KALTIMPOST.ID, Ukraina menghadapi salah satu serangan terbesar dari Rusia pada Jumat (13/12/2024).
Sebanyak 93 rudal dan 200 drone menghantam infrastruktur energi, menyebabkan pemadaman listrik di banyak wilayah, termasuk ibu kota Kyiv.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan ini sebagai teror untuk jutaan rakyatnya.
“Ini adalah salah satu serangan terberat yang pernah terjadi. Rusia mencoba menghancurkan jaringan energi kita,” ujar Zelensky melalui Telegram, Sabtu (14/12/2024).
Dalam serangan dahsyat ini, sistem pertahanan udara Ukraina berhasil mencegat 81 rudal yang diarahkan ke berbagai wilayah strategis.
Namun, kerusakan yang terjadi tetap meluas, memengaruhi stabilitas energi saat musim dingin semakin dekat.
Kementerian Pertahanan Rusia mengungkapkan bahwa serangan besar ini merupakan balasan atas serangan Ukraina pada Rabu sebelumnya.
Ukraina menggunakan sistem rudal jarak jauh ATACMS buatan Amerika Serikat untuk menyerang pangkalan udara di wilayah Rusia, Taganrog.
“Sebagai tanggapan atas penggunaan senjata jarak jauh Amerika, kami meluncurkan serangan besar terhadap infrastruktur energi Ukraina yang mendukung kompleks industri militernya,” kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan resmi.
Serangan Rusia ini memukul fasilitas bahan bakar dan energi utama, termasuk pembangkit listrik termal milik DTEK, perusahaan energi terbesar di Ukraina.
Serangan ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap stabilitas energi Ukraina. Menteri Energi Herman Halushchenko mengatakan bahwa teknisi listrik bekerja keras untuk meminimalkan dampak serangan.
Namun, ia memperingatkan bahwa penilaian penuh kerusakan hanya dapat dilakukan setelah situasi aman.
"Teknisi kami berusaha keras memulihkan jaringan listrik, tetapi 50% penduduk mungkin akan kehilangan akses energi," ungkap Halushchenko.
Baca Juga: Minimnya Recovery Jadi Kendala Borneo FC saat Menjamu Madura United
Pemadaman listrik telah dilaporkan di Kyiv, Odessa, dan wilayah lain. Bahkan di Ternopol, 50% penduduk saat ini hidup tanpa aliran listrik.
Di Kharkov, rudal dilaporkan terlihat menuju Dnepropetrovsk, lokasi pembangkit listrik tenaga air terbesar di Ukraina.
Zelensky kembali menyerukan respons global yang lebih kuat terhadap agresi Rusia.
“Serangan besar-besaran memerlukan reaksi besar-besaran. Ini satu-satunya cara untuk menghentikan teror,” tegasnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, juga meminta bantuan tambahan berupa sistem pertahanan udara dari negara-negara Barat.
“Rusia berusaha merampas energi kita. Kita harus merampas sarana terornya,” ujarnya sambil menyerukan pengiriman 20 sistem pertahanan udara baru seperti NASAMS, HAWK, dan IRIS-T.
Baca Juga: Gol Telat Gustavo Tocantins Buyarkan Kemenangan PSM Makassar
Namun, muncul ketidakpastian terkait dukungan Barat, terutama dengan pemerintahan Presiden terpilih AS Donald Trump yang akan datang.
Trump sebelumnya menyatakan ingin mengakhiri perang dan mempertimbangkan penghentian aliran bantuan militer ke Ukraina.
Media sosial dan laporan lokal mencatat ledakan terjadi di Odessa, Ivano-Frankovsk, dan wilayah lainnya.
Jet tempur Polandia bahkan terlihat terbang di dekat perbatasan sebagai langkah antisipasi.
Kementerian Pertahanan Rusia belum memberikan komentar tambahan terkait serangan ini.
Namun, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov telah memperingatkan bahwa tanggapan atas serangan Ukraina di Taganrog akan terjadi “dengan cara yang dianggap tepat.” (*)
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel
Editor : Dwi Puspitarini