KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kaltim menjadi salah satu daerah penghasil sumber daya alam terbesar (SDA) di Indonesia. Batu bara, minyak dan gas bumi (migas) serta ribuan hektare perkebunan kelapa sawit jadi komoditas utama yang menopang struktur perekonomian. Mirisnya, dana bagi hasil yang dikucurkan pemerintah pusat masih ditemukan banyak ketimpangan.
Pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2024 masih didominasi oleh dua sektor utama, yakni batu bara dan migas. Ini memang sektor yang berperan besar dalam mendukung APBD. Namun, jika dilihat lebih dalam, struktur ekonomi Kaltim masih sangat bergantung pada sumber daya alam dan ini menjadi kendala utama dalam pencapaian kesejahteraan yang merata.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Mulawarman, Aji Sofyan Effendi mengatakan, faktor yang memperburuk keadaan ini adalah ketergantungan Kaltim pada sektor hulu (upstream) yang tidak mampu memberikan efek positif secara langsung terhadap masyarakat lokal.
Sebagai contoh, meskipun sektor batubara dan migas berkontribusi besar terhadap ekonomi Kaltim, keuntungan yang diperoleh sering kali tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat secara langsung. Benefit tersebut kebanyakan terdistribusi ke pemerintah pusat atau entitas bisnis besar yang tidak berbasis di Kaltim.
“Kalau kita memperdalam lebih jauh struktur ekonomi Kaltim, terlihat minyak dan gas bumi itu kan dikuasai pemerintah pusat, kembali ke Kaltim hanya dalam dana bagi hasil. Kemudian untuk batu bara juga seperti itu, kebanyakan industri penggalian Kaltim dikuasai oleh asing atau pengusaha nasional yang tidak bermukim di Kaltim, di sisi lain pada industri sawit juga demikian,” sebutnya.
Dari sana muncul fenomena "capital outflow". Kaltim hanya menerima dana bagi hasil yang nilainya tidak cukup untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat. "Sebagai contoh, minyak dan gas bumi yang dikuasai oleh pemerintah pusat hanya memberi bagian yang kecil kepada Kaltim.
Begitu juga dengan batubara dan kelapa sawit, yang sebagian besar pengelolaannya di tangan perusahaan asing atau pengusaha nasional yang tidak bermukim di Kaltim" jelasnya.
Menurut Aji, ini menyebabkan struktur perekonomian Kaltim yang berfokus pada sumber daya alam masih terjebak dalam lingkaran yang tidak membawa perubahan berarti bagi kesejahteraan masyarakat.
Editor : Uways Alqadrie