Meski awalnya ditentang orangtua melanjutkan pendidikan tinggi jurusan seni, Elvito tak pernah berhenti berkarya. Mengawali karier sebagai pelatih akting, salah satunya film yang tembus 10 juta penonton, KKN di Desa Penari. Kini, dia jajal peran di film Racun Sangga. Film bioskop horor latar Kalimantan yang tayang hari ini.
RADEN RORO MIRA, Samarinda
ANAK kedua dari empat bersaudara itu memilih Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai wadah barunya menimba ilmu setelah lulus dari SMA 3 Samarinda pada 1999 lalu. Mengambil S-1 Penyutradaraan, dia makin mengenal luas dunia seni peran. Semasa kuliah, tawaran menjadi bintang iklan sudah berdatangan. Beberapa Elvito ladeni.
“Sebagai anak daerah, iklan itu bukan sesuatu yang gampang pasti. Ketika ditawarin juga merasa senang, karena mereka itu kayak hunting ke IKJ, cari-cari yang menurut mereka cocok,” beber perempuan yang karib disapa Elvi itu. Keseriusannya dalam dunia seni peran ternyata meruntuhkan hati sang bapak yang sempat menolak keras keinginannya kuliah seni.
“Jadi waktu iklanku tayang, abah (bapak) itu foto ternyata,” lanjutnya. Tahun terus berganti, terjunlah Elvi ke dunia industri. Diakui jika dia begitu mencintai profesinya yang di belakang layar. Setelah lulus, dia sempat mengajar akting di sanggar atau komunitas di Jakarta. Dari situlah, dia dikenal sebagai salah satu acting coach khusus anak-anak. Masih dari satu komunitas ke komunitas lain. “Ya masih belum industri sebenarnya, nah 2010 itu baru pertama kali terlibat untuk film layar lebar. Pertama kali diajak sama alm Yayu Unru, beliau yang buat saya nyemplung di industri layar lebar,” sambungnya.
Rekam jejaknya sebagai pelatih akting sudah banyak, mulai film Rindu Purnama pada 2010 yang disutradarai Mathias Muchus. Terbaru, dia didaulat sebagai pemain pada film horor berdasarkan kisah nyata yang berlatar Kalimantan, Racun Sangga. Seperti sebuah kebetulan, peran tersebut justru yang menghampirinya. "Awalnya, peran Harum ini akan dimainkan oleh penulis cerita horor ini, tapi terlalu muda. Jadi memang belum menemukan pemainnya. Soalnya memang harus bisa berbahasa daerah, bahasa Banjar.
Di dunia film itu ada istilah, peran akan menemukan pemainnya. Mungkin itu yang terjadi," ujar Elvi. Dia pun didapuk untuk memerankan Harum, dalam cerita, Harum dikisahkan adalah asli keturunan Kalimantan. Dia berperan sebagai dukun yang membantu proses untuk mengobati "racun" yang dialami oleh pemeran utama. Kurang lebih akumulasi satu bulan proses syuting.
Sebagai Harum, Elvi merasa bahwa ini adalah peran yang benar-benar berkesan. Meski bukan yang pertama sebagai pelakon, namun di film ini dia merasa seperti menemukan diri sendiri. Adegan demi adegan, Elvi berusaha maksimal. Ada beberapa adegan seperti ritual, membaca kalimat-kalimat hingga menari. "Jadi enggak sekadar cameo, tapi ini peran yang aku dikasih porsi lumayan. Belajar nyanyi juga. Bahkan saat ditawarin di awal untuk memainkan peran ini, aku enggak pikir dua kali. Alasan utamanya karena ini film berlatar tempatku, Kalimantan," paparnya.
Setidaknya ada lebih dari 20 scene yang dimainkan Elvi. Sebagai pemeran pendukung, itu termasuk banyak. Sepanjang kariernya dalam dunia layar lebar, yang bukan berangkat sebagai pemeran, ini adalah karakter terbaik. "Peran terbaik selama ini, karakter yang bikin aku jatuh cinta. Background story juga mirip-mirip sama aku. Bahkan ada golden scene menurutku, yang relate banget sama kehidupanku," jelasnya. Elvi menyebut akan terus berkarya di industri film. Termasuk jika ke depannya ada peluang untuk menjadi sutradara. (*)
Editor : Muhammad Rizki