KALTIMPOST.ID, Promosi Kombes Budhi Herdi Susianto menjadi Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen) memancing perhatian publik.
Dua tahun setelah dicopot akibat keterlibatannya dalam skandal Ferdy Sambo, kini ia kembali dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Karowatpers SSDM Polri.
Langkah ini diabadikan dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/25/XI/KEP/2024, yang menandai kenaikan pangkat dan jabatan baru bagi Budhi.
Namun, promosi ini tidak berjalan tanpa kritik. Pegiat media sosial Lukman Simanjuntak menyampaikan komentar tajam terkait rekam jejak Budhi.
"Gara-gara menyampaikan narasi palsu kronologis kematian Brigadir J, Budhi dicopot dari jabatan Kapolres Jaksel," tulisnya dalam cuitan di X (sebelumnya Twitter).
Ia menambahkan sindiran, "Baru 2 tahun berlalu, eh malah promosi jadi Jenderal." Sindiran ini memicu diskusi di kalangan netizen, mengingat kontroversi yang membayangi perjalanan karier Budhi.
Baca Juga: Jelang Nataru, Polda Kaltim Siapkan Pos Pengamanan Antisipasi Gangguan di Masyarakat
Harta Kekayaan Budhi Herdi: Fakta di Balik Kenaikan Pangkat
Di tengah sorotan atas promosi tersebut, harta kekayaan Budhi Herdi turut menjadi perhatian.
Berdasarkan laporan LHKPN tahun 2022, total kekayaannya mencapai Rp 10,5 miliar. Aset terbesar miliknya adalah tanah dan bangunan di Tangerang senilai Rp 4 miliar.
Selain itu, ia memiliki surat berharga bernilai Rp3,2 miliar serta kendaraan bermotor senilai Rp1,5 miliar.
Dari segi kendaraan, Budhi memiliki Toyota Fortuner seharga Rp 601 juta, Mitsubishi Pajero Rp 809 juta, Kawasaki ER650F Rp 75 juta, dan Honda Scoopy Rp 18 juta.
Seluruh aset ini didapatkan dari hasil kerja kerasnya tanpa memiliki utang. Dalam bentuk kas, ia juga mengantongi Rp 1 miliar lebih, ditambah harta bergerak lainnya senilai Rp 198 juta.
Baca Juga: Bontang Kuala Gelar Festival Membeko, Tradisi Jaga Silaturahmi yang Sajikan 45 Jenis Kue Tradisional
Perjalanan Budhi Herdi di tubuh Polri tidaklah mulus. Pada tahun 2022, ia dicopot dari jabatan Kapolres Metro Jakarta Selatan akibat perannya dalam menyampaikan narasi palsu terkait kematian Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J).
Kasus ini menyeret banyak pihak, termasuk Ferdy Sambo, mantan Kadiv Propam Polri, yang akhirnya dihukum berat.
Namun, promosi Budhi menandakan babak baru dalam kariernya. Sebagai Karowatpers SSDM Polri, ia menggantikan Brigjen Pol Erthel Stephan yang kini memegang jabatan baru sebagai Karodalpers SSDM Polri.
Posisi ini menjadi simbol kepercayaan Polri atas kemampuan dan pengabdiannya, meskipun masa lalunya penuh dengan tantangan.
Baca Juga: Terminal Bontang Sudah Bisa Digunakan, Soft Opening Dilakukan Sebelum Nataru
Promosi ini tidak hanya menarik kritik dari pegiat media sosial seperti Lukman Simanjuntak, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai sistem promosi di Polri.
Lukman bahkan menyebut, "Hemm, berarti Sambo masih ada peluang buat jadi Kapolri, iya gak sih?"
Sindiran ini memicu perbincangan di kalangan warganet, sebagian besar mempertanyakan konsistensi Polri dalam menjaga integritas lembaganya. (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel
Editor : Dwi Puspitarini