KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sudah 13 tahun Maulana Yudhistira bersikukuh untuk menerapkan gaya hidup sustainable living. Pria yang karib di sapaYudis itu mulai seriusi jalan ini ketika dia berkuliah.
Saat ini, Yudis tetap aktif di isu-isu lingkungan. Hanya saja jalannya berbeda dari kebanyakan orang, dia jadi aktivis lingkungan
tapi mengemasnya lebih menarik lewat hal yang jadi hajat hidup orang banyak, yakni makanan.
Tepat pada 2011 Yudis bergabung di Koalisi Pemuda HijauIndonesia (KPHI). Organisasi ini berfokus pada isu-isu lingkungan hidup, pemberdayaan dan keberlanjutan. Di KPHI Yudis menjabat sebagai ketua selama enam tahun sampai 2017.
Sebagai leader di komunitas itu, Yudis mulai mengadopsikebiasaan-kebiasaan yang mendukung gaya hidup hijau.
seperti mengurangi penggunaan plastik dan kemasan sekali pakai. “Hal kecil yang kami lakukan waktu itu adalah bawa tumblr —gelas minum yang bisa diisi ulang— ke mana-mana. Dari 2011 sampai sekarang pun saya masih konsisten bawa,” sebutnya.
Tak jarang, ia juga membawa satu tumblr tambahan atau kotak makanan jika ingin membawa pulang minuman dan makanan yang ingin dibawa pulang, demi menghindari penggunaan wadah sekali pakai.
Dulu, Yudistira sangat ketat dalam komitmennya untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai. Proses ini tidak selalu mulus. Ada kalanya ia merasa terpaksa untuk menggunakan kemasan sekali pakai, terutama ketika berbelanja di pasar tradisional atau ketika harus jajan di luar.
“Dulu saya benar-benar strict soal ini, tapi sekarang sudah mulai bocor sedikit. Namun, saya tetap berusaha mengurangi semaksimal mungkin,” ungkapnya.
Titik baliknya kenapa dia memilih gaya hidup ini karena melihat kondisi lingkungan yang semakin buruk dan berita terkait sampah plastik yang mencemari air dan biota laut. Perubahan besar ini terjadi seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak negatif sampah plastik terhadap ekosistem dan kehidupan manusia.
“Sekarang kesibukan saya masih berkenaan dengan kampanye lingkungan tapi saya kemas lewat meja makan. Aktivis lingkungan dan pangan,” sebutnya.
Lewat sosial medianya Yudis kerap mengampanyekan olahan-olahan pangan lokal. “Coba mengenalkan kepada pemuda-pemuda Kaltim khususnya Samarinda bahwa kita punya banyak olahan pangan. Ketimbang harus mengonsumsi olahan-olahan yang tidak sehat dan punya jejak emisi karbon,” ucapnya.
Untuk itu, Yudis ajak kawula muda lewat grup-grup kolektif yang diinisiasinya untuk ikut kegiatan-kegiatan memasak. Ada dua akun Instagram yang diinisiasinya bersama teman-temannya yakni @lelakidapur dan @klubmemorirasa.
Selain itu, kampanye ini dilakukan sampai ke luar daerah. Yudis pernah ikut pekan Kebudayaan Nasional tahun 2023. Lewat program Modus Air, kuratorial Jejaring Rempang, Yudis menyajikan beragam hidangan dengan nama Teror Mahakam. Teror Mahakam ini menyajikan nasi kuning khas Samarinda dan olahan ikan gabus/haruan.
Dari sajian itu Yudis berbicara tentang kekhawatirannya terhadap kondisi Sungai Mahakam yang tercemar mikroplastik. Ikan-ikan yang menjadi sumber makanan masyarakat sekitar kini terancam akibat pencemaran tersebut. Kerusakan ekologi seperti ini jelas mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Mahakam.
