KALTIMPOST.ID, Pada Jumat, 11 Oktober 2024, pesawat Air Canada AC19 mengalami turbulensi hebat saat terbang dari Vancouver menuju Singapura.
Peristiwa ini terjadi dua jam setelah lepas landas ketika pesawat melintasi Samudra Pasifik.
Turbulensi mendadak tersebut membuat sejumlah penumpang terlempar dari tempat duduk mereka, dan makanan berserakan di lorong hingga menempel di langit-langit kabin.
Seorang penumpang yang mengalami insiden tersebut membagikan foto kondisi kabin pasca-turbulensi di Reddit, yang kemudian viral di media sosial.
“Turbulensi berlangsung selama beberapa menit dan sangat parah sehingga banyak barang dan bahkan beberapa orang terlempar dari tempatnya," tulis salah satu penumpang di unggahan tersebut.
Meski turbulensi terasa sangat menakutkan, tidak ada laporan penumpang yang mengalami cedera serius.
Banyak penumpang memuji kru pesawat yang tetap tenang dan profesional dalam menghadapi situasi darurat tersebut.
"Kru segera mengumpulkan kantong sampah dan membantu penumpang dengan cepat," ujar seorang penumpang yang berterima kasih atas kerja sama kru kabin.
Makanan, minuman, dan peralatan terlempar ke seluruh kabin akibat turbulensi. Seorang penumpang menggambarkan situasi dengan mengatakan, “Rasanya seperti naik roller coaster. Kopi menetes dari langit-langit dan saya menemukan butiran nasi di rambut saya setelahnya.”
Baca Juga: Tes SKD CPNS Samarinda TA 2024 Digelar 5-6 November, LPP RRI Samarinda Dipilih Jadi Lokasi Ujian
Meskipun kondisi di dalam kabin kacau balau, kru pesawat tetap berusaha memberikan kenyamanan bagi penumpang.
Mereka membagikan taplak meja dari kelas bisnis untuk membersihkan kursi yang basah akibat tumpahan minuman.
"Penghargaan tinggi untuk kru yang menjaga ketenangan. Jangan lupa selalu kenakan sabuk pengaman!" tulis penumpang lain.
Insiden turbulensi ini menambah daftar panjang kejadian serupa yang kian sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Agustus 2024, pesawat Korean Air juga mengalami turbulensi parah yang menyebabkan 12 penumpang terluka.
Bahkan, pada Mei 2024, seorang penumpang tewas akibat insiden turbulensi di pesawat Boeing Singapore Airlines.
Para ahli menyebutkan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya intensitas turbulensi di udara.
Penelitian dari Universitas Reading, Inggris, pada 2023 menunjukkan bahwa turbulensi udara jernih meningkat di seluruh dunia. "Turbulensi semakin sering terjadi, terutama di Atlantik Utara," ungkap penelitian tersebut.
Dennis Tajer, kapten American Airlines yang memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun, menekankan pentingnya mengenakan sabuk pengaman setiap saat selama penerbangan.
“Meskipun tidak diwajibkan oleh hukum, sabuk pengaman adalah perlindungan terbaik bagi penumpang selama di udara," kata Tajer.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa durasi turbulensi parah di rute penerbangan Atlantik Utara meningkat hingga 55 persen antara tahun 1979 hingga 2020.
Para ilmuwan mengaitkan hal ini dengan perubahan kecepatan dan arah angin yang disebabkan oleh perubahan iklim. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post
Editor : Dwi Puspitarini