KALTIMPOST.ID, Satu tradisi yang paling mencolok pada Ramadan ialah memakai pakaian baru saat Lebaran. Tradisi ini tentu menggiurkan bagi para pemilik bisnis busana untuk berburu cuan.
Salah satu pebisnis lokal yang memanfaatkan momen Ramadan tahun ini adalah Hatim Rahmat.
Pria yang terkenal sebagai master of ceremony (mc) dari Samarinda ini melihat peluang yang cukup besar dari busana khusus pria khususnya pakaian muslim.
Awalnya Hatim hanya berjualan parfum dan jam tangan. Usaha itu dia bangun pada 2021 yang diberi nama Harat.
Setelah bisnis parfum dan jamnya sukses, Hatim beranikan diri merambah ke bisnis pakaian. Di awal, Hatim coba-coba jual gamis pria yang dia bawa dari Mekkah setelah menunaikan umrah.
Melihat minat yang tinggi dari masyarakat, akhirnya Hatim coba buat brand sendiri. Hatim fokus jual gamis pria dan mengedepankan kenyamanan pemakainya. Termasuk Ramadan tahun ini.
“Desain tahun ini sesuai ekspektasiku. Sebelumnya aku merasa belum puas. Ada kurang ini dan itu karena aku membandingkan dengan brand dari luar negeri. Karena baru dapat vendor yang pas tahun ini, aku dengan bangga bisa bilang kalau Harat bisa menjadi kebanggan warga Samarinda. Aku juga lebih percaya diri saat aku menjualnya dan ketika orang lain menggunakannya,” sebut Hatim.
Berbicara tentang tren busana pria, menurutnya cenderung lebih stabil dan tidak banyak berubah setiap tahun.
Berbeda dengan tren busana wanita yang terus perubahannya cukup masif dari waktu ke waktu. Busana pria cenderung mengutamakan kesederhanaan dan kenyamanan.
“Untuk pria, pilihan warna jarang sekali menggunakan warna terang atau mencolok. Tahun ini, warna-warna gelap masih mendominasi. Salah satu warna yang aku tonjolkan tahun ini adalah burgundy. Tapi selain burgundy warna lain juga aku hadirkan seperti warna abu tua dengan sentuhan sedikit warna ungu, abu rokok, biru muda dan biru tua,” paparnya.
Hatim juga mengakui, biru tua atau navy selalu jadi primadona tiap tahunnya. Tak ketinggalan warna-warna dasar seperti hitam dan putih juga selalu jadi incaran.
“Navy tetap menjadi primadona setiap tahunnya. Namun tahun ini saya ingin memperkenalkan warna burgundy dan abu rokok sebagai pilihan yang lebih segar, namun tetap elegan dan pas untuk kulit Asia,” jelasnya.
Hatim menekankan, meski ada pilihan busana dengan warna cerah yang lebih penting adalah kenyamanan pria dalam berbusana, terutama untuk beribadah.
“Kami menyesuaikan desain agar lebih nyaman, baik saat beribadah maupun beraktivitas sehari-hari,” terangnya.
Desainnya mengutamakan kenyamanan, potongan yang pas di tubuh. Untuk bahan kainnya, Hatim memilih premium polyester, bahan ini bagian luarnya tampak shiny dengan motif embos.
“Namun, di dalamnya kain di-mix dengan katun. Jadi, lebih adem dan lembut dipakai,” tambah Hatim.
Selain itu, Hatim menjelaskan, kualitas jahitan produknya juga rapi, pilihan kancing pun mewah dan elegan.
Selain bahannya yang nyaman, desain bagian leher yang dipertimbangkan dan diperhatikan sebaik mungkin, agar nyaman bagi pria dengan double chin atau yang berjambang.
Untuk harganya, per lembar dihargai Rp 500-750 ribu. Saat ini Harat juga sudah memiliki HAKI pada 2024. Ini membuktikan keseriusan Hatim atas produknya.
Berbicara mengenai kinerja penjualan, tahun ini Hatim tetap optimis penjualannya memenuhi target. Walaupun di sisi lain dia khawatir karena tahun ini daya beli melesu.
“Kalau saya lihat dari semua bisnis perhotelan, retail, bahkan makanan tidak semasif tahun lalu. Tapi saya tetap berharap Harat penjualannya tetap ramai,” ungkapnya.
Persiapan momen Ramadan ini telah dirancang jauh hari, bahkan setahun sebelumnya.
Hatim mengakui lepas Ramadan tahun 2024 hasil penjualan langsung dia putar sebagai modal untuk produksi baju Ramadan 2025.
“Jadi enggak bisa kalau persiapannya 2-3 bulan saja pasti enggak maksimal,” ucapnya.
Untuk meningkatkan penjualan, Hatim membuka outlet bazar di Atrium BIGmall Samarinda yang dia buka selama 20 hari dari 10-30 Maret.
Selain membuka outline offline, Hatim juga hadirkan penjualan online via TikTok dan Shopee untuk pembelian dari luar daerah.
Editor : Hernawati