Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Perjalanan Panjang Sriwijaya Air, Setahun Angkut 950 Ribu Penumpang, Pernah Kelola 40 Pesawat

Uways Alqadrie • Selasa, 19 November 2024 | 14:38 WIB

Sriwijaya Air dan NAM Air
Sriwijaya Air dan NAM Air
KALTIMPOST.ID, Nama maskapai penerbangan Sriwijaya Air kembali jadi pembicaraan di berbagai pemberitaan dan media sosial. Apalagi setelah pemiliknya, Hendry Lie tersangkut kasus korupsi tata niaga timah di wilayah IUP PT Timah tahun 2015-2022 ditangkap Kejaksaan Agung (Kejagung) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (18/11) malam.

Hendry Lie yang sudah delapan bulan menetap di Singapura akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia karena paspor yang bersangkutan habis masa berlakunya pada 27 November. 

Sebelumnya maskapai tersebut pernah lolos dari pailit dengan utang hingga Rp 7,3 triliun. Dilansir dari laman resminya, Sriwijaya Air didirikan Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim. Tenaga ahli yang juga berperan merintis perusahaan penerbangan swasta ini adalah Supardi, Capt Kusnadi, Capt Adil W, Capt Harwick L, Gabriella, Suwarsono, dan Joko Widodo.

Sriwijaya Air mulai terbang pada 10 November 2003. Rute pertamanya adalah dari Jakarta ke Pangkal Pinang, Jakarta ke Palembang, Jakarta ke Jambi, dan Jakarta ke Pontianak.

Setiap bulannya, Sriwijaya Air mengangkut lebih dari 950.000 penumpang. Sejak berdiri pada 2003, kini Sriwijaya Air yang markas hubnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta menerbangkan penumpang ke 53 tujuan di Indonesia, serta empat negara lainnya, yang mencakup Malaysia, Timor Leste, Thailand, dan Tiongkok.

2013 Mendirikan NAM Air

Pada awal mulanya, Nam Air diproyeksikan sebagai full snam air. Anak perusahaan Sriwijaya Air tersebut merupakan maskapai pengumpan di kelas medium dengan mengoperasikan pesawat Boeing 737-500 Winglet dengan konfigurasi 120 kursi (8 kelas bisnis dan 112 kelas ekonomi).

Bersamaan dengan peluncuran NAM Air pada 26 September 2013, Maskapai Induknya yaitu Sriwijaya Air mengumumkan akan membeli 100 unit pesawat Regio prop R-80 untuk armada masa depannya `dengan 50 merupakan pesanan perusahaan dan 50 ervice Carrier dari Sriwijaya Air yang ditujukan untuk menyaingi Garuda Indonesia dan Batik Air. 

Dalam perkembangan selanjutnya, NAM Air akhirnya ditujukan sebagai feeder (pengumpan) bagi Sriwijaya Air dengan rencana Sriwijaya Air akan melayani rute utama, sementara NAM Air akan melayani rute lanjutan. Hal ini serupa dengan yang dilakukan Lion Air dengan Wings Air dan Garuda Indonesia dengan Merpati pada era 80-90-an.

Pada 26 September 2013, NAM Air resmi diperkenalkan ke publik dan direncanakan penerbangan perdananya dilakukan pada bulan Oktober 2013. Penerbangan perdana ini terus tertunda dikarenakan belum kunjung mendapatkan AOC dari Kementerian Perhubungan. 

Hingga pada 29 November 2013, maskapai ini akhirnya mendapatkan AOC, kemudian melaksanakan penerbangan perdananya dari Jakarta menuju Pangkalpinang pada 11 Desember 2013. 

Penerbangan perdana ini kemudian disusul oleh Penerbangan Komersial Berjadwal Pertama pada 19 Desember 2013 dengan rute Jakarta menuju Pontianak dan Pontianak menuju Yogyakarta.

Asal usul nama NAM Air seperti yang diutarakan oleh CEO Sriwijaya Air Chandra Lie adalah berasal dari Nama Ayahanda dari Chandra Lie, dan penggunaan nama tersebut didedikasikan sebagai penghargaan terhadap jasa Ayahandanya yang bernama Lo Kui Nam. Sebelumnya penggunaan kata "NAM" sebagai singkatan juga telah digunakan di group Sriwijaya Air lainnya, yaitu National Aviation Management (Sekolah penerbangan), National Aircrew Management (Pusat pelatihan awak kabin), National Aircraft Maintenance (Perawatan Pesawat Terbang) dan Nusantara Aksara Mandiri (In-flight Magazine).

Jumlah pesawat yang dimiliki Sriwijaya Air dan Nam Air

Berdasarkan data Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, hingga 26 Februari 2024, Sriwijaya Air dan Nam Air secara keseluruhan mengoperasikan sebanyak 6 unit pesawat. Secara terperinci, Sriwijaya Air menyediakan total 3 unit pesawat yang terdiri atas 2 unit jenis B737-800NG dan 1 unit B737-500. Sementara itu, Nam Air mengoperasikan 3 unit pesawat yang seluruhnya berjenis Boeing B737-500. Jumlah ini jauh menurun bila dibandingkan dengan awal 2020. 

Berdasarkan catatan Kaltim Post, pada 20 Januari 2020 Direktur Utama Sriwijaya Air Group Jefferson I Jauwena mengatakan total pesawat yang dimiliki Sriwijaya Air Group adalah sebanyak 40 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 24 unit dari Sriwijaya Air dan 16 unit dari NAM Air. Namun, kala itu dia menyebut jumlah pesawat yang dioperasikan masing-masing hanya 14 unit dan 11 unit. 

Editor : Uways Alqadrie
#kemenhub #nam air #Hendry Lie #sriwijaya air