Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Piala Dunia 2026

Pesta Nondoi, Ritual Sakral Lestarikan Budaya Paser, Digelar di Rumah Adat, Mulai 28 Oktober-2 November

Ari Arief • Senin, 14 Oktober 2024 | 12:35 WIB

GOTONG-ROYONG: Warga sedang bergotong-royong memotong batang pohon untuk dipersiapkan dalam kegiatan Pesta Nondoi 2024. (FOTO: ARI/KP)
GOTONG-ROYONG: Warga sedang bergotong-royong memotong batang pohon untuk dipersiapkan dalam kegiatan Pesta Nondoi 2024. (FOTO: ARI/KP)
KALTIMPOST.ID, Pesta Nondoi adalah sebuah upacara adat sakral, sarat makna dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Ritual ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah penghormatan terhadap leluhur dan permohonan berkah untuk kesejahteraan masyarakat.

Humas Lembaga Adat Paser (LAP) PPU, Eko Supriyadi, menjelaskan, Pesta Nondoi pada tahun ini dilaksanakan yang ke-11 kalinya. “Kegiatan ini bakal digelar di Rumah Adat Kuta Rekan Tatau di Kelurahan Nipahnipah, Kecamatan Penajam, PPU mulai 28 Oktober hingga 2 November 2024,” kata Eko Supriyadi.

Diterangkannya pula, asal-usul kata nondoi adalah salah satu nama dari kegiatan belian Paser. Ritual ini bertujuan untuk membersihkan kampung dari segala hal negatif, baik itu secara fisik maupun spiritual. Masyarakat Paser percaya bahwa dengan melaksanakan Nondoi, mereka akan terhindar dari segala macam malapetaka dan mendapatkan berkah berupa kesuburan tanah, kesehatan, dan rezeki yang melimpah.

Saat ini, kata dia, para pihak terkait telah memulai dengan mempersiapkan sarana dan prasarana dengan bergotong-royong. Karena, upacara Nondoi berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan seluruh anggota masyarakat, sehingga diperlukan kesiapan sejak dini.

Beberapa rangkaian kegiatan yang biasanya dilakukan, sebut Eko, antara lain, parade budaya, pergelaran seni dan budaya seluruh suku yang ada di PPU, lokakarya kuliner, manuskrip, penetapan pakem motif batik dan ukiran, edukasi membatik kepada anak pendidikan anak usia dini (PAUD) dan SD, dan juga menerima kunjungan dari sekolah-sekolah yang ada di PPU dalam kegiatan P5. Yaitu, potensi diri, pemberdayaan diri, peningkatan diri, pemahaman diri, dan peran sosial.

Di samping itu, lanjut dia, ada kegiatan pembersihan lingkungan. Sebelum upacara inti dimulai, seluruh anggota masyarakat bersama-sama membersihkan lingkungan sekitar kampung. Kemudian, dilanjutkan persembahan sesaji. Berbagai jenis sesaji disiapkan sebagai persembahan kepada para roh leluhur. Sesaji ini biasanya berupa makanan khas, minuman tradisional, dan hasil bumi.

Lalu, ada tari-tarian adat. Selama upacara berlangsung, para penari akan menampilkan tarian-tarian adat yang memiliki makna simbolik. Yang tak kalah pentingnya adalah doa bersama. Masyarakat berkumpul untuk memanjatkan doa bersama, memohon perlindungan dan berkah dari Tuhan yang Maha Esa.

Dikatakannya, dalam era globalisasi seperti sekarang ini, penting bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi-tradisi budaya seperti Pesta Nondoi. Dengan melestarikan Nondoi, tidak hanya menjaga kelangsungan hidup budaya Paser, tetapi juga memperkuat identitas dan jati diri bangsa. “Seperti nondoi sebelumnya, setiap tahun nondoi menggunakan tema sesuai dengan keariarifan lokal. Tema nondoi kali ini "Mangku Awat, Mangku Tengkuat, Mangku Pekingat yang artinya saling membantu, saling menguatkan dan saling mengingatkan,” kata Eko Supriyadi.

Editor : Uways Alqadrie
#Kabupaten Paser #Kabupaten ppu