Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Lapsus Minggu Ini: Nasib Museum di Kaltim Masih Sebatas Menjaga Eksistensi Sejarah, Generasi Muda Makin Menjauh

Muhammad Ridhuan • Minggu, 13 Oktober 2024 | 07:05 WIB

Ilustrasi Yudi Kaltim Post
Ilustrasi Yudi Kaltim Post
KALTIMPOST.ID, Museum seharusnya bisa menjadi ruang publik. Agar generasi muda mengenal kebudayaan sebagai jati diri bangsa, sekaligus memperkuat nalar kritis. 

Sekelompok ibu-ibu bergamis putih dan pria berpeci tampak antre di loket penjualan tiket Museum Mulawarman, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), Sabtu (12/10). Rombongan tersebut lantas masuk, berkeliling, sambil sesekali berfoto hingga berswafoto dengan latar belakang berbagai benda dan koleksi yang dipamerkan. 

“Kami dari Kalsel. Lebih tepatnya Kabupaten Balangan. Ada 100 orang yang datang ke museum ini. Dulu rutin. Setelah pandemi baru kali ini lagi berkunjung. Saya lihat koleksinya masih bagus dan semoga tetap terawat,” ungkap salah seorang pengunjung, Rusmansyah yang datang bersama anak dan istrinya, Sabtu (12/10). 

Datang menggunakan tiga bus, Rusmansyah mengaku berkunjung ke Museum Mulawarman sudah seperti kewajiban jika bertandang ke Kaltim. Selain sebagai bentuk liburan dan ziarah ke makam sultan, juga ingin mengenalkan sejarah kepada anaknya yang beranjak remaja. Baginya, melalui benda-benda yang dipamerkan di museum, setidaknya sang anak bisa paham dan mencintai kebudayaan lokal. 

Sayangnya menurut keterangan pengelola Museum Mulawarman, orang lokal di Tenggarong justru tidak se-antusias wisatawan dari luar Kukar. Itu terlihat dari jumlah kunjungan yang disebut masih minim jika dibandingkan sebelum masa pandemi Covid-19. Meski tidak ada angka pasti jumlahnya, namun pengelola mengambil angka kasar kurang dari setengah jumlah kunjungan pada lima tahun lalu. 

“Kunjungan jika dibandingkan sebelum Covid sangat jauh berkurang. Karena kami memang sempat tutup ketika Covid. Dan ini berat sekali mendatangkan pengunjung. Yang datang memang beragam, dari berbagai kabupaten/kota di Kaltim. Kecuali orang Tenggarong itu sangat sedikit sekali yang mau ke sini (Museum Mulawarman). Dari mancanegara juga tergolong sedikit,” ungkap Kasubag Tata Usaha UPTD Museum Negeri Mulawarman, Sugiyono Ideal. 

Sebenarnya UPTD Museum Mulawarman sudah memiliki program untuk menarik kunjungan. Terutama bagi generasi muda khususnya pelajar. Bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Kukar, ada Gerakan Sekolah Masuk Museum. Gerakan ini yang membuat selain wisatawan dari luar daerah, museum ramai dikunjungi pelajar. Namun diakui Sugiyono, gerakan ini belum maksimal menyerap kunjungan. Karena itu perlu lebih banyak lagi program serupa agar meningkatkan minat masyarakat khususnya generasi muda. 

“Sayangnya pasca Covid anggaran kami berkurang. Jadi kegiatan sosialisasi mengenalkan museum dari masih minim. Namun kami akan terus berupaya agar museum bisa lebih banyak dikenal luar dan masyarakat berminat datang. Salah satu yang pernah kami lakukan adalah pameran temporer dan pameran lain baik di dalam maupun di luar museum,” ungkap Sugiyono enggan menyebut berapa besar anggaran yang diterima Museum Mulawarman khususnya dari dana APBD. “Cukup-cukup saja bagi kami,” jawabnya ditanya soal nominal. 

Salah seorang pegawai juru konservasi, Cuix Radiansyah, menambahkan bahwa saat ini Museum Mulawarman memiliki 2.500 benda dan koleksi museum yang dipamerkan di dua gedung. Namun angka tersebut masih separuh. Karena 2.500 lainnya berada di dalam gudang. Tidak hanya koleksi dan replika benda dari Kerajaan Kutai, namun juga benda dan replika peninggalan dari Kerajaan Tiongkok hingga kerajinan dari berbagai kebudayaan se-Nusantara. 

“Seperti hari ini (kemarin) ada perawatan gamelan dan topeng. Kita jaga koleksi agar tetap awet. Ada 10 orang yang membersihkan dan mengonservasi,” ucap Radiansyah. 

