KALTIMPOST.ID, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Nirwana Puri di Samarinda dikelola untuk menjadi rumah bagi para lansia yang telantar atau ditelantarkan.
Di sini, mereka mendapatkan perlindungan serta kegiatan pembinaan fisik dan mental yang tak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memberikan makna baru dalam hidup mereka.
Kepala UPTD PTSW Nirwana Puri, Sri Wahyuni menjelaskan panti ini memiliki tugas pokok memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lansia yang telantar dan ditelantarkan.
“Kami melayani lansia yang telantar, baik yang tidak punya keluarga atau yang ditelantarkan oleh keluarganya,” jelas Sri.
Baca Juga: Lansia Rentan Depresi, Tapi Jarang Disadari: Apa yang Salah?
Untuk bisa tinggal di panti ini, lansia harus memenuhi kriteria tertentu, seperti berusia di atas 60 tahun dan memiliki kondisi ekonomi yang miskin dan telantar.
Sebanyak 116 lansia dirawat di panti yang berlokasi di Jalan Mayjend Soetoyo, Samarinda.
Ada 17 wisma yang di dalamnya menampung 5-7 orang. “Jika memungkinkan tahun depan kuotanya akan ditambah,” ungkapnya.
Tidak hanya memberikan makanan dan tempat tinggal, panti ini juga mengadakan berbagai kegiatan pembinaan untuk lansia.
Setiap hari, dari Senin hingga Sabtu penghuni panti terlibat dalam berbagai macam kegiatan keagamaan, keterampilan, dan kegiatan fisik seperti senam, bimbingan psikiater dan layanan kesehatan.
Baca Juga: Ibarat Bom Waktu, Sakit Kepala Bisa Jadi Tanda Bahaya: Kenali Aneurisma Otak, Ancaman Tanpa Gejala
“Karena telantar, lansia yang datang ke sini kebanyakan cenderung menutup diri dan tidak tahu bagaimana bergaul dalam masyarakat. Kami ajarkan kembali etika berinteraksi dengan orang lain,” jelasnya.
Keterampilan yang diberikan banyak, mulai beternak ikan, menanam, rajut dan menjahit.
Salah satu program yang menarik adalah pembinaan pertanian hidroponik.
Penghuni panti diajarkan cara menanam sayuran hidroponik yang hasilnya tidak hanya berguna untuk kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga bisa dijual untuk mendukung kesejahteraan lansia yang bertanam.
Harian ini berkesempatan mewawancarai dua orang lansia yang berkegiatan menanam sayuran hidroponik.
Ada Sujud atau karib disapa Mbah (Sebutan hormat untuk sepuh dalam bahasa Jawa) Sujud, usianya sudah menginjak kepala 7 yakni 73 tahun.
Mbah Sujud sudah 5 tahun dirawat di panti ini. Dirinya mengaku masuk ke panti ini atas kemauan sendiri.
“Saya ini orang telantar, setahu saya di sini yang diterima hanya dua kategori lansia yang telantar dan ditelantarkan,” ujarnya.
Sebelum tinggal di panti, Mbah Sujud menjalani berbagai pekerjaan serabutan, mulai bertani, sopir hingga bekerja di perusahaan kayu.
Meski hidup mandiri, ia merasa usianya yang semakin senja membuatnya kesulitan untuk mencari pekerjaan lagi.
Baca Juga: Lansia Rentan Depresi, Tapi Jarang Disadari: Apa yang Salah?
Di sisi lain Mbah Sujud tidak punya keluarga. Tak ada yang merawatnya di masa tua.
Mempertimbangkan hal itu, mau tak mau dirinya mengajukan diri untuk masuk panti.
Meskipun terkadang hatinya sering bergejolak. Di panti, ia merasa tenang.
Setiap hari, ia mengikuti berbagai kegiatan seperti pengajian, olahraga dan menanam hidroponik.
“Menanam hidroponik ini hanya untuk mengisi waktu saja. Sebenarnya saya ingin mengomersialkan, hanya saja karena keterbatasan, jadi ya hanya sebatas bertanam saja. Hasilnya kalau terjual alhamdulillah, kadang juga dikonsumsi sesama penghuni di sini,” ujarnya.
