Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Analis Ungkap Beberapa Faktor di Balik Anjloknya IHSG, Investor Harus Sabar Menanti Kepastian Suku Bunga

Thomas Dwi Priyandoko • Rabu, 19 Maret 2025 | 02:30 WIB

 

 

Ilustrasi IHSG yang merah pada Selasa, 18 Maret 2025.
Ilustrasi IHSG yang merah pada Selasa, 18 Maret 2025.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Ada yang janggal di pasar modal Indonesia. Saat bursa global menghijau, IHSG justru ambruk hingga lebih dari 7 persen dan memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menekan rem darurat — trading halt. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi?

Koreksi tajam yang berlangsung sejak pagi hari, Senin (18/3), menandai salah satu hari tergelap IHSG sejak pandemi 2020. Dalam 10 menit pertama, indeks langsung terjun 77 poin. Dan saat mencapai titik kritis minus 5,02 persen di level 6.146, BEI menghentikan sementara perdagangan.

Namun, kondisi justru memburuk usai dibuka kembali. IHSG sempat menyentuh 6.024,69 sebelum menutup sesi di 6.223,38, kehilangan 395 poin atau 3,84 persen.

“Yang terjadi bukan hanya koreksi teknikal biasa, tapi alarm sistemik yang menggambarkan krisis kepercayaan pasar, baik terhadap arah kebijakan fiskal maupun stabilitas ekonomi jangka pendek,” kata analis pasar modal Wawan Hendrayana.

Baca Juga: Layanan Purna Jual Dimaksimalkan Sambut Mudik Lebaran

Defisit APBN Jadi Biang Keladi?
Kunci kekhawatiran investor bermula dari pengumuman Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang menyatakan APBN Februari 2025 defisit Rp31,2 triliun, berbanding terbalik dengan surplus pada Februari 2024.

Kinerja pendapatan negara yang stagnan, serta meningkatnya belanja negara, memberi sinyal bahwa fundamental fiskal tengah tertekan.

“Pasar melihat defisit sebagai sinyal pelemahan fiskal. Ini menciptakan efek domino: investor ragu, dana asing kabur,” tambah Wawan.

Proyek Ambisius, Tapi Mengundang Ketakutan
Pemerintah juga sedang mendorong lahirnya Danantara — badan investasi baru yang menggandeng bank-bank pelat merah untuk mendanai proyek-proyek besar, termasuk pembiayaan 3 juta rumah dan koperasi Merah Putih.

Namun, alih-alih disambut positif, investor justru mempertanyakan risiko tersembunyi di balik program ambisius ini.

“Pasar trauma dengan proyek BUMN yang dulu tampak menjanjikan, tapi akhirnya justru menjerumuskan ke utang dan kerugian,” ujar analis Hans Kwee.

Nama-nama seperti Istaka Karya, Waskita Karya, hingga Adhi Karya, yang kini dibayangi utang dan gagal bayar, masih membekas kuat di benak investor.

Baca Juga: Sri Mulyani Akan Mundur? DPR Buka Suara di Tengah Gonjang-Ganjing Pasar Saham

Sinyal Bahaya atau Peluang Tersembunyi?
Aksi jual besar-besaran memang menekan indeks, tapi bagi sebagian investor kawakan, momen seperti ini justru jadi alarm peluang. Saat saham-saham berfundamental kuat ikut terseret turun, pertanyaan besarnya: apakah ini saat yang tepat untuk masuk?

“Dalam jangka pendek mungkin masih penuh tekanan, tapi di balik kepanikan, bisa jadi ada saham-saham berkualitas yang sedang diskon besar-besaran,” ujar Wawan.

Meski begitu, pasar masih menanti kepastian dari dua hal besar pekan ini: keputusan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia. Sampai ada kejelasan, strategi investor tetap sama: tahan napas, pegang cash, dan amati situasi.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#bursa efek indonesia #bei #ihsg anjlok