KALTIMPOS.ID - Populasi Pesut Mahakam atau Orcaella Brevirostris harus menjadi atensi bersama. Mamalia air tawar endemik itu menghadapi tekanan besar akibat aktivitas manusia dan degradasi habitat. Saat ini populasinya dalam kondisi kritis. Diperkirakan kurang dari 67 individu yang tersisa di Sungai Mahakam.
Dari lima kasus kematian Pesut Mahakam sepanjang 2024, Founder Yayasan Konservasi Rare Aquatic of Indonesia (RASI) Danielle Kreb memberikan pandangannya. Pertama kasus kematian pesut yang disebabkan rengge, yang disebutnya sebenarnya mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Meski ada penurunan dari kasus rengge, tapi ada baiknya alat seperti jaring bisa diubah seperti alat yang memungkinkan tidak berbahaya bagi pesut,” ujarnya.
Kemudian juga perusahaan, sambung dia, khususnya di aktivitas perusahaan yang di dekat sungai. Danielle menilai bahwa ketika terjadi hujan deras, aliran air dari aktivitas batu bara yang turun ke sungai bisa menyebabkan sungai kurang bersih. Artinya logam berat ada di dalam sungai.
“Bukan hanya (berbahaya) bagi ikan pesut. Bisa juga manusia, karena aliran air itu akan dikonsumsi oleh ikan selain jenis pesut, kemudian juga manusia yang memakan ikan. Semua saling berkaitan,” terangnya.
Di sektor lainnya, seperti suara di bawah air yang berasal dari kapal pengangkut batu bara juga mempengaruhi ketenangan pesut. Pantulan suaranya menggangu pendengaran pesut sehingga ketika pesut mencari makan, kalau lewat kapal itu, akan merubah suasana mood mereka.
“Pesut seolah merasa terinterupsi akibat suara yang berasal dari kapal pengangkut batu bara. Itu mengganggu mereka ketika pesut sedang mecari makan, lalu kapal tersebut lewat sehingga mengganggu suasana mereka, termasuk pendengarannya,” tukasnya.
Untuk menjaga agar tidak terancam punah, seluruh pihak harus bekerja sama mulai dari masyarakat, pemerintah, perusahaan, semua bisa menyumbang untuk mengembalikan Sungai Mahakam menjadi tempat hidup bagi satwa di dalamnya, juga masyarakat yang bergantung kepada perikanan. Fakta bahwa kematian Pesut Mahakam sepanjang 2024 disebabkan alat tangkap, sampah plastik, hingga bahan kimia berbahaya, harus menjadi atensi tersendiri.
“Dengan temuan tersebut, pemerintah harus menerbitkan peraturan desa (perdes) terkait sampah plastik, khususnya di perairan Sungai Mahakam,” tegas Danielle.
Di sisi lain, pemerintah sebenarnya telah menetapkan Kawasan Konservasi Nasional Perairan Mahakam Wilayah Hulu di Kutai Kartanegara (Kukar) sebagai kawasan perlindungan habitat Pesut Mahakam dan ikan ekonomis. Melalui Keputusan Menteri KKP Nomor 49 Tahun 2022 tentang Kawasan Konservasi di Perairan Mahakam Wilayah Hulu Kabupaten Kukar.
“Kawasan Konservasi Nasional Perairan Mahakam Wilayah Hulu menjadi lokasi utama perlindungan spesies ini (Pesut Mahakam),” kata Kepala BPSPL Pontianak Syarif Iwan Taruna Alkadrie, beberapa waktu lalu.
Dia juga menekankan bahwa Kawasan Konservasi Nasional di Perairan Mahakam Wilayah Hulu di Kukar yang dikelola oleh BPSPL Pontianak memainkan peran vital. Dalam melindungi habitat dan populasi pesut. Kawasan Konservasi (KK) di Perairan Mahakam Wilayah Hulu. Yang memiliki total luasan sebesar 42.667,99 hektare. Terbagi menjadi zona inti seluas 1.081,28 hektare, zona pemanfaatan seluas 30.695,74 hektare, dan zona lainnya seluas 10.890,97 hektare.
“Dengan zona inti seluas 1.081 hektare, kawasan ini dirancang untuk mendukung perlindungan habitat strategis pesut, termasuk lokasi pemijahan ikan yang menjadi sumber makanan utama mereka,” ujar pria yang akrab disapa Iwan ini.
Magister Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga menyebut bahwa upaya konservasi akan mencakup peningkatan pengawasan habitat, penegakan hukum terhadap aktivitas yang merusak lingkungan, dan edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem Sungai Mahakam perlu dilakukan.
Selain itu, penelitian lanjutan perlu dilakukan tentang dampak mikroplastik, logam berat, dan faktor genetik pesut akan dilakukan untuk mendukung langkah konservasi yang lebih baik. Dan temuan dari hasil analisis tersebut menjadi pengingat akan urgensi perlindungan Pesut Mahakam.
“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, LSM, dan masyarakat lokal sangat diperlukan. Untuk menciptakan habitat yang lebih aman dan berkelanjutan bagi pesut. Dengan hasil analisis ini, diharapkan langkah-langkah konservasi yang diambil dapat memastikan keberlanjutan spesies pesut di Indonesia, khususnya di Sungai Mahakam,” pungkas dia.
Editor : Duito Susanto