KALTIMPOST.ID, Media pemerintah Suriah membantah rumor di media sosial bahwa Presiden Bashar Assad telah meninggalkan negara itu, dan menyebutkan sedang menjalankan tugasnya di Damaskus. Namun rumor beredar menyebutkan Assad dikabarkan telah melahirkan diri ke Yordania atau Rusia.
Komandan Hayat Tahrir al-Sham Abu Mohammed al-Golani, pemimpin utama pemberontak, menyebut perebutan Homs sebagai momen bersejarah dan mendesak para pejuang untuk tidak melukai "mereka yang menjatuhkan senjata".
Di tengah kekacauan, rumor beredar mengenai keberadaan Presiden Bashar al-Assad , dengan spekulasi semakin meningkat karena penerbangan masuk dan keluar dari Damaskus diawasi dengan ketat dengan harapan dapat mengetahui langkah selanjutnya.
Beberapa laporan mengklaim bahwa ia telah melarikan diri ke Rusia, sementara yang lain mengatakan bahwa ia dan keluarganya telah berlindung di Yordania. Kantornya membantah laporan ini, dengan menegaskan bahwa Assad masih berada di ibu kota dan bekerja. Namun, terlepas dari jaminan ini, tidak ada tanda-tanda yang terlihat dari presiden dalam beberapa hari terakhir.
Ia hanya mendapat sedikit bantuan, jika ada di Damaskus, dari sekutu-sekutunya. Rusia sibuk dengan perangnya di Ukraina . Hizbullah Lebanon, yang pada suatu waktu mengirim ribuan pejuang untuk mendukung pasukan Assad, telah dilemahkan oleh konflik selama setahun dengan Israel. Iran juga menghadapi perang, seluruh wilayah itu terdegradasi oleh serangan udara Israel yang rutin.
Presiden terpilih AS Donald Trump pada hari Sabtu mengunggah di media sosial bahwa Amerika Serikat harus menghindari keterlibatan militer di Suriah . Secara terpisah, penasihat keamanan nasional Presiden Joe Biden mengatakan pemerintahan Biden tidak berniat campur tangan di sana.
Pedersen mengatakan tanggal perundingan di Jenewa mengenai penerapan resolusi PBB, yang diadopsi pada tahun 2015 dan menyerukan proses politik yang dipimpin Suriah, akan diumumkan kemudian. Resolusi tersebut menyerukan pembentukan badan pemerintahan transisi, diikuti dengan penyusunan konstitusi baru dan diakhiri dengan pemilihan umum yang diawasi PBB.
Sabtu malam, para menteri luar negeri dan diplomat senior dari delapan negara utama, termasuk Arab Saudi, Rusia, Mesir, Turki dan Iran, bersama dengan Pederson, berkumpul di sela-sela KTT Doha untuk membahas situasi di Suriah.
Dalam sebuah pernyataan, para peserta menegaskan dukungan mereka terhadap solusi politik untuk krisis Suriah “yang akan mengarah pada penghentian aktivitas militer dan perlindungan warga sipil.”
Komandan pemberontak, Hassan Abdul-Ghani, mengunggah di aplikasi pesan Telegram bahwa pasukan oposisi telah memulai “tahap akhir” serangan mereka dengan mengepung Damaskus.
HTS menguasai sebagian besar wilayah barat laut Suriah dan pada tahun 2017 mendirikan "pemerintahan penyelamatan" untuk menjalankan urusan sehari-hari di wilayah tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, pemimpin HTS Abu Mohammed al-Golani telah berupaya untuk mengubah citra kelompok tersebut, memutus hubungan dengan al-Qaeda, menyingkirkan pejabat garis keras, dan bersumpah untuk merangkul pluralisme dan toleransi beragama.
Serangan mendadak itu dimulai pada 27 November, di mana orang-orang bersenjata merebut kota utara Aleppo, kota terbesar di Suriah, dan kota tengah Hama , kota terbesar keempat di negara itu.
Pemerintah Suriah telah menyebut orang-orang bersenjata oposisi sebagai teroris sejak konflik pecah pada Maret 2011.
Diplomat utama Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengkritik Assad karena gagal memanfaatkan jeda pertempuran dalam beberapa tahun terakhir untuk mengatasi masalah mendasar negara tersebut. “Assad tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mulai terlibat dan memulihkan hubungannya dengan rakyatnya,” katanya.
Editor : Uways Alqadrie