Lewat momen itu Yudis mengajak masyarakat dan pemerintah untuk bersama-sama melakukan perubahan. Pendekatan melalui kegiatan memasak ini mungkin terlihat sederhana, tetapi terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran publik.
Kemudian, dalam menjalani hidup ramah lingkungan, Yudistira tak hanya fokus pada pengurangan plastik, tetapi juga pada pilihan produk yang mendukung kelestarian alam.
Dia getol menghindari produk dari perusahaan yang terlibat dalam deforestasi di Indonesia. “Saya lebih memilih produk lokal daripada membeli barang dari luar kota, karena selain membantu perekonomian lokal, juga mengurangi jejak karbon,” jelasnya.
Yudis lebih memilih bahan pangan yang berasal dari produksi lokal. Di pasar tradisional, ia lebih memilih untuk membeli bumbu-bumbu segar buatan masyarakat lokal, ketimbang beli bumbu-bumbu komersial. Dengan demikian, ia tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal.
Langkah-langkah untuk mengubah kebiasaan ini adalah dari kesadaran individu. Tapi dibalik itu, ia juga merasa bahwa perubahan kebijakan pemerintah sangat penting untuk mempercepat proses ini. “Dengan keadaan sekarang, seharusnya perubahan harus datang dari atas dulu. Pemerintah buat kebijakan dan kita yang mengikuti. Harus dipaksakan untuk jadi sebuah kebiasaan,” ujarnya.
Perwali Samarinda Tahun 2019 yang melarang penggunaan kantong plastik di retail modern, meskipun sayangnya aturan tersebut mulai longgar, tapi ini salah satu aturan yang dinilainya bagus. Hanya saja ia menyadari bahwa perubahan dalam pola pikir masyarakat tidak bisa dipaksakan begitu saja.
Yudis mengakui bahwa kebiasaan buruk dalam menggunakan plastik sekali pakai sudah tertanam cukup lama dalam kebiasaan banyak orang. “Memang kesadaran itu yang penting untuk dipahami dan diterapkan. Kebiasaan kita itu sangat sulit untuk berubah. Masih banyak masyarakat yang enggak bawa tote bag akhirnya beli lagi,” katanya.
Baginya, masalah bukan terletak pada penggunaan plastik itu sendiri, melainkan pada kebiasaan masyarakat yang cenderung menumpuk sampah baru (tote bag). Hal ini justru berpotensi menciptakan sampah baru yang tak kalah buruk.
Selain itu, menurut Yudis pengolahan sampah di Samarinda masih buruk dan tidak konsisten. “Saya dan teman-teman selalu coba memilah sampah organik dan non-organik. Tapi kenyataannya saat sampah itu sudah di tempat pembuangan akhir (TPA), semua sampah ini tetap dicampur. Itu juga alasan yang buat teman-teman saya akhirnya malas untuk memilah sampah lagi, karena sia-sia,” ungkapnya.
Tak hanya itu untuk masalah sampah Yudis juga mendukung kampanye untuk mendorong industri bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan, seperti yang diterapkan di negara-negara seperti Korea Selatan dan beberapa negara Eropa. Di sana, setiap perusahaan diwajibkan untuk mengelola sampah yang dihasilkan, termasuk kemasan produk mereka.
“Di Indonesia, belum ada regulasi yang mewajibkan perusahaan untuk bertanggung jawab atas sampah mereka. Sebaliknya, masyarakat yang disuruh mengubah kebiasaan mereka” tambahnya.
Yudis tetap berkomitmen pada gaya hidup berkelanjutan. Dia percaya bahwa semakin banyak orang yang menyadari dampak dari perilaku mereka terhadap lingkungan, semakin besar peluang untuk mengubah keadaan.
“Saya akan terus melakukan ini sampai kapan pun, harapannya ada regulasi yang jelas dari pemerintah. Setidaknya, apa yang saya lakukan sekarang sedikit banyaknya bisa mengurangi kerusakan lingkungan,” tutupnya.
Editor : Uways Alqadrie