Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menikmat “Senja” di Desa Pela, Dulu Ikut Menangkap Pesut Mahakam, Sekarang Senang Hidup Berdampingan

Dwi Restu Amrullah • Rabu, 30 Oktober 2024 | 12:15 WIB
MENIKMATI HIDUP: Yusni menyempatkan berbincang dengan pengunjung yang menikmati wisata di Desa Pela, Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Kini senang kampungnya terdengar sampai Eropa.
MENIKMATI HIDUP: Yusni menyempatkan berbincang dengan pengunjung yang menikmati wisata di Desa Pela, Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Kini senang kampungnya terdengar sampai Eropa.

 

Usia adalah angka. Bisa jadi itu benar. Karena saya melihat langsung Pak Yusni. Salah satu tetua di Desa Pela, satu desa di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Usianya yang sudah senja, namun masih semangat.

 

DWI RESTU, Kota Bangun, Kukar

 

AIR mengucur pelan dari keran. Tubuh Yusni membungkuk. Tangannya menadah. Mulai cuci tangan, berkumur, membasuh wajah, ditutup dengan membersihkan kaki kanan dan kiri.

Langit masih gelap. Azan Subuh berkumandang di masjid. Mengenakan sarung dengan kopiah putih lengkap dengan pakaian gamis. Dia tak ingin ketinggalan Subuh berjamaah di masjid.

Senyum tipisnya keluar. Masih dengan ciri khas gaya warga Pela. Diikuti kepala yang sedikit mengangguk. “Subuhan dulu,” ujarnya. Seberes salat, dia tak lantas kembali istirahat. Tanpa alas kaki, dia menapaki jalan di Desa Pela yang lebarnya tak sampai 3 meter itu. Ternyata jalan kaki setiap pagi sudah jadi kebiasaan. Intinya bergerak. 

Yusni rupanya satu dari sekian puluhan orang yang dulunya menangkap pesut. “Sekarang usia sudah 76 tahun, jadi pendengaran agak sulit. Makluim sudah usia lanjut,” ungkapnya diikuti senyumnya yang tipis.

Yusni bercerita bahwa dulu dia ikut menangkap. “Yang nangkap itu bergiliran. Sehari lain orangnya, hari berikutnya lain lagi,” ujarnya dengan logat khas Banjar. “Sekitar dua bulan itu proses penangkapan. Tapi kayaknya lebih karena itu hari-hari nyari,” ujarnya.

Dahulu, mamalia air yang merupakan endemik Kalimantan itu masih banyak. “Ada mungkin 200–300 ekor. Pesut yang ditangkap yang besar, enggak ada ambil yang kecil. Kalau sudah ketangkap itu bepikul dua sampai tiga orang,” akunya.

Setelah terkumpul, baru diangkut menggunakan helikopter. “Di sini namanya masyarakat dulu enggak pernah lihat helikopter, ramai jadi melihati. Sekali angkut itu dua ekor. Naik-turunnya dulu di Sepinggan (Balikpapan). Helikopter dulu turunnya di lapangan SD sana,” ucapnya sembari menunjuk ke arah sekolah dasar.

Warga yang dulu ikut menangkap kebanyakan sudah tak lagi tinggal di Desa Pela. “Banyak yang pindah karena dulu di sini (Desa Pela) banjir besar. Itu menangkapnya bergiliran, siang dan malam gin nangkap. Jadi sekali turun itu sampai lima orang,” imbuhnya.

Meski sudah banyak lupa cerita penangkapan Pesut Mahakam, sedikit-sedikit Yusni mengingat momen penangkapan di era 1970-an itu. Dulu, lanjut Yusni, tak ada yang tahu maksud dan tujuan utusan orang-orang Jakarta bertandang ke Desa Pela untuk membawa Pesut Mahakam. Nyatanya, Pesut Mahakam itu jadi tujuan komersil.

“Dari Jakarta itu ada beberapa perwakilan nginap di sini (Desa Pela). Sebenarnya di sini pesut mencari makan di Sungai Mahakam. Seingat saya tiga kali ambil. Tangkap pesut itu atas perintah gubernur. Mungkin izin pemerintah di Jakarta juga,” ucapnya.

Nah, warga yang ikut menangkap itu diberi honor. “Enggak jadi apa-apa honornya, sekadar bertahan hidup seminggu lah. Sekali terjun empat sampai lima orang. Namanya dulu enggak tahu terancam musnah. Orang-orang asing itu juga ramai datang ke sini dulu. Melihati penangkapan itu,” sambung Yusni.  

Saya penasaran. Setelah “kasak-kusuk” di YouTube, mendapati sebuah dokumen yang sempat terabadikan. Tepatnya pada era 1974. Dari dokumentasi itu menyebut ada delapan ekor pesut ditangkap. Penangkapan itu menggunakan jala (rengge). Bahkan ada keterlibatan warga asing yang juga ikut menangkap. Gambar bergerak hitam-putih itu adalah satu cerita yang dikisahkan Pak Yusni.

Era itu belum ada aturan yang mengikat tentang Pesut Mahakam. Pasalnya, pesut termasuk binatang dilindungi sejak Undang-Undang No 5 tahun 1990.  

