Di Sangalaki, ratusan tukik dari jenis Penyu Hijau menetas di pulau seluas 280 hektare itu. Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Seksi Wilayah I Berau mengawal pelestarian satwa dari keluarga Cheloniidae itu dari ancaman kepunahan.
"Ada juga Penyu Sisik tapi lebih sering Penyu Hijau," ungkap Mitra Polisi Hutan BKSDA Kaltim, Wilianto saat sejumlah awak media berkunjung ke Pulau Sangalaki, Minggu Siang, 27 Oktober 2024.
Para polisi hutan yang bertugas, rutin menyisir bibir pantai di mana lokasi penyu bertelur di sepanjang pantai Sangalaki. Jika lokasi sarang dirasa rawan dari ancaman predator atau ketinggian air laut. Barulah sarang dipindahkan ke tempat penetasan yang tersedia di sekitar pos jaga di taman wisata alam tersebut.
Setiap induk Penyu Hijau, lanjut Wili, bisa bertelur hingga 100 butir. Telur-telur itu punya masa inkubasi sekitar 50-60 hari bergantung cuaca untuk menetas menjadi tukik atau anak penyu. September-Oktober jadi bulan paling banyak telur Penyu menetas lantaran masa bertelur para induk Penyu banyak terjadi di Bulan Juni-Agustus.
Setiap tukik yang menetas itu akan direhabilitasi selama sehari, sebelum dilepas ke alam liar. Hak itu ditempuh untuk meningkatkan peluang hidup para tukik dari predator di daratan, seperti kepiting pantai, tikus, hingga biawak.
"Memang tidak semua tumbuh dewasa karena di lautan masih ada predator lain yang mengancam. Tapi setidaknya menekan peluang mereka mati ketika menetas," jelasnya.
Upaya konservasi sudah ditempuh, peluang tukik menjadi dewasa hingga siap kembali bertelur sangatlah kecil. Hanya 5 dari 100 telur yang berpeluang jadi dewasa di alam liar. Dilanjutkannya, menurut sejumlah sumber, penyu-penyu akan kembali ke tempat di mana dia menetas untuk bertelur ketika dewasa di rentang umur 10-15 tahun.
"Meski dipantau berkala, di umur remaja mereka kadang hilang entah ke mana. Saat memasuki umur dewasa untuk bertelur baru akan terlihat di sekitar Sangalaki," tutupnya
Editor : Uways Alqadrie