KALTIMPOST.ID-Setelah dilantik, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni dan Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris membeberkan program 100 hari kepemimpinan mereka. Agus mengatakan ada 17 program yang akan dijalankan.
Pada aspek pendidikan, mereka akan meminta pelajar untuk menjalankan salat Duha pada 06.00 Wita.
Malam harinya pelajar harus menaati jam belajar. Mulai pukul 19.00 hingga 21.00 Wita. “Khusus pelajar yang non-muslim menyesuaikan,” kata Agus.
Bagi mahasiswa atau mahasiswi yang berkuliah di Bontang, Neni-AH berencana membebaskan uang kuliah tunggal (UKT).
Di Bontang terdapat empat perguruan tinggi swasta yakni Stitek, STTIB, Universitas Trunajaya, dan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syamsul Ma'arif.
“Dalam 100 hari ini kami akan susun regulasinya. Kaitan dengan penggunaan APBD harus ada landasan aturannya,” ucpanya.
Setelah penyusunan regulasi rampung, jika anggaran setelah mengalami pergeseran dipandang cukup maka diberlakukan. Tetapi kalau tidak, maka akan dianggarkan di APBD perubahan.
“Landasan ini penting supaya ketika ada pemeriksaan baik dari inspektorat maupun BPK maka tidak menyalahi,” tutur dia.
Adapun mahasiswa atau mahasiswi Bontang yang kuliah di luar, bisa mendapatkan keringanan melalui beasiswa. Termasuk bagi ASN yang menempuh pendidikan jenjang S-1 maupun S-2.
Sementara untuk sektor keagamaan, Neni-AH juga akan menganjurkan puasa Senin-Kamis bagi yang beragama muslim.
Kemudian menjalankan salat Subuh berjamaah dan mendorong bagi penggiat agama lain untuk menghafal kitab suci.
Neni-AH juga akan memberikan makanan bergizi gratis kepada balita di posyandu. Program itu erat kaitannya dengan penanganan stunting.
Tujuannya agar penderita stunting di Bontang dapat ditekan. “Pemberian makanan bergizi gratis ini juga untuk ibu hamil,” terangnya.
Puskesmas juga wajib melakukan kunjungan ke sekolah. Program itu diperlukan agar sosialisasi kesehatan kepada pelajar terus diberikan dan tidak putus.
Khusus warga yang berulang tahun, bisa mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis.
AH membenarkan itu karena merupakan program pemerintah pusat. “Daerah pada dasarnya mendukung total,” sebutnya.
Neni-AH juga akan menaikkan insentif bagi penggiat agama, RT, dan guru SMA swasta sederajat.
Nominalnya di angka Rp 2 juta tiap bulannya. Bagi lansia juga direncanakan mendapatkan bantuan sekitar Rp 300-500 ribu tiap bulannya.
Program itu dalam rangka menjadikan Bontang zero kemiskinan ekstrem.
Pada sektor ketenagakerjaan, Neni-AH ingin mengambil alih peran balai latihan kerja (BLK).
Upaya komunikasi pun dilakukan dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim.
Ia berharap BLK agar berdaya guna dan fungsi untuk menjawab apa kualifikasi keahlian tenaga kerja di Bontang.
“Minimal kami sudah komunikasi dengan gubernur. Supaya kami yang menyusun rancangan program BLK dalam setahun,” ungkapnya.
Itu mengingat, pemkot yang mengerti posisi kerja apa saja yang diperlukan oleh perusahaan di Bontang.
Sekaligus ada rencana Neni-AH menyalurkan tenaga kerja swasta atau pemerintah ke negara tetangga yang memerlukan tenaga kerja skill. “Walaupun laporan tetap kami sampaikan ke Disnakertrans,” jelasnya.
Bidang lingkungan, pasangan yang sebelumnya diusung oleh koalisi gemuk itu juga akan pengadaan kendaraan pengangkut sampah tiap RT. Tujuannya untuk menciptakan sanitasi dan lingkungan bersih.
Ia menjelaskan biaya itu sudah masuk di pergeseran. Termasuk dengan pemberian honor bagi petugas pengangkut sampah.
Program Jumat bersih juga bakal dieksekusi kembali. Kepala daerah bakal turun sampai pejabat di tingkat kelurahan secara serentak.
Harapannya melalui program itu memberikan edukasi kepada masyarakat. Pentingnya bersih baik di dalam maupun luar rumah. Nantinya akan mengajak forum RT hingga kelompok swadaya masyarakat (KSM).
“Pemerintah harus bisa menjadi ujung tombak dalam menciptakan lingkungan bersih. Minimal setiap Jumat, mana RT yang ada laporan area paritnya buntu kita menyasar itu untuk turun membersihkan,” bebernya.
Tak hanya pengadaan kendaraan dan pembayaran petugas, pemkot juga bakal mengadakan bank sampah tiap RT.
Selain itu, Neni-AH juga fokus terhadap normalisasi sungai. Utamanya di badan sungai yang mengalami pendangkalan akibat tumpukan sedimentasi.
Terakhir ialah program Bontang Terang. Wujudnya berupa pemberian fasilitas penerangan baik di jalan provinsi, kota, maupun dalam gang.
Sarana penerangan dikatakan politikus Gerindra itu sangat penting. Mengingat belakangan ini, aksi pencurian di Bontang mengalami peningkatan.
“Dalam menciptakan kamtibmas. Orang yang miliki niat tidak baik kalau kondisinya terang akan berpikir,” ulasnya.
Pemkot juga akan mengaktifkan kembali ronda malam di lingkungan masyarakat. Termasuk petugas trantib juga harus berkeliling.
Disinggung mengenai langkah efisiensi anggaran pemerintah pusat, AH menyebut program yang disusun itu tidak terpengaruh. Mengingat program tersebut langsung berkaitan dengan sektor real masyarakat.
“Efisiensi anggaran yang menjadi kebijakan presiden tidak mengganggu apa yang sudah kami rumuskan. Karena hanya pada wilayah operasional,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.