KALTIMPOST.ID, PENAJAM - Agus Sumpeno, seorang tokoh masyarakat sekaligus sahabat karib penceramah kondang Gus Miftah, membuat pengakuan mengejutkan. Pria yang juga ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Perubahan Penajam Paser Utara (PPU) ini membongkar sejumlah perilaku Gus Miftah atau yang bernama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman, yang selama ini tidak banyak diketahui publik.
Menurut Agus Sumpeno, perkenalannya dengan Gus Miftah bermula pada tahun 2010 saat keduanya terlibat dalam tim sukses salah satu calon bupati Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Keakraban mereka yang terjalin sejak lama membuat Agus merasa perlu angkat bicara mengenai sosok yang selama ini dikenal sebagai ulama karismatik tersebut. Agus Sumpeno mengaku lahir di DIY, namun tinggal di Sleman, dan dalam beberapa tahun terakhir ini ia kini bermukim di PPU.
“Saya sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Guyonan-guyonan Gus Miftah yang seringkali berbau mesum dan merendahkan orang lain ibarat bom waktu yang siap meledak, dan sekarang telah terjadi ledakannya itu. Perilakunya yang seperti itu memang sudah sejak lama. Sepertinya telah menjadi watak,” ungkap Agus Sumpeno di rumahnya, Kompleks Perumahan Linda Regency, Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, PPU, Rabu (11/12).
Lebih lanjut, Agus Sumpeno juga mengungkap fakta menarik mengenai Pondok Pesantren Ora Aji yang terletak di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, yang selama ini diasosiasikan dengan Gus Miftah. Ia menegaskan bahwa pondok pesantren tersebut bukan sepenuhnya milik pribadi Gus Miftah, melainkan hasil bantuan dari seorang pengusaha yang juga bernama Agus.
“Jadi, pondok pesantren itu bukan milik dia pribadi. Ada pihak lain yang turut berinvestasi,” tegas Agus Sumpeno.
Selain itu, Agus Sumpeno juga membuat pernyataan terbuka saat menanggapi status pribadi wartawan media ini di media sosial Facebook, yang isinya menulis tentang apresiasi kepada Gus Miftah, bersedia mundur dari jabatan Utusan Utusan Khusus Presiden Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Dalam status itu ditulis, bahwa angkat topi untuk Gus Miftah. Pengunduran diri dari jabatan, terutama di ranah publik, memang bukan hal yang sering dilihat di Indonesia.
Wartawan media ini dalam Facebook itu menulis bahwa sikap Gus Miftah yang memilih mundur patut diapresiasi. Tindakannya menunjukkan beberapa hal penting, yaitu tanggung jawab, karena ia mengakui kesalahan yang telah dilakukan dan mengambil langkah konkret untuk bertanggung jawab atas tindakannya.
Kemudian, Gus Miftah memiliki integritas yang ditunjukannya bahwa prinsip dan nilai-nilai lebih penting daripada jabatan. Berikutnya adalah contoh yang baik. Tindakannya ini dapat menjadi contoh bagi pejabat publik lainnya untuk lebih berani mengambil keputusan yang sulit demi kepentingan yang lebih besar.
Agus Sumpeno lalu menanggapi bahwa Gus Miftah itu adalah temannya sejak yang bersangkutan belum menjadi apa-apa. “Gus Miftah itu kawanku sejak belum jadi apa-apa. Walau sudah minta maaf, tabiat buruknya itu tak akan bisa hilang. Itu sudah karakternya. Memang seperti itulah aslinya. Bahkan aslinya lebih parah. Kalau tidak kenal dia dari awal ya mungkin tak percaya kalau tabiat Miftah memang seperti itu,” ujarnya, menanggapi.
“Tahun 2010 kita ada di satu tim cabup Sleman waktu itu dan Miftah belum jadi apa-apa. Masih ada videonya saat kita bersama waktu itu. Mau lihat? Dan pondoknya itu juga bukan punya sendiri. Bantuan dari pengusaha kawanku juga namanya Agus juga karena erupsi Merapi. Dia cuma mengelola saja. Dia ceramah di Yogya sendiri malah tidak laku.. Heran ya di tempat lain kok terkenal,” tambahnya.
Sebelumnya, dalam sebuah ceramah, Gus Miftah mengolok-olok warga penjual es teh, Sunhaji, dengan menyebutnya goblok. Pernyataan ini kemudian memantik netizen pada dunia maya memberi reaksi negatif. Meskipun akhirnya Gus Miftah menyatakan permintaan maaf kepada Sunhaji, dan bahkan mengundurkan diri dari jabatan Utusan Khusus Presiden Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan, netizen tetap menyerangnya dengan beragam komentar.
Editor : Uways Alqadrie