KALTIMPOST.ID, Dalam usianya yang telah memasuki 60 tahun, Imam mengaku bahwa semangat untuk melestarikan dan mempopulerkan batik Melayu Kutai masih sangat besar. “Sebenarnya, kita agak terlambat dalam hal ini dibandingkan Jawa. Tapi kini, Kaltim mulai gencar mempromosikan batik khas daerah dan saya berharap pemerintah daerah dapat lebih mendukung kegiatan pagelaran busana di Kaltim,” ujarnya.
Menariknya Imam punya latar belakang yang mungkin berseberangan dengan mode yakni sebagai tenaga kesehatan. Diakuinya ketertarikan pada desain, khususnya batik sudah ada sejak masih kuliah, ia sering kali menggambar dan mendesain pakaian.
Namun, ide tersebut baru bisa direalisasikan pada 2010, setelah Imam merasa Kutai Kartanegara, daerah tempat ia tinggal belum memiliki motif batik khas yang dapat membanggakan warganya. Bagi Imam, batik bukan hanya sekadar kain, tetapi juga simbol dari kearifan lokal yang kaya akan cerita dan filosofi.
Pada 2010, Imam mulai merancang batik dengan motif khas Kutai yang menggambarkan elemen-elemen budaya setempat. Beberapa motif yang ia ciptakan antara lain motif buah elai, paku raja, hingga keminting (jajan tradisional Kutai). Batik yang dihasilkan Imam memiliki ciri khas motif yang sarat akan makna lokal dan filosofis, menjadikannya lebih dari sekadar sebuah desain visual.
Seiring waktu, Imam terus mengembangkan motif batik ini, hingga kini ia memiliki lebih dari 22 motif, dengan 15 motif di antaranya sudah memiliki HAKI, sisanya dalam proses pegurusan HAKI.
Ia juga memutuskan untuk tidak menggunakan motif Dayak dalam batiknya, meskipun pada awalnya, ia sempat mengadaptasi motif tersebut. Hal ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperkenalkan batik Melayu Kutai kepada pasar yang lebih luas.
Namun, perjalanan Imam dalam mengenalkan batik Kutai tak selalu mulus. “Pada awalnya, ketika saya mulai memperkenalkan batik ini, banyak yang bingung. Mereka bertanya, Apa sih batik Kutai? Jadi, saya harus banyak mengedukasi masyarakat tentang batik ini,” cerita Imam.
Tantangan terbesar yang dihadapi Imam adalah menjelaskan bahwa batik Melayu Kutai berbeda dari batik Jawa atau batik Bali. Kearifan lokal yang terkandung dalam motif-motifnya, menurutnya, harus dihargai sebagai identitas yang unik dan khas dari Kutai Kartanegara.
Karya yang dihasilkannya kebanyakan busana untuk laki-laki. Dia menciptakan koleksi batik khusus untuk pria. Dengan desain yang lebih simpel namun tetap elegan, batik karya Imam menjadi pilihan yang menarik bagi pria yang ingin tampil beda dan berbudaya.
“Kita sering lihat batik untuk wanita, tapi batik pria belum banyak dikembangkan. Saya ingin agar batik ini bisa dipakai oleh siapa saja, terutama laki-laki muda yang mulai merasa bangga memakai produk lokal,” kata Imam. Untuk itu, Imam mendesain batik dengan potongan yang modern dan lebih praktis, sehingga bisa dikenakan di berbagai kesempatan, dari acara formal hingga kasual.
Selain itu, Imam juga mencoba memperkenalkan sistem penjualan yang eksklusif. "Saya tidak ingin batik saya massal. Saya hanya memproduksi dalam jumlah terbatas, misalnya hanya tiga warna dengan motif tertentu. Jadi produknya lebih eksklusif,” jelasnya.
Sejak pertama kali tampil di dunia pameran pada tahun 2017, karya Imam mulai dikenal luas. Ia telah mengikuti sejumlah pameran penting, seperti pameran batik di Istana Presiden, serta pameran-pameran lainnya yang diadakan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) di Medan, Solo, Jogja, dan Jakarta.
Tak hanya itu, Imam juga aktif ikut acara-acara fashion show di Kaltim. Termasuk pada setiap peringatan ulang tahun Kaltim. Di sinilah Imam merasa bahwa batik Melayu Kutai benar-benar mendapat perhatian yang layak. Namun, meski ia sudah dikenal di luar Bumi Etam, Imam merasa bahwa lebih banyak dukungan dari pemerintah daerah sangat diperlukan untuk mengangkat potensi batik ini.
“Harapan saya, lebih banyak acara di Kalimantan yang mendukung pengembangan batik. Sehingga, masyarakat lokal bisa lebih mengenal dan bangga dengan produk budaya mereka sendiri,” tutur Imam.
Kini, meski di usia yang tak lagi muda, Imam merasa bahwa tugasnya belum selesai. Ia tidak hanya ingin terus berkarya, tetapi juga memotivasi generasi muda untuk ikut berperan dalam melestarikan dan mengembangkan batik.
“Saya sudah 60 tahun, tapi saya tidak ingin berhenti. Saya ingin menemukan kader-kader muda yang bisa melanjutkan apa yang saya mulai. Saya sering berbicara dengan anak-anak muda, memberi mereka semangat bahwa kalau kita mau berkarya, jangan takut gagal. Terus berkarya saja,” tutupnya.
Editor : Uways Alqadrie