KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Perjalanan 12 tahun jadi bukti, bahwa proses tidak mengkhianati hasil. Kampoeng Timoer menjadi pelopor oleh-oleh khas olahan kepiting sejak 2012. Ide sederhana yang lahir karena harus bertahan hidup.
Nama Kampoeng Timur sudah tidak asing di telinga warga Kota Minyak. Menyediakan oleh-oleh khas yakni peyek dan abon kepiting. Bermula dari ide Filsa Budi Ambia selaku founder. Sebelum konsisten lewat usaha perikanan, dia sudah berkali-kali mencoba peruntungan lewat usaha lain.
Semua bermula saat Filsa terkena dampak pengurangan saat bekerja di pertambangan pada 2008. “Jadi itu om saya, nah saya baru gabung itu 2013. Karena memang usahanya lahir sekitar akhir 2012. Saya coba bantu-bantu sampai akhirnya menetap di Balikpapan sejak 2014,” ungkap Gilang Ma’ruf Fauji selaku co-founder.
Diceritakan jika saat itu banyak keluhan dari petani kepiting. Cukup banyak kepiting yang tidak jadi dibeli perusahaan karena kurang memenuhi kualitas ekspor. Selain itu, Kalimantan Timur juga terkenal dengan komoditas kepiting nan melimpah.
Dari sana, ide membuat peyek lahir. Namun tak semudah kelihatannya. Bagaimana membuat peyek yang bisa mekar dengan tekstur krispi jadi tantangan. Selama lima bulan, belajar membuat peyek yang sesuai harapan.
"Dulu itu belajar untuk bikin tekstur renyahnya peyek. Belajarnya sama perantau asal Jawa juga yang jualan peyek. Tapi dia produksi itu subuh. Jadi subuh-subuh itu belajar menggoreng saja selama dua jam, begitu terus kurang lebih lima bulan,” kata dia.
Proses percobaan yang panjang dan melelahkan akhirnya membuahkan hasil. Peyek kepiting dengan tekstur renyah dan rasa yang khas berhasil memikat pasar. Tidak hanya itu, pihaknya juga terus berinovasi dengan menghadirkan berbagai produk olahan seafood lainnya seperti abon rajungan, kerupuk ikan, dan lainnya.
Beruntung, saat pertama dipasarkan kualitas rasanya langsung bisa diterima lidah orang Balikpapan. Sehingga yang semula saat Gilang menitipkan produk hanya 10 bungkus, langsung ludes dan permintaan kuantitas naik perlahan. Walau diakui, saat itu pengemasannya sangat sederhana. Dibungkus plastik dan diberi stiker.
Tekad untuk maju membuat mereka terus belajar. Dengan cepat, memenuhi berbagai syarat usaha. Bahkan mengurus ISO 9001:2008 untuk manajemen mutu. Pengurusan hak kekayaan intelektual (HAKI) untuk merek dagang. Lalu juga sertifikat kelayakan pengolahan (SKP) karena telah menerapkan cara pengolahan ikan yang baik (good manufacturing practices/GMP), juga telah memenuhi persyaratan prosedur operasi sanitasi standar.
Dimana pada zaman itu yakni 2014, masih belum banyak pelaku usaha yang melek untuk melengkapi syarat pengembangan usaha. Bahkan, Gilang juga memanfaatkan media sosial sebaik mungkin.
“Maksimalkan semua sarana atau media promosi, termasuk pernah juga mengiklan di koran. Dari situ orang mulai banyak tahu, perlahan mulai dikenal,” beber pria kelahiran 1998 itu.
Bahan baku diambil dari petambak atau nelayan kepiting tangkap lokal. Bekerjasama dengan nelayan asal Balikpapan, utamanya daerah Manggar dan Teritip. Lalu Jenebora hingga Muara Badak.
“Dulu beli daging kepiting masih harga Rp 30 ribu. Sekitar 2012-2015, harga kepiting masih turun, melimpah juga. Produksi setiap hari, sekitar 36 kilogram adonan. Paling sedikit sehari hasilkan 1.500 pcs sampai 3.000an. Tergantung pesanan,” jabarnya.
Legalitas usaha yang lengkap tersebut juga diakui merupakan bekal untuk melaju ke pasar internasional. Cita-cita besar yang sedang diupayakan. Mulai dari aktif mengikuti pameran, bekerjasama dengan atase perdagangan atau Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) berbagai negara.
“Sudah pernah kirim ke luar, ekspor dalam kuantitas sedikit. Pernah ke Malaysia, Taiwan, pernah juga dengan salah satu trader asal Tiongkok. Makanya ini pelan-pelan mau buka pasar,” beber Gilang.
Kini, Kampoeng Timoer bekerjasama dengan 150 mitra, termasuk perhotelan, toko oleh-oleh hingga retail. Menjaga mitra atau reseller adalah kunci keberhasilan usaha. Diakui jika pihaknya menjanjikan profit 35-112 persen.
“Kenapa sampai 112 persen, itu tergantung lokasi usaha. Misal di hotel atau bandara, itu kan enggak mungkin harga sama kayak di toko biasa. Untuk reseller lokal juga ada tukar guling, sehingga produk tetap fresh,” ungkapnya.
Perjalanan tidak selalu mulus. Berbagai tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku, persaingan bisnis, hingga pandemi Covid-19 pernah mereka hadapi. Namun, dengan semangat pantang menyerah dan inovasi yang terus dilakukan. "Kenapa bisa survive saat masa pandemi, karena pernah berada di posisi paling bawah dibanding itu,” sebutnya.
Salah satu kunci keberhasilan yakni fokus pada kualitas produk dan pengembangan jaringan distribusi. Ke depan, dia memiliki target untuk semakin memperkuat posisi sebagai merek oleh-oleh khas Kalimantan Timur. Terus melakukan inovasi produk. “Di tahun 2025 ini, sedang kami siapkan untuk produk baru,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo