Terbagi menjadi etnografika atau benda koleksi budaya disiplin antropologi yang merupakan hasil budaya atau identitas suatu etnis. Mulai alat musik, busana adat, motif-motif sarung Samarinda, mandau (senjata khas), kerajinan tangan, hingga obat tradisional.

Lalu koleksi historika, yang memiliki nilai sejarah. Sebagian besar adalah foto yang menggambarkan kehidupan masyarakat Kota Tepian tempo dulu. Hingga prasasti Yupa. Ada pula keramonologi, benda koleksi yang berupa barang pecah belah. “Ada guci-guci yang pemberian Said Sjafran, mantan Bupati Kutai Kartanegara 1989-1994,” bebernya.

Koleksi lukisan hingga teknologika atau benda yang menunjukkan perkembangan teknologi seperti bening dayak atau alat tradisional untuk menggendong bayi. Wadah menginang, bapukung atau tradisi  membuai bayi, hingga alat tenun.

“Untuk koleksi, 80 persen itu tentang Samarinda. Cara dapatnya macam-macam, ada yang pemberian, hibah, ada juga yang imbal hasil atau kita hargai. Jadi tidak menutup kemungkinan koleksi akan terus bertambah,” lanjut Ainun.

Sentuhan modern untuk menarik minat kunjungan juga lewat teknologi touch screen terkait informasi koleksi. Terdapat delapan layar sentuh yang tersebar di area museum. Pengunjung dapat dengan mudah mengakses informasi yang diinginkan.

“Itu bagian dari menarik minat kunjungan untuk generasi sekarang ya. Karena kan kita tahu generasi sekarang ini akrab sama yang layar sentuh. Fokus kami sekarang ingin membangun minat dulu. Datang saja dulu untuk lihat koleksinya. Makanya coba ditumbuhkan sejak usia sekolah,” sebutnya.

Menariknya, museum yang umurnya baru empat tahun itu malah beberapa kali dijadikan tempat belajar bagi pengelola museum lainnya. “Museum-museum yang ada di Kaltim lainnya malah belajar ke sini. Dari Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat itu ke sini. Karena memang kami cukup aktif untuk promosi, ditambah layanan yang juga profesional,” jelas dia.

Semakin ke sini, antusiasme kunjungan perlahan mulai terlihat. Khususnya dari umum. Apalagi jika ada momen atau event tertentu. Salah satunya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) September lalu. "Luar biasa sekali. Khusus MTQ kami tambah jam buka, biasa tutup jam 3 sore, jadi jam 6 sore," ungkap Ainun.

Dijelaskan Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda Barlin Hadi Kesuma, arahnya memang sudah ke teknologi macam augmented reality (AR) pun virtual reality (VR). Namun, yang perlu digarisbawahi adalah menjadikan kunjungan ke museum sebagai prioritas dahulu.

“Bangun minatnya dulu. Jadi pelan-pelan, supaya mereka punya kebiasaan. Kalau di daerah Jawa, ke museum itu sudah biasa, jadi kebutuhan. Di Samarinda, coba dibangun dulu minatnya. Apalagi, orang kita (Samarinda) sendiri belum tentu sudah pernah ke sini. Kebanyakan malah dari luar. Makanya dari kita dulu,” paparnya.

Walau diakui, perkembangan zaman dewasa ini memang sangat pesat. Bukan tak mungkin koleksi museum bisa dengan mudah dicari lewat berselancar di dunia maya. Museum mesti lebih inovatif dan proaktif untuk menggaet pengunjung. Juga untuk menjaga eksistensinya. Upaya revitalisasi juga sudah diajukan. Namun tampaknya masih belum menjadi prioritas. Disebutkan jika anggarannya belum ada.

“Tapi semakin ke sini, minat itu perlahan ada. Di Samarinda, museum ini termasuk yang peringkat tiga untuk destinasi wisata. Mereka yang dari luar, sangat penasaran ingin ke sini. Kenapa tidak dari masyarakatnya sendiri? Mungkin karena merasa dekat, bisa kapan saja ke sini," tutupnya. (***)

Editor : Duito Susanto
#Museum Samarinda #koleksi #teknologi