KALTIMPOST.ID, Presiden kembali membuat gebrakan kontroversial dengan menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Paris pada Senin (20/1/2025), hanya beberapa jam setelah pelantikannya.
Keputusan ini, yang mengulang langkah serupa di masa pemerintahannya, memicu reaksi keras dari komunitas internasional.
Alasannya tetap sama: “Kesepakatan ini hanya membuang uang rakyat Amerika untuk negara-negara yang tidak membutuhkan bantuan,” demikian bunyi perintah eksekutifnya.
Reaksi dari para pemimpin dunia dan ahli iklim pun beragam. Laurence Tubiana, arsitek utama Perjanjian Paris, menyebut tindakan ini sebagai “penyesalan besar,” meskipun ia optimis bahwa “transisi ke energi bersih sudah tak terbendung.”
Baca Juga: Efek Trump: AS Resmi Tinggalkan WHO, Dana dan Pengaruh Global Terancam!
Namun, kekhawatiran juga muncul terkait dampak kebijakan ini terhadap posisi global AS.
Gina McCarthy, mantan penasihat iklim AS, memperingatkan, “Jika AS ingin memimpin, ini langkah yang salah.”
Lebih lanjut, keluarnya AS dari perjanjian berpotensi merugikan posisinya dalam persaingan ekonomi global, terutama dengan China di pasar energi bersih.
Li Shuo dari Asia Society Policy Institute mengatakan, “China bisa menang besar di sini.”
PBB tetap berharap bahwa aktor non-pemerintah di AS, seperti kota-kota dan bisnis, akan terus mendukung aksi iklim.
“Kepemimpinan kolektif sangat penting,” kata juru bicara PBB, Florencia Soto Nino. (*)
Editor : Dwi Puspitarini