Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lee Hsien Yang Akhirnya Mengungsi ke Inggris, Gara-Gara Rumah Warisan Lee Kuan Yew

Dwi Puspitarini • Kamis, 24 Oktober 2024 | 16:10 WIB

 

Lee Hsien Yang, putra bungsu dari pendiri Singapura modern, Lee Kuan Yew.
Lee Hsien Yang, putra bungsu dari pendiri Singapura modern, Lee Kuan Yew.

 

 

KALTIMPOST.ID, Putra bungsu pendiri Singapura, Lee Hsien Yang, mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya kini tinggal di Inggris setelah memutuskan mencari suaka sejak 2022.

Keputusan ini diambil setelah cekcok berkepanjangan dengan kakaknya, Lee Hsien Loong, yang masih menjabat sebagai Perdana Menteri Singapura kala itu.

Cekcok mereka bermula dari perbedaan pendapat terkait rumah warisan mendiang ayah mereka, Lee Kuan Yew.

Lee Hsien Yang dan adiknya, Lee Wei Ling, berkeras agar rumah bersejarah tersebut dihancurkan sesuai dengan surat wasiat sang ayah.

Namun, Loong menolak usulan itu. "Kami mengikuti pesan ayah kami dalam surat wasiatnya bahwa rumah itu harus dihancurkan," kata Yang pada Selasa (22/10).

Yang mengungkapkan keputusannya mencari suaka di Inggris setelah merasa keluarganya menghadapi risiko penganiayaan di Singapura.

 Baca Juga: Prabowo Subianto Ancam Pecat Pejabat yang Tak Beri Pelayanan Terbaik ke Masyarakat

Konflik warisan ini pertama kali mencuat pada 2017 ketika Lee Hsien Loong ingin mempertahankan rumah tersebut sebagai situs bersejarah di Singapura.

Sebagai Perdana Menteri, ia merasa penting agar rumah peninggalan Lee Kuan Yew dijaga sebagai simbol warisan negara. Namun, Yang menuduh kakaknya memiliki agenda politik di balik rencana itu.

"Popularitasnya terkait erat dengan warisan Lee Kuan Yew," ujar Yang dan Wei Ling dalam pernyataan bersama pada 2017.

Rumah bersejarah yang menjadi sumber konflik ini memiliki nilai penting bagi Singapura. Rumah tersebut menjadi saksi pendirian Partai Aksi Rakyat (PAR), partai yang hingga kini memegang kendali pemerintahan Singapura.

Selain itu, rumah ini juga mencerminkan perjuangan Lee Kuan Yew dalam mendirikan Singapura sebagai negara yang berdaulat.

 Baca Juga: Menteri Desa Yandri Susanto Klarifikasi Polemik Kop Kemendes: 'Tak Ada Uang Negara yang Dipakai!'

Lee Hsien Loong bersikukuh mempertahankan rumah itu, meskipun Yang menegaskan bahwa properti tersebut sudah dibeli olehnya, dan ia memiliki hak penuh atas nasib rumah tersebut.

Pertikaian ini mencapai puncaknya pada 2020, ketika pengadilan Singapura menuduh Yang dan istrinya, Lee Suet Fern, telah memanipulasi surat wasiat Lee Kuan Yew.

Pada 2022, Yang dan keluarganya mengungsi ke Inggris. "Kami menghadapi risiko penganiayaan akibat serangan dari pemerintah Singapura," ujar Yang.

Meskipun demikian, pemerintah Singapura membantah tuduhan ini dan menegaskan bahwa Yang dan istrinya bebas kembali ke Singapura kapan saja.

"Mereka bebas dan selalu bebas untuk kembali ke Singapura," kata pemerintah Singapura seperti dikutip Channel News Asia.

 Baca Juga: Laba Unilever Anjlok: Boikot Produk dan Daya Beli Melemah Jadi Biang Keladi, Ini Strategi Pemulihan yang Disiapkan

Rumah warisan yang menjadi inti konflik ini memiliki nilai sejarah yang besar. Selain menjadi tempat tinggal keluarga Lee, rumah tersebut menjadi saksi perjuangan Lee Kuan Yew dalam membangun Singapura dari kota pelabuhan menjadi negara maju.

Di sinilah Lee Kuan Yew membentuk PAR dan menggalang dukungan untuk memperjuangkan kemerdekaan Singapura.

Meskipun demikian, Lee Kuan Yew, sebelum wafat, telah menyampaikan keinginannya agar rumah tersebut dihancurkan dan tidak dijadikan tempat bersejarah.

Ia ingin memastikan bahwa tempat tinggal keluarganya tidak menjadi objek wisata yang dipenuhi pengunjung. (*)

 

Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel 

Editor : Dwi Puspitarini
#Konflik keluarga #Rumah Warisan Lee Kuan Yew #Lee Hsien Yang Akhirnya Mengungsi ke Inggris #lee kuan yew #perang saudara #politik #pecah belah #tuduhan #inggris #suaka #rumah warisan #singapura #pengungsian