Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Transformasi Industri Fashion di Kaltim: Mulai Melahirkan Desainer Berbakat, Menumbuhkan dari Akarnya

Nasya Rahaya • Minggu, 10 November 2024 | 07:37 WIB

BERGERILYA: Anas Maghfur terus berusaha mengembangkan industri kriya Kaltim dengan lahirkan potensi-potensi baru designer lewat pelatihan-pelatihan yang diadakannya melalui Fascreyaa. (FOTO: IST)
BERGERILYA: Anas Maghfur terus berusaha mengembangkan industri kriya Kaltim dengan lahirkan potensi-potensi baru designer lewat pelatihan-pelatihan yang diadakannya melalui Fascreyaa. (FOTO: IST)
Industri fesyen di Kaltim kini telah bertransformasi. Jika dulu, fesyen di daerah ini hanya identik dengan produk-produk massal atau pakaian siap pakai, kini wajahnya mulai berubah dengan lahirnya desainer-desainer berbakat dari berbagai daerah di Bumi Etam.

KALTIMPOST.ID, Salah satu sosok yang tak bisa dilewatkan dalam kemajuan fesyen Kaltim adalah Anas Maghfur. Dia seorang pengusaha dan desainer serta sudah memiliki lembaga pelatihan, bernama Fascreeya. Menurutnya, titik balik perkembangan industri fesyen di Kaltim setelah pandemi covid-19 melanda. Industri kriya seolah mendapat angin segar sejak itu dan trennya terus naik.

“Sebelumnya saya sempat lama di Jakarta. Waktu pandemi saya bikin pelatihan-pelatihan online. Setelah pelatihan online berhasil, saya coba hadirkan pelatihan offline di Samarinda pada 2022 dan di-support dari beberapa pihak seperti Bank Indonesia,” sebutnya.

Dari sana Anas mengajak beberapa teman-teman penjahit dari seluruh Kaltim. “Ada sekitar 30 designer yang akhirnya mendapatkan pendidikan fesyen. Setelah itu akhirnya banyak lahir desainer baru,” terangnya. 

Hal ini rela dilakukannya karena berkaca dulu dia hanya belajar secara otodidak. Anas ingin teman-temannya di Kaltim bisa belajar bersama untuk menghidupkan industri fesyen Kaltim. Oleh sebab itu, dia hadirkan lembaga pelatihan Fascreeya pada 2021. "Fascreeya bukan hanya tempat belajar desain, tetapi juga tempat bagi para pelaku industri fesyen berbagi ilmu, kolaborasi dan tumbuh bersama," ujarnya.

Sejak saat itu dia merasa ada harapan untuk bekembanganya ekosistem kriya di Kaltim, banyak lahir designer baru setelah pelatihan-pelatihan yang diadakannya. Menjadi seorang designer bukan hanya soal menjahit, melainkan bagaimana menciptakan ide dan konsep yang dituangkan dalam desain dan pakaian. 

“Kalau penjahit itu jahit apa aja bisa, bedanya sama fashion designer menciptakan ide. Dari yang tidak ada jadi ada. Itu kan tidak mudah karena harus mengerti storyboard, moodboard dan lain-lain, sampai technical drawing dan penjahitan,” paparnya.

Salah satu hal yang menarik dari program Fascreeya adalah bagaimana pelatihan ini mampu mengubah mindset para penjahit yang awalnya hanya fokus pada pekerjaan teknis menjadi seorang fashion designer yang bisa menciptakan koleksi dengan konsep dan identitas unik. 

Anas menjelaskan, banyak yang tadinya hanya bisa menjahit pakaian jadi, sekarang mulai memahami bagaimana menciptakan desain dari awal, memahami elemen-elemen desain, hingga cara menyusun koleksi yang layak dilihat di panggung fashion.

Fascreeya tidak hanya berfokus pada pelatihan teknik, namun juga mengajarkan bagaimana menumbuhkan bisnis fashion yang berkelanjutan. Para peserta pelatihan yang terdiri dari penjahit dan pelaku usaha kecil, kini semakin menyadari pentingnya branding, pemasaran, dan inovasi dalam setiap koleksi mereka. 

Hal ini sejalan dengan visi Anas untuk menjadikan Kaltim sebagai pusat fashion yang tidak hanya menghasilkan desainer, tetapi juga pengusaha-pengusaha kreatif yang mampu membawa produk lokal ke pasar yang lebih luas.

Anas sendiri sebelumnya hanya bekerja di sebuah perusahaan busana. Waktu itu dia bertanggung jawab di bagian finishing. Setelahnya dia dipercaya untuk menjadi manager pengelola. Karena sudah paham banyak pada 2012 Anas memutuskan untuk membuka bisnis sendiri. 

"Saya salah satu orang yang terlibat dalam Sarung Samarinda yang pada tahun 2013 sempat tenar. Semua dinas dan kantor di Samarinda pakai motif itu, waktu itu yang promosikan wali kota. Itu menjadi momen yang sangat penting dalam karier saya," kenang Anas.

Karena makin dikenal, dia juga akhirnya punya banyak tuntutan. “Karena saya enggak ngerti secara keilmuan, akhirnya saya ngikutin beberapa kompetisi salah satunya adalah kompetisi di Bank Mandiri. Saya juara 1 dari Samarinda, se-Kaltim sampai se-Kalimantan. Sampai dikirim ke Jakarta. Saat ke Jakarta enggak menang. Tapi dari sana saya punya koneksi yang sangat luas,” ungkapnya. 

Dari kompetisi itu membuka banyak pintu dan memperkenalkan Anas kepada banyak orang yang akhirnya berperan besar dalam perjalanan kariernya. Sejak saat itu, ia semakin aktif dalam kegiatan yang memajukan wastra (kain tradisional) Kaltim, serta terlibat dalam berbagai acara fashion baik di Kaltim maupun luar daerah.

Saat ini, Anas tidak hanya mengajarkan desain fashion melalui Fascreeya, tetapi juga terus berinovasi dalam karya-karyanya. Terakhir dalam acara Noesantra Fashion Fusion, ia menampilkan karya barunya yakni motif daun kelakai. Ini jadi pagelaran pertama desain motif batiknya

"Selama ini, saya lebih banyak memanfaatkan motif-motif yang sudah ada, seperti motif Dayak dan pesut. Tapi sekarang, saya ingin mengembangkan motif saya sendiri. Motif daun kelakai adalah salah satu contohnya. Saya ingin memperkenalkan lebih banyak lagi motif khas Kaltim, yang bisa menjadi identitas di dunia fesyen," ujarnya.

Selain itu, Anas berharap industri fesyen di Kaltim terus berkembang dan mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Ia ingin melihat lebih banyak ruang bagi desainer lokal untuk menampilkan karya mereka di berbagai event fashion dan pagelaran yang dapat memperkenalkan produk lokal ke publik yang lebih luas.

"Harapan saya ke depan, industri fesyen di Kaltim semakin berkembang, masyarakat semakin sadar untuk menghargai produk desain lokal, dan banyak desainer baru yang terus bermunculan dengan karya-karya luar biasa," tutup Anas.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Desainer Kaltim #Anas Maghfur