Dari Kukar, Kaltim Post juga berkunjung ke Rumah Dahor Heritage di Balikpapan. Meski lokasi ini bukan museum, namun menjadi salah satu tempat sejarah yang juga banyak diminati wisatawan lokal dan mancanegara. Berawal pada 2016 lalu, saat Pertamina memutuskan menjadikan rumah-rumah pekerja kilang yang dibangun sejak era Bataafsche Petroleum Matschappij (BPM) sebagai sebuah situs sejarah. Bangunan-bangunan panggung tersebut berlokasi di Jalan Dahor, Kelurahan Baru Ilir, Balikpapan Barat. 

Merupakan sebuah kompleks perumahan sekaligus bagian dari saksi bisu sejarah panjang Balikpapan sejak masa kolonial Belanda di Balikpapan. Mulai era beroperasinya BPM, Perang Dunia ke-2 di mana terjadi perebutan wilayah Belanda oleh Jepang, hingga perkembangan Kota Minyak hingga 100 tahun lebih. Memiliki model rumah panggung kotak beratap kerucut. Dengan dominasi bahan kayu dengan sentuhan gaya kolonial, masyarakat kemudian banyak mengenalinya sebagai Rumah Dahor. 

“Awalnya di 2015 Pertamina memutuskan untuk mengosongkan Rumah Dahor sebagai rumah dinas karyawan. Nah untuk memaksimalkan ini sebagai cagar budaya, Pertamina RU V Balikpapan mengundang relawan untuk ikut merawat di 2016,” ungkap salah satu relawan Dahor Heritage, Rudiansyah. Sebagai informasi, nama Dahor diambil dari nama sebuah sumur minyak BPM pada 1930-1939 yang berada di daerah Tabalong Kalsel, yang berbatasan juga dengan Kabupaten Paser. 

Rudiansyah melanjutkan, kunjungan ke Rumah Dahor cukup meningkat pesat sejak adanya Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kaltim. Banyak tamu dan turis dari berbagai daerah dan luar negeri datang. Rata-rata dari mereka sebelumnya mencari tahu destinasi wisata yang wajib dikunjungi jika berada di Balikpapan. Dan berkat arus informasi dari media sosial, Rumah Dahor jadi salah satu titik favorit. 

“Kalau lokal banyak dari kalangan pelajar juga. Kami banyak dibantu dari komunitas dan lembaga-lembaga pendidikan dan dunia kampus. Alumni-alumni dan organisasi pun sering berkunjung. Adapun dari luar negeri kebanyakan karena ada faktor sejarah.

Misal datang karena dulu ayah atau kakeknya pernah tinggal dan tugas di Balikpapan. Tapi selain itu juga banyak. Biasanya dari duta besar negara-negara yang pernah ke Balikpapan pasti ke sini,” ujarnya. 

Meski makin diminati, Rudiansyah mengakui masih perlu inovasi dan dukungan. Di mana di era teknologi dan digitalisasi saat ini, sebagai salah satu lokasi belajar dan mengenal sejarah untuk generasi muda, situs cagar budaya seperti Rumah Dahor perlu ditingkatkan fasilitasnya. Seperti penambahan sarana audio visual yang bisa menampilkan sejarah Balikpapan. Termasuk panduan-panduan yang lebih kompatibel dengan proses belajar mengajar bagi para pelajar yang datang. Apalagi kata dia, sekolah punya program yang mewajibkan belajar langsung ke lokasi museum atau situs cagar budaya sebagai salah satu sarana pembelajaran. 

“Untuk bangunan alhamdulillah disokong penuh perawatannya dari Pertamina. Kami relawan juga merawat kondisinya termasuk koleksi yang kami kumpulkan agar terus bersih dan terjaga. Namun memang perlu ada inovasi. Tetapi ini juga berangkat lagi kepada dana. Di mana kan hingga kini juga tidak menarik biaya kepada pengunjung. Tidak ada donatur juga. Hanya ada kotak sumbangan,” tuturnya. 

Rudiansyah sendiri mendukung jika Balikpapan punya museum. Di mana saat ini satu-satunya museum resmi yang ada di Kota Beriman yakni Museum Kodam VI/Mulawarman yang dikelola TNI. Sementara untuk museum yang menampilkan benda dan koleksi sejarah secara utuh Balikpapan belum ada. 

“Rumah Dahor sendiri bukan museum. Tetapi kalau dari Pemkot Balikpapan mau bangun museum saran saya kumpulkan dulu benda dan koleksi apa yang mau dipamerkan. Jangan sampai bangunannya ada tapi tidak ada isinya,” ungkapnya. 

 

Editor : Uways Alqadrie
#kukar #Museum Mulawarman