Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mengenal Electoral College, Sistem Pemilihan Presiden Amerika yang Berbeda dengan Indonesia

Erwin D. Nugroho • Selasa, 5 November 2024 | 11:45 WIB

Sistem pemilihan presiden di Amerika berbeda dengan Indonesia. Bagaimana warga negeri Paman Sam itu menentukan pemimpin?
Sistem pemilihan presiden di Amerika berbeda dengan Indonesia. Bagaimana warga negeri Paman Sam itu menentukan pemimpin?


KALTIMPOST.ID, Hari ini, 5 November 2024, seluruh dunia tengah menyoroti Amerika Serikat yang menggelar pemilihan presiden.

Pemilu kali ini menampilkan dua kandidat utama yang sudah tidak asing di panggung politik: mantan Presiden Donald Trump dari Partai Republik dan Wakil Presiden Kamala Harris dari Partai Demokrat.

Trump, yang mencalonkan diri untuk kembali ke Gedung Putih, menghadapi Harris, yang jika menang akan menjadi presiden perempuan pertama dalam sejarah Amerika Serikat.

Prediksi pemenang Pilpres Amerika 2024 sangat beragam, dengan survei menunjukkan persaingan ketat antara kedua kandidat.

Negara bagian swing states seperti Florida, Pennsylvania, dan Michigan menjadi fokus utama, karena hasil di negara bagian ini sering kali menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Meskipun Trump dan Harris masing-masing memiliki basis pemilih yang kuat, hasil akhir tetap sulit diprediksi mengingat faktor-faktor seperti strategi kampanye di swing states dan partisipasi pemilih.

Dalam sistem pemilu Amerika Serikat, bukan popular vote atau suara rakyat yang menjadi penentu langsung kemenangan, melainkan suara Electoral College yang unik.

sBaca Juga: Hari Ini Pilpres Amerika Serikat: Hasil Survei Terakhir Kamala Harris Unggul Atas Donald Trump

Untuk memberikan gambaran lebih mendalam, berikut adalah rincian tentang bagaimana sistem Electoral College ini bekerja, dan apa bedanya dengan pemilihan presiden di Indonesia.

1. Sistem Electoral College
Amerika Serikat menerapkan sistem Electoral College dalam pemilihan presidennya, di mana suara pemilih di setiap negara bagian dikonversi menjadi suara elektoral berdasarkan perwakilan negara bagian.

Setiap negara bagian memiliki jumlah elektor yang bervariasi, tergantung pada jumlah populasi mereka. Berikut rincian bagaimana sistem ini bekerja:

Jumlah Elektor: Terdapat total 538 elektor di Electoral College, yang didistribusikan ke setiap negara bagian berdasarkan jumlah populasi.

Jumlah ini terdiri dari 435 anggota Dewan Perwakilan Rakyat, 100 anggota Senat, serta tiga elektor untuk Distrik Columbia.

Prinsip “Winner Takes All”: Kecuali Nebraska dan Maine yang menerapkan sistem proporsional, sebagian besar negara bagian menggunakan prinsip winner takes all.

Artinya, kandidat yang meraih suara terbanyak di suatu negara bagian mendapatkan seluruh suara elektoral dari negara bagian tersebut, tanpa memperhitungkan selisih suara rakyat yang mungkin tipis.

Menentukan Pemenang: Untuk memenangkan pemilihan, seorang kandidat harus memperoleh minimal 270 dari 538 suara elektoral.

Jika ada situasi di mana tidak ada kandidat yang mencapai angka ini (misalnya, terjadi hasil seri), maka Dewan Perwakilan Rakyat akan memilih presiden berdasarkan suara delegasi dari setiap negara bagian.

Mengapa Tidak Menggunakan Suara Langsung?
Sistem Electoral College dibentuk oleh para pendiri Amerika untuk menyeimbangkan kepentingan antara negara bagian besar dan kecil, serta untuk memberikan suara lebih kuat bagi negara bagian dibanding sekadar penghitungan suara nasional.

2. Tahapan Pemilihan Presiden Amerika Serikat
Pemilu presiden di Amerika Serikat terbagi dalam beberapa tahapan yang melibatkan proses panjang, mulai dari pemilu pendahuluan hingga konvensi partai.

Berikut tahapan utama yang dilalui:

Pemilu Pendahuluan (Primary Elections): Proses pemilihan dimulai dari pemilu pendahuluan di tingkat negara bagian.

Pemilu ini memungkinkan partai untuk memilih calon presiden mereka berdasarkan pilihan suara anggota partai.

Proses ini terjadi di negara-negara bagian secara bertahap, dengan beberapa negara bagian memiliki pengaruh lebih besar dalam menarik dukungan bagi calon presiden.

Konvensi Nasional: Setelah pemilu pendahuluan, setiap partai besar, seperti Partai Demokrat dan Partai Republik, mengadakan konvensi nasional.

Di sini, partai secara resmi mencalonkan kandidat presiden dan wakil presiden untuk bertarung dalam pemilu nasional.

Kampanye dan Pemungutan Suara Nasional: Kandidat yang terpilih kemudian berfokus pada kampanye nasional, termasuk di negara bagian kunci yang menentukan suara elektoral.

Kampanye ini berlangsung hingga Hari Pemilu, yang selalu jatuh pada hari Selasa pertama di bulan November setiap empat tahun sekali.

Editor : Erwin D. Nugroho
#pilpres amerika #Kemala Harris #donald trump #Pemilu Amerika