Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kejanggalan Fatal di Kecelakaan Jeju Air: Benarkah Hanya Birdstrike Penyebabnya?

Dwi Puspitarini • Minggu, 29 Desember 2024 | 19:13 WIB

 

Tembok pagar beton yang hancur menyisakan banyak pertanyaan dari kecelakaan tragis yang menimpa pesawat Jeju Air Boeing 737-800 di Bandara Internasional Muan.
Tembok pagar beton yang hancur menyisakan banyak pertanyaan dari kecelakaan tragis yang menimpa pesawat Jeju Air Boeing 737-800 di Bandara Internasional Muan.

 

KALTIMPOST.ID, Kecelakaan pesawat Boeing 737-800 milik Jeju Air di Bandara Internasional Muan, Korea Selatan, menggemparkan dunia penerbangan.

Data terbaru menunjukkan jumlah korban tewas telah mencapai 176 orang, dari total 181 penumpang dan awak di dalamnya.

Insiden ini terjadi pada Minggu pagi, 29 Desember 2024, dan meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban.

Menurut pejabat Korea Selatan, hingga saat ini baru 22 korban yang berhasil diidentifikasi.

Dua awak pesawat berhasil diselamatkan dari reruntuhan dan langsung dilarikan ke rumah sakit, sementara tiga lainnya masih belum ditemukan. Tim penyelamat terus bekerja tanpa lelah untuk mencari korban yang hilang.

 Baca Juga: Ini Penyebab Pesawat Tabrak Pagar Bandara! Sebelum Menewaskan 47 Penumpang, Jeju Air 2216 Diduga Tabrakan dengan Burung

Berdasarkan analisis awal, kecelakaan ini diduga dipicu oleh birdstrike atau tabrakan pesawat dengan kawanan burung saat melakukan pendekatan pertama ke landasan pacu.

Informasi ini telah dikonfirmasi oleh pihak berwenang dan terlihat dalam video yang beredar.

Birdstrike tersebut terjadi sekitar satu menit sebelum pilot mendeklarasikan keadaan darurat (mayday).

Namun, pakar penerbangan Gerry Soejatman menegaskan bahwa birdstrike seharusnya tidak menyebabkan kecelakaan fatal.

"Birdstrike adalah hal yang biasa dalam penerbangan dan biasanya dapat diatasi dengan langkah-langkah standar," tulis Gerry dalam analisisnya di media sosial. Jadi, apa yang membuat kecelakaan ini begitu fatal?

 Baca Juga: Konvensi Media Siber, Wadah Diskusi Perkembangan Media Lokal

Dalam video pendaratan yang viral, sejumlah kejanggalan terungkap. Pesawat terlihat mendarat tanpa roda dengan kecepatan yang sangat tinggi, antara 265 hingga 280 km per jam.

Data juga menunjukkan bahwa hanya satu thrust reverser (alat untuk mengurangi kecepatan pesawat) yang berfungsi, sedangkan speedbrake dan flaps tidak dikerahkan sama sekali.

"Tanpa flaps, speedbrake, dan landing gear, pesawat nyaris tidak memiliki daya deselerasi," ujar Gerry.

Akibatnya, pesawat meluncur melewati landasan sepanjang 2.800 meter, menabrak gundukan beton yang menjadi lokasi antena localizer untuk sistem pendaratan instrumen (ILS), sebelum akhirnya hancur berkeping-keping.

 Baca Juga: 53 Sekolah dan Eks Rumah Sakit Jadi Tempat Andalan di Haul Guru Sekumpul, Begini Persiapannya

Lebih lanjut, analisis Gerry mengindikasikan kemungkinan birdstrike mengenai kedua mesin pesawat.

Hal ini jarang terjadi, tetapi dapat menjelaskan mengapa pilot memutuskan untuk segera mendarat setelah melakukan go-around (pendekatan ulang).

Jika kedua mesin terganggu performanya, situasinya memang menjadi darurat yang memerlukan pendaratan segera.

Namun, pertanyaan besar tetap ada: mengapa flaps dan landing gear tidak dikerahkan? Menurut Gerry, pilot seharusnya masih bisa menurunkan flaps menggunakan sistem alternatif, meskipun memakan waktu sekitar dua menit.

Begitu pula dengan landing gear yang dapat diturunkan secara manual menggunakan gaya gravitasi.

 Baca Juga: Second House Cafe, Pilihan Tempat Nongkrong Nyaman di Tanah Grogot

Dari analisis data kecepatan, diketahui bahwa pesawat menghantam gundukan beton dengan kecepatan rata-rata 147 knots atau sekitar 273 km per jam.

Dampaknya sangat besar, hingga menyebabkan disintegrasi kokpit dan bagian depan pesawat.

Kecepatan ini berada di ambang batas yang dianggap "hampir tidak dapat diselamatkan" (barely survivable impact), sehingga sebagian besar penumpang tidak mampu bertahan.

Kecelakaan ini memicu banyak spekulasi di kalangan masyarakat dan pakar penerbangan. Namun, Gerry mengingatkan pentingnya menunggu hasil investigasi resmi sebelum menyalahkan siapa pun.

Black box atau perekam data penerbangan akan menjadi kunci utama untuk mengungkap detail lebih lanjut, termasuk kondisi mesin dan keputusan yang diambil oleh awak pesawat.

 Baca Juga: Pesta Tahun Baru di Rumah? 5 Game Klasik Ini Bikin Malammu Gak Bakal Mati Gaya!

"Analisis sementara ini hanya gambaran awal. Untuk informasi yang lebih akurat, kita harus menunggu laporan resmi dari tim investigasi," tegasnya. (*)

Editor : Dwi Puspitarini
#Kegagalan Sistem #Jeju Air #human error #Birdstrike #kejanggalan #Gerry Soejatman #korea selatan #Bandara Muan