Baca Juga: 10 Buah-buahan Diet Gula untuk Kesehatan Jantung, Kaya Serat dan Vitamin
Berbeda dengan Mbah Sujud yang masuk panti atas kemauan sendiri, Mbah Suparjo datang ke panti atas rekomendasi Dinas Sosial Balikpapan.
Sebelumnya, karena merasa sudah tidak mampu untuk hidup sendiri di usianya yang semakin senja Mbah Suparjo memutuskan untuk pulang ke Jawa.
“Masih ada sepupu sekali saya di Medan,” ungkap pria yang sudah menginjak usia 77 tahun tersebut.
Dengan niat itu, dia coba mengurus BPJS Kesehatan sebelum kembali. Saat mengurus BPJS, melihat kondisinya yang sudah renta dan sendirian dia direkomendasikan Dissos Balikpapan untuk masuk panti saja agar terjamin hidupnya.
“Kata mereka saya bisa kerja apa di Jawa nanti dan siapa yang akan mengurus saya,” katanya.
Suparjo sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali sepupu sekalinya yang ada di Medan dan sudah sepuh itu.
Istrinya meninggal saat dulu dirinya masih bekerja. Suparjo dan istrinya tidak memiliki anak, alhasil dirinya sebatang kara.
Sebelum terlantar, Suparjo pernah bekerja di banyak tempat. Dirinya melanglang buana ke seluruh pelosok Indonesia dengan bekerja di perusahaan asing.
Hasil yang didapatnya dia jadikan modal usaha ternak ayam. Malang tak dapat ditolak, dua kali usaha ayam dua-duanya bangkrut.
“Yang pertama tahun 1982, bangkrut karena isu siaran dari mahasiswa UGM yang menyatakan kalau ayam yang makan tikus itu haram, padahal sudah mau dekat Lebaran tidak orang yang berani makan ayam, usaha saya bangkrut. Yang kedua karena efek krisis moneter 1998, usaha saya kembali bangkrut,” ungkapnya.
Baca Juga: Anak Panah Sang Pemulung
Suparjo menjual sisa-sisa usahanya dan memutuskan untuk ke Balikpapan, mencari peruntungan lain.
Sayang, waktu kembali ke Balikpapan kesempatan untuk bekerja seperti dulu nihil, sampai umurnya mencapai 70 tahun.
Selama itu, Suparjo hanya mengandalkan berusaha tanam yang peruntungannya hanya mampu mengisi perutnya sehari-hari.
Karena punya pengalaman bertanam, ketika di panti dia coba isi kegiatan dengan menanam, ada sawi pakcoy dan selada.
Semua tanamannya tumbuh subur sebab keuletannya. Dari sana terkadang ketika ada kunjungan dari luar atau pegawai yang ingin membeli sayurnya dia jual dan jadi tambahan pemasukannya ketika di panti.
Baca Juga: Di Tempat yang Sama
Walau Suparjo sudah tinggal dengan nyaman di panti, dia bercerita terkadang masih besar keinginannya untuk pulang ke kampung halaman.
“Kalau ada rezeki saya mau ke Jawa,” sebutnya. Begitu pun dengan Sujud, masuk ke panti memang keinginannya tapi masih ada perasaan mengganjal, karena keputusan itu adalah pilihan terakhir, yang mau tidak mau harus diambilnya.
Senada dengan itu, Sri Wahyuni mengungkapkan dalam mengelola panti ini adalah meyakinkan lansia yang sering kali tidak ingin menerima kenyataan bahwa mereka harus tinggal di panti.
Perawatan memang sudah lumayan baik, tapi karena ketidakberdayaan para lansia ini terkadang mereka merasa terpuruk dan sedih kemudian berakhir depresi.
Selain itu, banyak di antara mereka yang merasa belum tua atau tidak bisa menerima bahwa di usia mereka yang senja pasti terjadi penurunan kesehatan yang mereka alami. (*)
Editor : Dwi Puspitarini