Ihwal kondisi Pesut Mahakam yang terancam musnah membuat PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), perusahaan di bawah naungan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) ikut ambil peran. Ditambah hasil riset RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) terkait populasi pesut semakin berkurang, PHM dengan Pemprov Kaltim, Pemkab Kukar, Politeknik Samarinda dan pihak lainnya menghadirkan inovasi. Demi mengurangi kematian pesut, hadir Banana Pinger Akustik. Sebuah alat yang mampu memberikan pemancar ke Pesut Mahakam untuk menjauh dari rengge.

Program itu dikenal “Komik Pesut Mahakam”. Komik yakni konservasi endemik. Menjadi program PHM mengonservasi satwa yang ancaman punahnya cukup tinggi.

Hadirnya PHM seolah memberikan peningkatan pemahaman ke masyarakat. Perlahan tapi pasti, Desa Pela semakin diperhitungkan. Bukan hanya tujuan wisata saja, Sungai Pela juga “rumah” bagi Pesut Mahakam.

Sekitar 66 persen, kematian pesut akibat terjebak jaring nelayan. Sekitar 10 persen karena tertabrak kapal, kemudian 5 persen faktor usia, keracunan dan terkena setrum listrik.

Isna Hakiman, sebagai Community Developmen PT PHM lihai menceritakan nasib pesut saat ini. Namun, membangun kesadaran masyarakat desa, utamanya para nelayan adalah langkah awal yang diambil. Dia bercerita tentang Viona, dianggap sebagai neneknya pesut-pesut di Sungai Pela. Viona punya ciri khas, sehingga mudah dikenali. “Kalau Viona muncul, kemungkinan ada pesut yang baru melahirkan,” ujarnya.

Kini, nelayan terus berupaya menjaga rumah pesut. Masyarakat di Pela ingin hewan langka itu terus bertambah. Karena itu sejalan dengan usaha masyarakat yang ada di sana.

Data yang disampaikan PHM bahwa status konservasi sudah sampai tahap Criticall Endangered (CR). Sedikit lagi punah. Guna menyelamatkan mamalia air itu, PHM memasifkan penggunaan Banana Pinger Akustik. Alat tersebut mengeluarkan suara pulse (ultrasonik) agar pesut menjauhi jaring.

Pesut sejatinya memiliki kemampuan itu, mendeteksi dan menghindari rintangan, dengan menggunakan gelombang ultrasonik. Frekuensi alat tersebut ditangkap pesut. Sehingga bisa menghindari jala-jala yang disebar nelayan.

Namun, ada sisi lain yang juga cukup menjadi perhatian. Yakni sekolah. Di Pela, hanya ada satu sekolah. Itu pun tingkat dasar.          

Head of Communication Relations and CID Pertamina Hulu Mahakam juga rupanya tak mengeyampingkan dunia pendidikan di sana. Sejak 2023, PHM telah melibatkan pelajar sekolah dasar di Desa Pela untuk menjadi bagian dalam kampanye lingkungan. “Upaya untuk menjaga kebersihan sungai dari sampah serta upaya konservasi pesut mahakam,” ujarnya.

Tahun ini, kegiatan dilanjutkan dengan melalukan campaign dengan mencetak buku cerita untuk anak sekolah terkait sampah dan konservasi Pesut Mahakam.

“Desa Pela itu luar biasa, datang lah ke sana, lihat bagaimana pesonanya desa tersebut,” sambung Frans.

PHM dengan road map konservasi sekaligus ekowisata sukses berjalan. Hingga saat ini ada lima program besar sudah dijalankan. Mulai Banana Pinger Akustik, populasi kehidupan pesut di Sungai Pela, kualitas air, lingkungan, stasiun pantau pesut, pembangunan museum nelayan dan landmark.

Pengembangan lain adalah alat tangkap ikan bagi nelayan namun ramah lingkungan. Memberikan pelatihan bagi warga lokal sebagai tour guide, homestay, dan kerajinan batik. Ada juga pengelolaan sampah organik. “Kami tak berhentu pendampingan, demi membangun kemandirian warga,” sambung Frans.

Pada 2022, Desa Pela ditetapkan sebagai juara III Desa Nasional dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia. Setahun berselang, Desa Pela ditetapkan sebagai Member of The Best Tourism Village Upgrade Programme 2023 dari United Nation World Tourism Organization. Ada 20 desa termasuk Desa Pela di seluruh dunia yang mendapatkan penobatan itu. Sebuah pencapaian luar biasa. Sehingga Desa Pela sudah dikenal hingga Eropa.

Selain itu, Pokdarwis 3B Desa Pela diganjar penghargaan Kalpataru 2024, masuk katagori penyelamat. Itu didapatkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pertamina Hulu Mahakam (PHM) rupanya juga mendapatkan kesuksesan. Apresiasi tinggi tingkat internasional didapatkan The 15th Global CSR & ESG Summit & Awards 2023 di Vietnam.

Usia Yusni memang sudah ‘senja’. Namun, satu hal yang saya iri dengan beliau, setiap hari Pak Yusni bisa menikmati senja yang luar biasa. Terima kasih PHM, terima kasih Desa Pela, sudah memberikan saya inspirasi tentang Senja di Desa Pela.

Editor : Dwi Restu A
#wisata #kutai kartanegara #Desa Pela