Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Bahaya Baru, Kondisi Air di Sungai Mahakam Kini Tidak Ramah untuk Pesut

Eko Pralistio • Minggu, 8 Desember 2024 | 08:40 WIB

Grafis Kaltim Post
Grafis Kaltim Post
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Hasil temuan utama kasus kematian pesut sepanjang 2024, terjadi kasus pertama kematian Pesut Mahakam dengan kode Ob-Ma-21-2-24 ‘Four’. 

Founder Yayasan Konservasi Rare Aquatic of Indonesia (RASI), Danielle Kreb mengatakan, kasus tersebut merupakan pesut jantan dewasa yang ditemukan mati dengan penyakit organ pernapasan dan ginjal akibat usia lanjut. 

Ditemukan mikroplastik di lambung dan ususnya, sementara kadar logam berat masih di bawah ambang batas, pada spesies yang ditemukan pada 21 Februari 2024 di Perairan Sungai Desa Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman, Kukar.

Kemudian temuan kedua, pada Pesut Mahakam dengan kode Ob-Ma-2-4-24 ‘Angel’. Yang ditemukan pada 2 April 2024 di Pelabuhan Museum Mulawarman, Kecamatan Tenggarong, Kukar. Spesies ini merupakan pesut betina yang ditemukan dalam kondisi pembusukan lanjut, diduga mati akibat tersangkut jaring ikan dan tenggelam.

Kasus kematian Pesut Mahakam ketiga, dengan kode Ob-Ma-28-4-24 ‘Rexy’, ditemukan pada 28 April 2024 di Desa Pulau Harapan, Kecamatan Muara Muntai, Kukar. Spesies ini merupakan pesut jantan yang mati karena letal kronis. Akibat akumulasi bahan-bahan toksik yang satu di antaranya berasal dari makanan yang dikonsumsi

Kasus kematian Pesut Mahakam keempat dengan kode Ob-Ma-21-6-24 ‘Samarinda’, yang ditemukan pada 21 Juni 2024 di Kota Samarinda. Merupakan pesut jantan dewasa yang ditemukan mati akibat CHF (Congetif Heart Failure-gagal jantung) dan adanya renal failure (gagal ginjal). Karena adanya paparan zat kimia berbahaya dan faktor usia lanjut pada pesut.

Terakhir adalah Pesut Mahakam dengan kode Ob-Ma-12-7-24 ‘Pela’. Yang ditemukan pada 12 Juli 2024 di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kukar. Spesies ini merupakan pesut bayi pesut betina yang ditemukan mati dengan dugaan infantisida oleh pesut lain dan adanya faktor sakit (ginjal, lambung, paru-paru dan liver).

Kembali ke Danielle, dia juga menaruh kekhawatirannya ketika menemukan bayi pesut berusia dua minggu tak bernyawa karena sakit kronis. Penyebabnya diduga kuat karena logam berat yang sudah menginap di dalam tubuh induknya. Sehingga ketika bayi itu lahir sudah dalam keadaan tidak sehat.

“Jadi kondisi bayi pesut sudah dalam keadaan sakit. Kemungkinan induknya juga terindikasi logam berat di dalam tubuhnya, sehingga di turunkan ke anak. Mungkin alam punya cara sendiri untuk memberikan energi lebih ke bayi tersebut, sehingga dia sempat bertahan hidup meskipun dalam waktu singkat dia meninggal. Kita temukan ada lebam di bayi tersebut,” tuturnya.

Pada bagian lain, Daniella juga menemukan perubahan di kasus kematian pesut yang terjerat jaring. Dalam tiga tahun terakhir, kematian pesut diakibatkan rengge (jaring) mengalami penurunan. Sebab, pihaknya bersama sekitar 160 nelayan bekerja sama dalam memasang sebuah alat di area jaring. Tujuan dari alat tersebut untuk memberikan reaksi terhadap ikan pesut yang mendekati jaring.

“Sudah lebih dari 250 dan dipasang saat memasang rengge-nya, sehingga pesut tidak bisa mendekati rengge yang dipasang. Itu juga akan berdampak rengge yang dipasang tidak rusak. Alat tersebut kalau aktif akan mengusir pesut dari rengge, ada batasan zona yang memang sudah terukur,” imbuh Danielle.

Di sisi lain, penemuan yang sangat penting dari kematian pesut adalah, terdapat mikroplastik di bagian tubuh pesut. Keberadaan sampah plastik itu menyebabkan iritasi di bagian pencernaan. Danielle menegaskan bahwa ini bukan faktor penyebab kematian, tapi penyumbang dan lama kelamaan akan menjadi faktor.

Baca Juga: Gus Miftah Dikritik Habis-habisan, Wendy Cagur: Aku Nyesek Lihat Bude Yati Diperlakukan seperti Itu

Mungkinkah ikan pesut akan punah? Danielle belum bisa memastikan soal itu. Namun, untuk mencegah agar tidak terjadi kepunahan, pihaknya berharap ada kerja sama disertai kesadaran dari seluruh elemen masyarakat. Termasuk pemerintah, perusahaan, dan masyarakat itu sendiri. 

Editor : Uways Alqadrie
#pesut mahakam #kutai kartanegara #Desa Pela